BERITA TERKINI
Peringatan 110 Tahun Kelahiran Penyair Yến Lan Digelar dalam Suasana Khidmat

Peringatan 110 Tahun Kelahiran Penyair Yến Lan Digelar dalam Suasana Khidmat

Sebuah acara peringatan 110 tahun kelahiran mendiang penyair Yến Lan digelar dalam suasana khidmat. Para delegasi, seniman, dan pencinta puisi memberikan penghormatan dengan mempersembahkan dupa untuk mengenang Yến Lan, tokoh penting gerakan Puisi Baru, anggota kelompok “Empat Sahabat Ban Thanh”, yang mendedikasikan hidupnya bagi puisi dan gerakan sastra di tanah kelahirannya.

Program tersebut menampilkan rangkaian pertunjukan puisi dan musik yang dibangun dalam nuansa puitis. Sejumlah lagu dibawakan, di antaranya “Khúc vọng chiều” (musik Lê Trọng Nghĩa, lirik Yến Lan) yang dinyanyikan duet oleh penulis sekaligus penyanyi Thúy Hằng, serta “Cầm chân em, cầm chân hoa” (musik La Hữu Vang, lirik Yến Lan) yang dibawakan oleh Mai Hân.

Selain itu, karya-karya representatif Yến Lan seperti Tirai di Bawah Sinar Matahari, Bermain di Musim Semi, dan Penyakit Bulan dihadirkan kembali melalui pembacaan dan penampilan para seniman Phuong Nga, Cuu Hung, dan Thanh Da. Segmen puisi dan musik kemudian ditutup dengan lagu “Sudut Kota Timur” (musik Trong Mat, lirik Nguyen Nhu Tuan) yang dibawakan Quang Vinh sebagai bentuk penghormatan generasi muda kepada sang penyair.

Acara juga diisi diskusi panel yang menghadirkan penyair Mai Thìn, mantan Ketua Asosiasi Sastra dan Seni Provinsi; pematung Lê Trọng Nghĩa, Kepala Cabang Seni Rupa; serta penyair Phạm Văn Phương yang disebut memiliki hubungan dekat dengan Yến Lan pada tahun-tahun terakhir kehidupannya.

Melalui kisah yang dibagikan para narasumber, sosok Yến Lan digambarkan sebagai pribadi yang tenang dan lembut, teliti dalam bertutur kata, namun toleran terhadap generasi muda. Gambaran itu menegaskan citra seorang penyair berbakat yang tetap sederhana, serta setia pada tanah air dan puisi.

Peringatan ini menjadi kesempatan untuk mengenang tokoh budaya setempat sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga dan mempromosikan warisan spiritual. Penyelenggara menilai upaya tersebut diperlukan agar gaung puisi tetap hidup di wilayah yang dikenal dengan tradisi seni bela diri dan sastra hingga hari ini.