Penindakan pelanggaran hak cipta dengan sanksi pidana mulai menjadi sorotan di industri musik Vietnam. Ketika pihak berwenang memproses pelanggaran hak cipta hingga ranah pidana—dengan total 5 kasus dan 7 terdakwa—sebagian pelaku industri melihatnya sebagai sinyal bahwa pasar musik memasuki fase yang lebih matang.
Perhatian muncul karena entitas yang dituntut oleh Badan Investigasi Kepolisian Kementerian Keamanan Publik disebut sebagai merek besar yang beroperasi secara profesional dan telah berpengalaman selama bertahun-tahun. Namun, pelanggaran yang terjadi dilaporkan mencakup ratusan program dan dinilai melanggar Pasal 225 KUHP tentang tindak pidana “Pelanggaran hak cipta dan hak terkait”.
Di kalangan profesional kreatif, penegakan yang lebih ketat ini diharapkan membuka jalan menuju pasar musik yang lebih profesional, tempat nilai kreativitas terlindungi dan para pelaku dapat memperoleh penghasilan dari kekayaan intelektual mereka.
Produser Phan Anh—pendiri dan CEO VMAS serta manajer grup musik DTAP, penyanyi Phuong My Chi, dan Mai Phuong—menyatakan bahwa ia sejak lama menempatkan produksi musik dan hak kekayaan intelektual sebagai fondasi. Ia menyinggung keputusan lima tahun lalu ketika berinvestasi besar pada DTAP, yang saat itu dinilai berisiko oleh sebagian pihak. “Tidak ada yang menyangka tiga musisi muda dapat menciptakan nilai berkelanjutan. Tetapi saya percaya bahwa agar sebuah perusahaan hiburan dapat berkembang dalam jangka panjang, itu harus dimulai dari produksi,” kata Phan Anh.
Menurutnya, persoalan besar di masa lalu adalah cara pandang yang menempatkan penulis lagu semata sebagai “kontraktor” pembuat lagu. Ia juga menceritakan penentangan yang dihadapinya saat memilih mempertahankan hak cipta, alih-alih menjual lagu langsung kepada penyanyi. “Beberapa orang mengatakan bahwa penyanyi menginvestasikan uang untuk membuat video musik dan mempromosikan lagu mereka, jadi lagu itu seharusnya menjadi milik penyanyi. Tetapi saya percaya aset kreatif perlu diakui nilai sebenarnya,” ujarnya.
Phan Anh menilai penanganan tegas terhadap kasus pelanggaran hak cipta saat ini berpotensi menjadi titik balik. “Saya tidak senang jika ada yang mengalami masalah, saya senang hak cipta dihormati. Agar pasar berkembang, hukum harus ketat sehingga semua orang tahu di mana mereka benar dan salah,” katanya.
Di sisi lain, perwakilan C Mazor Entertainment, Le Ho Anh Khoa, melihat perubahan penting di pasar musik modern melalui tren artis yang menulis, memproduksi, dan merilis karya mereka sendiri. Sejumlah artis yang bekerja sama dengan C Mazor Entertainment, seperti Orange, Mew Amazing, dan Chi Xe, disebut tidak hanya berperan sebagai penampil, tetapi juga sebagai pemilik hak kekayaan intelektual.
Menurut Le Ho Anh Khoa, model ini memberi artis kendali lebih besar atas karya, pendapatan, dan strategi pengembangan merek pribadi. Namun, peluang tersebut datang bersamaan dengan tekanan pengelolaan hak cipta yang semakin besar.
Dalam praktiknya, ketika artis mengendalikan proses kreatif dari penulisan hingga rilis, mereka dinilai lebih jelas memahami siapa pemilik karya, siapa yang memegang rekaman, dan siapa yang memiliki hak distribusi. Sejumlah perusahaan juga menerapkan langkah-langkah yang disebut transparan untuk melindungi dan memanfaatkan kekayaan intelektual melalui mitra seperti Pusat Perlindungan Hak Cipta Musik Vietnam (VCPMC) atau Warner Chappell Music.
Meski demikian, tantangan di era digital tetap tinggi. Penyalinan dan penggunaan audio, beat, atau konten tanpa izin dapat terjadi cepat. Karena itu, artis dan perusahaan manajemen dinilai perlu memahami aspek hukum, distribusi digital, manajemen data, serta sistem Content ID di berbagai platform. Sejalan dengan itu, sejumlah organisasi disebut membimbing artis agar berpikir jangka panjang mengenai kekayaan intelektual dan membangun sistem manajemen hak cipta sejak awal.
Le Ho Anh Khoa menekankan bahwa pasar saat ini tidak lagi berjalan dengan formula “beli lagu hits dan menang”. Audiens muda disebut semakin tertarik pada kepribadian, pola pikir, dan cerita di balik musik. Kondisi ini membuka peluang bagi artis yang menciptakan karya sendiri untuk membangun merek jangka panjang, meski pada tahap awal sering lebih sulit karena pasar membutuhkan waktu untuk memahami gaya individual mereka. Namun, ketika sudah terbentuk, nilai merek dan nilai hak cipta dinilai lebih berkelanjutan dibanding model yang bergantung pada hit jangka pendek.
Sejumlah pihak juga menilai rangkaian penuntutan terbaru dapat memunculkan kehati-hatian di pasar konten digital dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, langkah ini dipandang bisa menjadi dorongan bagi industri musik Vietnam untuk bertransformasi ke arah yang lebih profesional.
Pasar yang lebih transparan dinilai membawa dampak berlapis: kreator lebih terlindungi, pelaku bisnis memahami tanggung jawab hukumnya, seniman muda terdorong berinvestasi jangka panjang, dan kekayaan intelektual diposisikan sebagai nilai inti. Pada akhirnya, kondisi ini diharapkan membantu para profesional musik memperoleh penghidupan dari hak kekayaan intelektual mereka sendiri.