BERITA TERKINI
Pameran Re:Born di Museum Nasional Istana Korea Tampilkan Proses Konservasi Warisan Budaya

Pameran Re:Born di Museum Nasional Istana Korea Tampilkan Proses Konservasi Warisan Budaya

Museum Nasional Istana Korea menggelar pameran khusus bertajuk Re:Born, Connecting Time Through Conservation Science yang menyoroti proses konservasi warisan budaya melalui pendekatan ilmiah. Berlokasi di kawasan utama Istana Gyeongbokgung, pameran ini berlangsung pada 3 Desember 2025 hingga 1 Februari 2026, sekaligus menandai 20 tahun perjalanan museum dalam bidang ilmu konservasi sejak dibuka pada 2005.

Pameran ini menghadirkan sisi konservasi yang jarang terlihat publik. Konservasi ditampilkan bukan sebagai upaya mengembalikan benda ke rupa semula, melainkan sebagai praktik ilmiah untuk memperpanjang usia artefak dan menjembatani nilai warisan budaya ke masa depan. Pameran dibagi ke dalam tiga bagian utama yang masing-masing diberi tema laboratorium.

Bagian pertama, Lab 1: Extending Time, menampilkan tirai manik-manik yang diduga berasal dari era Kekaisaran Korea (1897–1910). Tirai berpola geometris dengan karakter bermakna kebahagiaan ganda itu mengalami kerusakan serius pada benang penyangga serta kehilangan sejumlah manik. Artefak tersebut ditampilkan dalam kondisi masih menjalani perawatan dan belum direstorasi secara sempurna—sebuah situasi yang tidak lazim karena benda yang masih berada di tengah proses konservasi jarang diperlihatkan kepada publik. Melalui penayangan kondisi apa adanya, pameran berupaya memperlihatkan pengambilan keputusan serta pertimbangan ilmiah yang menyertai proses konservasi.

Selanjutnya, Lab 2: Illuminating Time berfokus pada penelitian ilmiah untuk mengungkap asal-usul dan teknik pembuatan artefak. Salah satu sorotan adalah kotak lak dari era Kerajaan Goryeo (918–1392) yang dipulangkan dari Jepang pada 2023. Melalui pemindaian sinar-X dan analisis material, lapisan-lapisan tersembunyi serta teknik pengerjaan yang rumit berhasil diungkap.

Bagian ketiga, Lab 3: Reviving Time, menampilkan restorasi digital potret Raja Taejo, pendiri Dinasti Joseon (1392–1910). Dari dua versi potret yang tersisa, salah satunya dalam kondisi rusak sebagian. Tim konservasi memanfaatkan foto pelat kaca dari era 1910-an serta catatan pembanding untuk merekonstruksi citra secara digital. Proses yang pertama kali dilakukan pada 2013 ini dijelaskan lebih rinci dalam pameran, memperlihatkan bagaimana potongan sejarah dirangkai kembali.

Pameran juga menghadirkan elemen interaktif. Di setiap lab, pengunjung dapat mengumpulkan stempel hingga membentuk kata REBORN dengan total enam stempel. Sebelum mengecap stempel pada penanda buku, pengunjung diminta memilih antara dua pandangan terkait konservasi di beberapa sudut yang tersebar di ketiga lab.

Pilihan pengunjung kemudian dibawa ke bagian epilog. Penanda buku yang telah diberi stempel dipindai dan dianalisis untuk membaca kecenderungan pengunjung dalam memandang praktik konservasi. Dari pemindaian tersebut, pengunjung memperoleh gambaran tentang pendekatan konservasi yang paling dekat dengan cara berpikir mereka. Hasil pemindaian juga menentukan stempel terakhir untuk melengkapi kata REBORN melalui tiga opsi yang terinspirasi dari segel kerajaan, yakni Segel Perak, Naga, dan Kura-kura.