Sutradara Korea Selatan Park Chan-wook menyatakan ketertarikannya untuk mengadaptasi novel Human Acts (2014) karya Han Kang menjadi film. Park mengatakan ia sangat ingin menggarap adaptasi tersebut apabila mendapat kesempatan dari Han Kang.
Park mengaku ketertarikannya muncul sejak awal membaca novel itu. Ia menyebut kesan kuat sudah ia rasakan sejak bab pertama, yang menurutnya menunjukkan kualitas penulisan yang luar biasa dan terasa seperti sebuah mahakarya.
Pernyataan itu disampaikan Park dalam sesi bertajuk Park Chan-wook's Literary Anchors bersama kritikus sastra Shin Hyoung-cheol, yang berlangsung pada Jumat (20/6) di Seoul International Book Fair, Coex. Saat ditanya mengenai novel Korea yang ingin ia adaptasi, Park menilai gagasan tersebut masih berupa harapan yang jauh dan lebih sebagai angan-angan yang menyenangkan untuk dibayangkan.
Human Acts mengisahkan pemberontakan demokratisasi pada 18 Mei 1980 di Gwangju, Korea Selatan. Dalam cerita, kematian seorang anak laki-laki menjadi pemicu untuk menyoroti Pemberontakan Gwangju serta kehidupan masyarakat di kota tersebut.
Han Kang sendiri meraih Nobel Prize in Literature pada 2024 atas “prosa puitisnya yang intens yang menghadapi trauma sejarah dan mengungkap kerapuhan kehidupan manusia.” Ia tercatat sebagai penulis Korea pertama dan penulis perempuan Asia pertama yang menerima Penghargaan Nobel Sastra.
Selain Human Acts, Park juga menyebut sejumlah karya lain yang menarik perhatiannya, seperti epik 20 volume Toji (Land) karya Park Kyong-ni, kumpulan cerita pendek saling terkait Gwanchon Essays karya Lee Mun-ku, The Lone Room karya Shin Kyung-sook, serta The Song of the Sword karya Kim Hoon.
Park Chan-wook dikenal gemar membaca dan kerap mengembangkan film dari karya sastra. Film Joint Security Area (2000) didasarkan pada novel karya Park Sang-yeon. The Handmaiden merupakan adaptasi novel Fingersmith karya Sarah Waters yang diolah dalam latar Korea era kolonial, sementara Oldboy terinspirasi dari manga Jepang berjudul sama.
Ia menyamakan proses mengolah materi sastra sebagai sumber film dengan perjalanan yang memiliki rencana terperinci. Menurut Park, keberadaan novel sebagai sumber memberi rasa aman tertentu, namun proses adaptasi sering berkembang ke arah yang tak sepenuhnya sesuai rencana dan bisa berakhir jauh dari bayangan awal.
Park mencontohkan Decision to Leave, film yang membawanya meraih penghargaan sutradara terbaik di Cannes Film Festival 2022. Proyek itu mulanya berangkat dari upaya mengadaptasi bab terakhir volume penutup serial detektif Swedia Martin Beck yang terdiri dari 10 bagian, tetapi kemudian berkembang menjadi cerita yang sepenuhnya berbeda.
Ia menambahkan, unsur yang menjadi inti sebuah film dari novel sumbernya dapat berbeda-beda pada tiap proyek, kadang karakter yang menarik perhatiannya, di lain waktu narasi. Menurutnya, hal tersebut sulit diringkas hanya dalam satu kata.
Sementara itu, Park saat ini berada pada tahap pascaproduksi untuk film terbarunya, No Other Choice, yang dibintangi Lee Byung-hun dan Son Ye-jin. Film bergenre dark comedy itu dijadwalkan rilis pada liburan Chuseok pada Oktober 2025 dan merupakan adaptasi dari novel thriller horor The Ax karya Donald E. Westlake.

