WONOSOBO — Peringatan Hari Lahir Pancasila di Balai Guno, Ngawen, Wonosobo, Minggu malam, berlangsung meriah dengan nuansa kebangsaan yang dipadukan dengan kegiatan kebudayaan. Sejumlah seniman lokal terlibat dalam acara tersebut, sementara penampilan kelompok musik budaya Kiai Kanjeng mendapat sambutan hangat dari warga.
Ketua panitia kegiatan, Sigit Mugiarto, menegaskan peringatan Hari Lahir Pancasila tidak semestinya berhenti pada seremoni. Menurutnya, nilai-nilai luhur bangsa perlu terus dihadirkan melalui praktik kebudayaan agar dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sigit menyebut Pancasila sebagai ruh kebangsaan sekaligus jalan hidup masyarakat Indonesia. Karena itu, ia mengajak warga memikul ide besar negara dengan menjadikannya falsafah hidup yang kokoh, termasuk dalam berbagai ruang kehidupan.
“Pancasila harus terasa di rumah, di sekolah, di tempat kerja, hingga di ruang digital. Nilai yang hanya berada di buku tidak akan mengubah bangsa, tetapi nilai yang hidup dalam budaya akan membentuk peradaban,” ujar Sigit.
Ia juga menambahkan bahwa kemerdekaan sejati berarti terbebas dari egoisme kelompok. Menurutnya, sifat keserakahan dan kepentingan sempit perlu dikendalikan demi menjaga persatuan bangsa Indonesia.
Sementara itu, Pendiri Komunitas Balai Guno, Eka Gunadi, memandang Hari Lahir Pancasila sebagai momentum refleksi atas berbagai keprihatinan sosial. Ia menilai Pancasila tidak seharusnya hanya menjadi slogan tanpa wujud perilaku.
Ketua Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Wonosobo itu menekankan seni sebagai medium yang halus dan efektif untuk menyampaikan pesan moral serta kemanusiaan.
“Pancasila harus menjadi pusaka. Bukan pedang untuk menghantam orang lain, tetapi pusaka untuk mengiris dada kita sendiri, merefleksikan diri kita sendiri. Jangan sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi bertanya apa kontribusi dan tanggung jawab kita terhadap keadaan bangsa hari ini,” kata Eka.
Eka juga menyampaikan bahwa esensi utama dasar negara adalah kepedulian antarsesama manusia. Ia menilai pengabdian kepada Tuhan semestinya tercermin melalui sikap menjaga lingkungan sekitar.
Menurutnya, tantangan masa depan perlu dihadapi dengan kompas moral yang kuat, dengan gotong royong sebagai kunci untuk mewujudkan keteduhan di Indonesia.