Penghargaan Sastra dan Seni Provinsi 2025 memberikan apresiasi kepada karya-karya yang dinilai menonjol tidak hanya dari sisi estetika, tetapi juga karena kemampuannya membangkitkan kebanggaan nasional dan cinta tanah air. Sejumlah karya pemenang tahun ini menampilkan benang merah yang sama: rasa syukur terhadap masa lalu sekaligus dorongan tanggung jawab untuk masa depan.
Salah satu karya yang mendapat perhatian adalah kumpulan esai Mereka Adalah Prajurit Paman Ho karya Ha Lam Ky, yang meraih hadiah B. Kumpulan tulisan ini disusun dengan cermat dan berfokus pada tokoh-tokoh sejarah. Nilainya, antara lain, terletak pada upaya menjaga keaslian melalui sumber-sumber yang disebut telah diverifikasi secara teliti oleh generasi sebelumnya dan rekan-rekan penulis terkait waktu serta peristiwa yang diangkat.
Dalam esai-esaiknya, Ha Lam Ky memberi porsi khusus pada penggambaran tentara dari kelompok etnis minoritas seperti Mong, Khmu, dan Tay di wilayah Barat Laut. Separuh dari tulisannya juga berisi perjumpaan yang mengharukan dengan tokoh-tokoh sejarah setelah perang, menegaskan pendekatan yang dekat dengan pengalaman manusia dan ingatan kolektif.
Kumpulan esai tersebut diterbitkan bertepatan dengan sejumlah peringatan penting, yakni 50 tahun Pembebasan Vietnam Selatan, 80 tahun keberhasilan Revolusi Agustus, dan Hari Nasional Republik Sosialis Vietnam. Dalam konteks itu, karya ini diposisikan sebagai penghormatan kepada generasi yang lebih tua dalam dua perang perlawanan melawan Prancis dan Amerika Serikat, sekaligus jembatan untuk menghubungkan serta mendidik generasi muda mengenai tradisi revolusioner.
Sentimen serupa juga hadir dalam kumpulan puisi Lullaby for Comrades karya Doan Duc Binh yang meraih Penghargaan B. Penulis yang juga seorang veteran itu merilis 47 puisi setelah lebih dari 30 tahun menulis, dengan lebih dari separuhnya menggambarkan citra tentara di tengah suasana perang. Melalui puisi-puisinya, Doan Duc Binh menyorot figur “tentara Paman Ho” sekaligus memuji pengorbanan sunyi para ibu dan istri di garis depan.
“Bagi saya, menulis tentang tentara adalah tanggung jawab seorang penulis, perintah dari hati, rasa terima kasih kepada masa lalu. Saya berharap generasi muda saat ini, ketika membaca puisi-puisi ini, akan memahami, menghargai, dan melanjutkan tradisi patriotik leluhur mereka dalam pembangunan dan pengembangan tanah air,” kata Doan Duc Binh.
Dari bidang seni rupa, lukisan akrilik Melindungi Laut dan Pulau-Pulau Tanah Air dengan Teguh karya Nguyen Dinh Thi meraih hadiah A. Karya ini terinspirasi dari perjalanan lapangan kedua sang seniman ke Truong Sa pada 2023. Di Pulau Nam Yet, ia bertemu dua tentara dari Yen Bai (sebelum reunifikasi) dan memotret mereka saat bertugas; foto tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan lukisan.
Setelah lebih dari sebulan bekerja, Nguyen Dinh Thi menyelesaikan lukisan yang disebut mencerminkan keberanian prajurit angkatan laut. Dengan bahasa visual modern, ia mengekspresikan kedaulatan laut dan pulau-pulau serta keteguhan tentara dan rakyat dalam membela negara. Melalui karya itu pula, ia menyampaikan pesan bahwa di mana pun berada, putra-putri Vietnam tetap teguh menjaga setiap jengkal tanah air.
Secara keseluruhan, karya-karya pemenang Penghargaan Sastra dan Seni Provinsi 2025 memperlihatkan pertemuan antara penghormatan pada pengorbanan masa lalu dan ajakan memikul tanggung jawab masa depan. Dalam bentuk esai, puisi, maupun lukisan, karya-karya tersebut menegaskan nilai citra prajurit, tanggung jawab individu terhadap nasib bangsa, serta upaya menginspirasi generasi muda untuk berkontribusi dalam membangun dan membela Tanah Air sosialis Vietnam.

