BERITA TERKINI
Pameran “Satu Kata Vol. 2” Soroti Menggambar sebagai Ruang Resiliensi dan Pemulihan

Pameran “Satu Kata Vol. 2” Soroti Menggambar sebagai Ruang Resiliensi dan Pemulihan

Pameran seni “Satu Kata Vol. 2” digelar dalam rangka memperingati Hari Indonesia Menggambar. Dalam kunjungan observasi pada Rabu, 20 Mei 2026, pameran ini terlihat tidak hanya berpusat di Jakarta, tetapi juga memiliki titik “mercusuar” di sejumlah kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Kehadiran beberapa titik pameran tersebut menandai berkembangnya praktik menggambar sebagai gerakan kolektif yang melibatkan komunitas seni dari berbagai daerah.

Tema besar yang diangkat berfokus pada kesehatan mental, khususnya resiliensi—kemampuan untuk bangkit dari pengalaman sulit, trauma, tekanan hidup, maupun keterpurukan emosional. Tema ini terasa dekat dengan kondisi masyarakat yang hidup di tengah tekanan sosial, akademik, ekonomi, serta laju perkembangan digital yang cepat. Melalui karya-karya yang ditampilkan, menggambar tampak menjadi saluran untuk menyampaikan emosi yang tidak selalu mudah diungkapkan lewat kata-kata.

Dalam sesi pemaparan pameran, disampaikan bahwa menggambar merupakan salah satu bentuk komunikasi manusia yang paling awal. Jauh sebelum manusia mengenal tulisan dan budaya tekstual, budaya visual telah hadir, salah satunya melalui lukisan di dinding gua prasejarah. Gambar-gambar tersebut merekam hewan, aktivitas berburu, simbol ketakutan, harapan, hingga penanda keberadaan manusia. Pada masa itu, gambar dipahami bukan sekadar dekorasi, melainkan ekspresi dan cara membaca lingkungan sekitar.

Gagasan tersebut memberi konteks bahwa aktivitas menggambar memiliki kedekatan dengan kehidupan manusia sejak awal peradaban. Hingga kini, gambar tetap digunakan untuk menyampaikan ide, emosi, maupun pengalaman personal. Dalam perkembangan kontemporer, praktik menggambar juga meluas ke beragam bentuk, mulai dari ilustrasi digital, sketsa urban, mural, komik, hingga seni instalasi berbasis visual.

Selama observasi, beragam pendekatan visual tampak menonjol dalam karya peserta. Sejumlah karya menggunakan garis tegas dan ekspresif yang memunculkan kesan emosi kuat. Sebagian lain memilih garis tipis dan repetitif yang menghadirkan suasana tenang dan reflektif. Ada pula karya yang terlihat spontan dengan komposisi tidak terlalu teratur, namun justru memunculkan kesan lebih jujur dan personal.

Pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa garis dalam seni rupa tidak hanya berfungsi sebagai elemen teknis. Garis dapat menjadi representasi emosi sekaligus karakter pembuatnya. Garis yang kasar dan cepat dapat terbaca sebagai kegelisahan atau ketegangan, sementara garis yang halus dan stabil dapat memantulkan ketenangan maupun kontrol diri. Dalam konteks ini, gambar tidak hanya dipahami sebagai hasil visual, tetapi juga rekaman pengalaman psikologis.

Keragaman juga terlihat dari media yang digunakan, mulai dari pensil, tinta, cat air, hingga media campuran. Perbedaan media memengaruhi karakter visual karya. Tinta, misalnya, menghadirkan kesan spontan dan tegas karena sulit dihapus, sedangkan pensil memberi ruang eksplorasi yang lebih fleksibel. Variasi ini menunjukkan perbedaan cara tiap seniman menyampaikan gagasan.

“Satu Kata” disebut berkembang dari sebuah kolektif seni yang sebelumnya aktif mengadakan kegiatan menggambar bersama. Peserta yang terlibat datang dari lintas generasi dan latar belakang, dari mahasiswa hingga dosen seni rupa. Pertemuan lintas generasi tersebut menghadirkan ruang pertukaran pengalaman dan sudut pandang dalam berkarya.

Suasana pameran selama pengamatan terasa hangat, tenang, dan terbuka. Pengunjung tidak hanya melihat karya, tetapi juga berdiskusi dan berupaya memahami cerita di balik gambar. Sejumlah karya tampak memantik refleksi personal karena temanya dekat dengan pengalaman sehari-hari, seperti rasa cemas, kesepian, kehilangan, dan proses pemulihan diri.

Kehadiran isu kesehatan mental dalam pameran ini menunjukkan kedekatan seni rupa dengan persoalan sosial dan psikologis masyarakat modern. Seni tidak semata dipandang sebagai objek estetis, melainkan juga media komunikasi sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan anak muda dan mahasiswa, seiring tekanan akademik, tuntutan sosial, dan pengaruh media digital terhadap kondisi emosional.

Dalam konteks tersebut, menggambar dapat menjadi salah satu bentuk pelepasan emosi. Pandangan ini selaras dengan penjelasan Cathy Malchiodi dalam The Art Therapy Sourcebook yang menyatakan bahwa aktivitas visual dapat membantu individu mengekspresikan emosi yang sulit disampaikan secara verbal. Menggambar memungkinkan pengalaman personal dituangkan secara lebih bebas dan intuitif, sehingga sebagian orang merasa lebih lega atau tenang setelah membuat gambar atau sketsa.

Pameran ini juga memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap seni gambar dalam praktik seni rupa kontemporer. Jika sebelumnya gambar kerap dianggap sekadar tahap awal sebelum karya utama, kini ia memperoleh ruang tersendiri. Sketsa dan gambar spontan tidak lagi diposisikan sebagai karya “belum selesai”, melainkan sebagai bentuk ekspresi yang memiliki nilai artistik dan konseptual.

Melalui rangkaian karya dan suasana yang terbentuk, “Satu Kata Vol. 2” menegaskan bahwa menggambar bukan hanya perkara kemampuan teknis. Ia dapat menjadi cara manusia memahami diri dan lingkungan, sekaligus menyimpan cerita, emosi, dan pengalaman hidup. Pada akhirnya, pameran ini memperlihatkan kekuatan seni gambar untuk membangun ruang refleksi, komunikasi, dan pemulihan, baik secara personal maupun kolektif—sebuah jejak yang mengingatkan pada tradisi manusia purba yang menggambar di dinding gua untuk menandai keberadaan mereka.