BERITA TERKINI
Penghargaan Anak-Anak Kriket Masuk Musim ke-7, Perluas Ruang Kreatif Sastra dan Seni di Era Digital

Penghargaan Anak-Anak Kriket Masuk Musim ke-7, Perluas Ruang Kreatif Sastra dan Seni di Era Digital

Penghargaan Anak-Anak Kriket (Dế Mèn) yang digelar rutin sejak 2020 memasuki musim ke-7 pada 2026. Ajang ini ditujukan untuk mengakui karya dan pertunjukan artistik luar biasa yang diciptakan “oleh anak-anak” atau dibuat “untuk anak-anak”, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu penghargaan bergengsi di bidang sastra dan seni anak-anak.

Pada musim terbaru, festival Dế Mèn disebut mempertahankan kualitas profesional sekaligus menunjukkan arah peningkatan yang lebih jelas. Orientasi tersebut dinyatakan sejalan dengan semangat Resolusi 80-NQ/TW Politbiro tentang pengembangan budaya Vietnam di era baru, serta Arahan 04-CT/TW Komite Sentral Partai terkait penguatan kepemimpinan atas kegiatan penerbitan dalam situasi baru.

Dari 146 karya yang ditinjau dan dievaluasi, dewan juri menetapkan 10 finalis teratas dari berbagai genre, mulai dari novel, puisi, lukisan, komik, musikal, animasi, hingga model kreatif multi-platform. Salah satu sorotan musim ini adalah masuknya empat penulis anak ke dalam daftar 10 finalis.

Ketua dewan juri, penyair Tran Dang Khoa, menilai jumlah karya yang masuk cukup besar dengan kualitas yang relatif konsisten. Ia juga mencatat kemunculan sejumlah karya anak-anak yang dinilai sangat baik. Selain nama-nama yang sudah dikenal seperti Nguyen Ngoc Thuan dan Ta Huy Long, musim ini juga menghadirkan banyak penulis baru, terutama penulis dan seniman muda dengan imajinasi kuat serta kepribadian artistik yang khas.

Penghargaan ini juga menegaskan keterbukaannya dengan melampaui batas sastra tradisional. Masuknya musikal “Kurt’s Miracle”, serial animasi Wolfoo, dan ekosistem kreatif digital dalam daftar finalis menunjukkan perluasan ke ranah teater, film, animasi, dan platform digital—mendekatkan penghargaan pada praktik kreatif kontemporer.

Kritikus sastra Van Gia menilai keragaman bentuk kreatif yang ikut serta menjadi penanda meningkatnya prestise kompetisi. Daya tarik bagi seniman lintas bidang dinilai mencerminkan pengaruh yang makin besar serta posisi penting penghargaan ini dalam kehidupan sastra dan seni untuk anak-anak.

Selain ragam medium, tema-tema yang diangkat juga menampilkan denyut kehidupan modern, termasuk isu kecerdasan buatan, teknologi digital, dan relasi manusia dengan dunia teknologi. Namun, karya-karya tersebut tetap dinilai menjaga nilai inti sastra dan seni anak-anak: menumbuhkan emosi, imajinasi, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Van Gia menekankan bahwa ketika AI dan teknologi semakin banyak memengaruhi kehidupan kreatif, pelestarian “unsur manusia” dalam seni menjadi kian penting. Sejumlah karya yang masuk pada musim ini dinilai memperlihatkan upaya mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai humanistik.

Di sisi lain, Dế Mèn disebut tidak semata mencari dan merayakan karya “oleh anak-anak” atau “untuk anak-anak”, tetapi juga berupaya membangun ekosistem budaya dan seni bagi anak-anak di era digital. Orientasi ini mencakup dorongan pada karya yang berpotensi menjadi produk industri budaya yang dapat disebarluaskan luas, sekaligus berkontribusi pada budaya membaca dan kehidupan spiritual generasi muda.

Seniman Thanh Chuong menilai karya-karya pemenang tahun ini memiliki kepribadian unik dan menghindari kesan pengulangan. Ia menggambarkan keragaman itu seperti “taman rimbun dengan banyak bunga harum dan tanaman eksotis”, seraya menyebutnya sebagai capaian penting yang menumbuhkan kecintaan pada seni serta mendorong berkembangnya talenta kreatif.

Dalam daftar pendek musim ini, sejumlah karya dari seniman muda menonjol dengan pendekatan yang personal. Seri lukisan “Suara Lautan” karya Nguyen Minh Quan (11) membuka imajinasi tentang dunia laut, dipengaruhi minatnya pada sains, alam, dan melukis. Ia mengeksplorasi gaya abstrak melalui warna, garis, dan bentuk untuk mengekspresikan emosi serta pandangannya tentang alam, termasuk kepedulian pada lingkungan dan kehidupan laut.

Minh Quan menyebut salah satu karya favoritnya adalah “Cahaya di Dasar Laut Dalam” yang terinspirasi dari ikan lentera. Ia memaknai kisah ikan yang hidup di kegelapan namun memancarkan cahaya sebagai simbol keyakinan pada hal-hal baik dan aspirasi menuju “cahaya kebenaran”. Ia juga mengatakan melukis menjadi cara agar “lautan dapat berbicara” dan membantunya belajar mendengarkan dunia bawah laut melalui makhluk-makhluknya.

Adapun rangkaian lukisan “Vietnam Melalui Mata Hai Nam” karya Nguyen Dang Hai Nam menawarkan perspektif emosional tentang budaya dan kehidupan Vietnam, mulai dari desa kerajinan di Son Dong, Kota Tua Hanoi, pasar terapung di Delta Mekong, hingga pemandangan laut dan ruang-ruang biara. Karya-karya ini menampilkan apresiasi terhadap nilai tradisional dan warisan nasional, serta pengamatan terhadap cahaya dan ruang.

Naskah buku bergambar “Kisah-Kisah Seorang Tuan Muda yang Penuh Mimpi” beserta rangkaian karya tentang seekor kucing karya Le Nha Uyen (10) tampil dengan gaya bercerita polos dan humoris. Tokoh utamanya adalah kucing yang menganggap diri “pahlawan”, namun pada akhirnya memahami nilai kelembutan dan kasih sayang. Melalui cerita sederhana, karya ini menyampaikan pesan tentang kebaikan, mengatasi diri sendiri, dan makna kasih sayang keluarga.

Le Nha Uyen mengatakan ia kerap membayangkan dirinya sebagai kucing dan berusaha memahami alasan di balik tingkah hewan tersebut. Ia menilai, ketika kucing merusak barang di rumah, itu tidak selalu karena nakal, melainkan bisa jadi karena ingin melindungi pemiliknya. Karena itu, ia mendorong sikap ceria dan kesabaran untuk memahami mereka.

Manuskrip kumpulan puisi “Si Cacing Buku Berperut Buncit” karya Vu Ngoc Diep (11) juga masuk 10 finalis teratas. Karya itu menarik perhatian karena ditulis tangan dengan tinta ungu, termasuk sampul dan ilustrasi yang dibuat sendiri. Diep menyebutnya sebagai hadiah untuk kakeknya, yang menumbuhkan kecintaannya pada alam, buku, dan imajinasi melalui perjalanan mendaki, bercerita, menulis puisi, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan masa kecilnya.

Memasuki musim ke-7, Penghargaan Anak-Anak Kriket kian diposisikan sebagai titik temu kreatif bagi sastra dan seni anak-anak. Dari platform ini, talenta muda disebut dapat ditemukan, didorong, dan mulai menapaki perjalanan kreatif mereka, sembari memperkuat imajinasi, kasih sayang, serta kecintaan pada budaya di kalangan generasi muda.