Self care kerap dipahami sebagai cara sederhana untuk menjaga kesehatan fisik dan mental di tengah rutinitas yang padat. Bentuknya tidak selalu identik dengan perawatan wajah. Aktivitas seperti olahraga ringan, meditasi, menjalani hobi, hingga memilih makanan bergizi juga termasuk praktik merawat diri yang dapat membantu memperbaiki suasana hati.
Sejumlah penjelasan ilmiah menunjukkan bahwa rutinitas self care dapat berkaitan dengan rasa tenang dan meningkatnya perasaan nyaman. Salah satunya, self care dinilai penting karena membantu memberi rasa aman pada otak dengan menurunkan stres dan kecemasan. Aktivitas yang dilakukan secara berulang, ritmis, lembut, dan mudah diprediksi disebut cenderung disukai otak, sehingga dapat mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang berperan dalam mode relaks. Dampaknya, ketegangan dan rasa gelisah dapat menurun.
Selain itu, sentuhan lembut yang sering terjadi dalam aktivitas merawat diri—misalnya saat melakukan skin care atau body care—disebut dapat memicu pelepasan hormon yang berperan dalam pembentukan suasana hati. Hormon yang kerap disebut terkait dengan perasaan nyaman dan bahagia antara lain oksitosin, endorfin, dopamin, dan serotonin.
Hormon-hormon tersebut berperan dalam mengatur suasana hati, meningkatkan rasa nyaman, serta membantu menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol. Sejumlah aktivitas sederhana juga disebut dapat merangsang pelepasan hormon-hormon ini secara alami, seperti olahraga ringan, meditasi, aktivitas kreatif, dan interaksi sosial yang positif.
Dalam konteks self care, sentuhan lembut pada wajah atau kulit saat menggunakan produk perawatan dapat dikaitkan dengan meningkatnya oksitosin, yang berhubungan dengan rasa tenang, nyaman, dan aman. Sementara itu, otak dapat membaca tindakan merawat diri sebagai pengalaman positif. Mencoba produk baru, menikmati aroma yang menenangkan, atau menjalankan ritual self care dapat menjadi “reward kecil” yang memicu peningkatan dopamin dan menimbulkan rasa puas. Ketika stres menurun, serotonin dapat meningkat sehingga suasana hati lebih seimbang.
Self care juga dipandang sebagai pesan psikologis yang memperkuat hubungan positif dengan diri sendiri. Karena itu, praktik ini disebut dapat mendukung kesejahteraan mental sekaligus fisik. Kondisi kesehatan mental yang buruk—seperti stres, kecemasan, atau depresi—dapat memengaruhi kemampuan seseorang menjaga rutinitas sehat dan pola hidup yang baik, yang pada akhirnya dapat memicu atau memperburuk kondisi fisik.

