BERITA TERKINI
Pelaku Industri Soroti Pergeseran Tren Penonton Festival: Followers dan Streaming Tak Lagi Jadi Jaminan

Pelaku Industri Soroti Pergeseran Tren Penonton Festival: Followers dan Streaming Tak Lagi Jadi Jaminan

Industri konser dan festival musik di Indonesia disebut tengah mengalami perubahan besar. Ukuran popularitas seperti jumlah pengikut di media sosial maupun angka streaming dinilai tidak lagi otomatis berbanding lurus dengan kemampuan sebuah acara menjual tiket dalam jumlah besar.

Pandangan itu mengemuka dalam Gathering Media Online bertajuk To Gather Together yang digelar di Onkel John’s, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (24/5/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku media hiburan, promotor konser, serta komunitas musik independen untuk membahas perkembangan industri musik dan perubahan perilaku penonton festival.

Founder Info Konser, Fauzan Achmad, mengatakan media konser digital saat ini berkembang jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu. Menurutnya, media konser bukan lagi sekadar tempat berbagi informasi jadwal acara, melainkan juga ruang interaksi antara audiens dan komunitas musik.

“Tujuannya sebenarnya pengin musik Indonesia tetap ramai. Dulu media konser masih sedikit, sekarang makin banyak dan makin seru,” ujar Fauzan.

Fauzan menceritakan, gagasan membangun Info Konser berangkat dari pengalamannya saat membuat acara musik skala kecil. Ketika itu, ia kesulitan mendapatkan publikasi, sehingga memilih membangun media sendiri untuk membantu promosi acara.

Perjalanannya sempat terhambat setelah akun pertamanya diretas pada 2018. Ia kemudian membangun kembali platform tersebut pada 2019 sambil mempelajari pola algoritma media sosial.

Menurut Fauzan, interaksi audiens menjadi salah satu faktor penting untuk memperluas jangkauan konten. Karena itu, pihaknya sengaja membuat unggahan yang memancing diskusi antarfanbase.

“Kita bikin postingan yang bikin orang komentar. Dari situ engagement naik dan algoritma bantu sebarkan postingan lebih luas,” katanya.

Sementara itu, Founder Info Pensi, Ardian Eka Putra, menilai media konser kini juga berkembang sebagai alat untuk membaca tren generasi muda. Ia menyebut banyak promotor dan brand mulai mempelajari kebiasaan anak sekolah serta minat penonton baru untuk menentukan strategi pasar.

“Kita berkembang bukan cuma media, tapi juga data mining. Brand dan promotor pengin tahu anak sekolah sekarang sukanya apa dan interest-nya ke mana,” ujarnya.

Ardian menambahkan, regenerasi penonton menjadi tantangan utama industri festival musik. Menurutnya, penonton konser umumnya hanya aktif menikmati festival dalam periode usia tertentu sebelum memasuki fase kehidupan yang berbeda.

“Orang datang ke festival itu rata-rata cuma beberapa tahun. Setelah itu mereka grow, jadi promotor selalu cari calon penonton baru,” jelasnya.

Dalam diskusi yang sama, Ardian juga menyoroti fenomena musisi viral yang belum tentu memiliki kekuatan untuk menjual tiket. Ia menilai industri hiburan masih kerap terpaku pada angka followers dan streaming digital sebagai ukuran popularitas.

“Followers besar belum tentu jual tiket. Ada artis streaming jutaan, tapi showcase berbayarnya belum tentu penuh,” katanya.

Ia menekankan, media musik seharusnya tidak hanya mengikuti tren viral di media sosial, tetapi juga mampu membaca kultur dan perilaku nyata penonton konser.

“Media itu bukan sekadar ikut viral, tapi kasih tahu sesuatu yang mungkin orang belum tahu,” ujar Ardian.

Para pelaku industri yang hadir menilai perubahan perilaku audiens menuntut media, promotor, dan brand untuk lebih adaptif agar tetap relevan di tengah cepatnya perkembangan tren digital dan budaya festival musik di Indonesia.