Seniman Argya Dhyaksa menggelar pameran tunggal bertajuk Rage Against The Muchsin di Orbital Dago, Jalan Rancakendal Luhur, Bandung, pada 13–18 Januari 2026. Pameran ini menampilkan eksplorasi brikolase keramik yang menonjolkan ketidaksempurnaan sebagai ciri khas karya-karyanya.
Judul pameran Rage Against The Muchsin dipilih sebagai paronomasia, permainan kata yang memanfaatkan polisemi dari nama band rock asal Amerika Serikat, Rage Against the Machine. Argya menyebut pemilihan tajuk tersebut tidak dimaksudkan sebagai konsep yang mendalam, melainkan permainan fonetika bahasa.
Dalam karya-karyanya, Argya memadukan elemen visual budaya populer, teks yang tidak masuk akal, serta bentuk-bentuk asing yang ia ciptakan sendiri. Perpaduan itu melahirkan tanda-tanda yang terputus (disconnected signs) dan memunculkan efek parodik, sekaligus mengaburkan batas antara keseriusan dan ketidakseriusan.
Esai pengiring pameran yang ditulis Ibrahim Soetomo menyebutkan bahwa karya Argya berupaya menciptakan narasi yang membingungkan dengan mempertemukan unsur-unsur yang tampak tidak berkaitan. Ibrahim juga menilai Argya mengajak audiens merasakan sensasi flight of ideas yang muncul selama proses kreatif, sembari mendorong mereka menelusuri asal-muasal lonjakan ide tersebut.
Dari sisi formal, Ibrahim menjelaskan, keramik Argya menghadirkan “makhluk-makhluk aneh” hasil komposisi berbagai karakter imajinatif menjadi satu bentuk yang lebih besar. Penggambaran ini mengingatkan pada konsep fusi atau amalgamasi tokoh-tokoh tokusatsu maupun anime, seperti Mecha Super Sentai atau Dragon Ball Z.
Ibrahim menambahkan, dengan wujud keramik yang kerap kartunis serta presentasi yang playful, witty, dan lebih mengandalkan spontanitas ketimbang perencanaan ketat, Argya berupaya menjauh dari imaji kepakaran dalam dunia keramik. Ia menggambarkan benda-benda yang “setengah dirakit, setengah dialihfungsi, dan setengah hasil beli” sebagai sebuah sirkuit interaktif tanpa hasil pasti—ruang yang sarat satir, kelakar, pastise, dan apropriasi atas karya seni, utasan, objek, atau fenomena populer yang melintas di sekitar maupun di layar.
Dalam pandangan Ibrahim, Argya juga meromantisasi sentuhan jemari pada tanah liat. Namun, pengaruh gaya hidup digital dalam proses penciptaannya justru dinilai menstimulasi kerja kreatif yang bergerak seperti meme: lancar, tangkas, dan responsif.
Karena itu, Ibrahim menyebut karya-karya Argya sesungguhnya bersifat serebral. Argya menanggapi fenomena viral—mulai dari politik, ekologi, gaya hidup selebritas, hingga berbagai kejadian populer lain di media sosial—dengan kelincahan yang disamakan dengan gerak usapan dan guliran jari di layar. Dari proses tersebut, lahir keramik-keramik yang menyeleneh namun referensial.
“Karya-karya Argya penuh kejelian dan ketelitian. Ia dengan serius ingin asal-asalan, dan ia membingkai ketidaksempurnaan dengan menyeluruh. Prosesnya menciptakan tegangan antara pembuatan keramik yang perlahan dengan lompatan ide yang cekatan,” kata Ibrahim dalam esainya.
Ibrahim juga menyoroti siasat do it yourself yang dipakai Argya, yakni mempertahankan fungsi yang sama meski mekanismenya tidak sesempurna produk pabrikan. Ia mencontohkan bagaimana Argya membalikkan pelindung kabel menjadi laju kelereng dan menjadikan sepasang sumpit sebagai jembatan.

