Pemerintah Aceh menegaskan peningkatan produksi ternak lokal menjadi agenda prioritas pembangunan sektor peternakan. Kebijakan ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah sekaligus menjaga stabilitas harga pangan di Aceh.
Penegasan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir, dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Perencanaan Pembangunan Peternakan Aceh yang digelar di Aula Dinas Peternakan Aceh, Selasa (12/5/2026). Sambutan Sekda dibacakan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh, Ir. T. Robby Irza, S.SiT, M.T.
Dalam sambutannya, Sekda menyebut sektor peternakan kini tidak lagi dipandang semata sebagai sektor produksi. Menurutnya, peternakan telah menjadi sektor strategis yang berkaitan langsung dengan pengendalian inflasi, ketahanan pangan, pemulihan ekonomi masyarakat, dan stabilitas sosial daerah.
“Karena itu, peningkatan produksi ternak lokal harus menjadi agenda prioritas agar Aceh mampu mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah sekaligus menjaga stabilitas harga pangan,” ujar Sekda.
Ia juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi Aceh, terutama tingginya harga pangan dan meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap daging serta produk peternakan lainnya. Saat ini, harga daging sapi dan kerbau di pasar Aceh disebut masih berkisar Rp 130 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogram, dan dinilai relatif lebih tinggi dibanding sejumlah daerah lain.
Kondisi tersebut dinilai berpengaruh terhadap inflasi daerah dan daya beli masyarakat. Meski demikian, Pemerintah Aceh mencatat adanya peningkatan populasi ternak dalam dua tahun terakhir.
Berdasarkan data 2024, populasi sapi potong di Aceh tercatat 461.487 ekor dan kerbau 106.865 ekor. Pada 2025, populasi sapi meningkat menjadi 466.908 ekor atau naik 1,16 persen, sedangkan kerbau menjadi 108.522 ekor atau meningkat 1,53 persen.
“Peningkatan ini menunjukkan tren positif dan meningkatnya minat masyarakat untuk beternak. Namun demikian, kita juga harus jujur mengakui bahwa peningkatan tersebut masih belum sepenuhnya mampu mengimbangi tingginya kebutuhan konsumsi daging masyarakat Aceh,” ujarnya.