Esai merupakan karangan prosa yang membahas masalah tertentu berdasarkan sudut pandang penulis. Melalui esai, penulis berupaya meyakinkan pembaca agar menerima opininya. Meski bersifat subjektif, esai tetap perlu didukung fakta yang logis dan mudah dipahami.
Di perguruan tinggi, esai kerap menjadi bentuk tugas yang diberikan dosen kepada mahasiswa. Tema yang diangkat umumnya beragam dan masih berkaitan dengan jurusan atau mata kuliah, seperti lingkungan, budaya, kesehatan, dan topik lainnya.
Selain untuk tugas perkuliahan, sebagian perguruan tinggi juga menjadikan esai sebagai syarat masuk universitas. Melalui tulisan tersebut, pihak kampus menilai kelayakan calon mahasiswa berdasarkan esai yang dibuat.
Dalam buku Essay is Essay 11 Tips Pasti Juara Lomba Esai Ilmiah dan Populer karya Ngakan Putu Anom Harjana, disebutkan bahwa esai setidaknya memuat tiga unsur utama, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup. Pendahuluan berisi latar belakang serta penjelasan isu yang dibahas. Bagian isi memuat gagasan-gagasan yang diajukan untuk menyelesaikan permasalahan, sedangkan penutup berisi kesimpulan.
Sementara itu, buku CMS Cara Menguasai Soal Bahasa Indonesia karya Tomi Rianto memaparkan sejumlah langkah dasar dalam membuat esai mahasiswa.
1. Menentukan tema atau topik
Langkah awal adalah memastikan topik yang akan ditulis. Pada mahasiswa, tema biasanya sudah ditentukan dosen. Meski demikian, penulis tetap perlu menjaga agar pembahasan tidak melebar sehingga mudah dipahami. Penulis juga dapat menentukan posisi terhadap topik—pro, kontra, atau netral—agar sudut pandang dan argumen tersampaikan dengan jelas.
2. Membuat outline
Setelah topik dipastikan, penulis menyusun kerangka atau outline dengan membagi tulisan ke dalam tiga bagian utama: pendahuluan, isi, dan penutup. Poin-poin penting disusun sesuai tema untuk mempermudah proses penulisan.
3. Menulis pendapat secara singkat, jelas, dan padat
Agar esai memiliki kualitas dan didukung fakta yang memperkuat argumen, penulis perlu melakukan riset terlebih dahulu. Riset dapat dilakukan melalui buku, internet, maupun sumber informasi lain. Setelah referensi dinilai memadai, penulis mulai mengembangkan outline menjadi paragraf yang memuat kalimat utama dan argumen pendukung.
4. Menulis tubuh esai dan memeriksa kembali
Selain mengikuti struktur, penggunaan bahasa harus sesuai kaidah bahasa Indonesia, terutama untuk esai akademik. Meski subjektif, opini sebaiknya tidak lepas dari fakta. Setelah selesai, esai perlu dicek ulang untuk memastikan ketepatan fakta, kekuatan argumen, serta kebenaran kaidah penulisan agar mudah dipahami pembaca.

