Seni rupa tidak hanya berfungsi sebagai medium estetika, tetapi juga dapat menjadi bahasa personal untuk menyampaikan perasaan dan keresahan yang sulit diungkapkan melalui kata-kata. Pandangan tersebut disampaikan perupa muda Muhammad Khoiril Mushthofa dalam segmen Apresiasi Seni dan Sastra di Pro 2 RRI Purwokerto.
Khoiril merupakan mahasiswa tingkat akhir Teknik Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Ia berasal dari Lubuklinggau, Sumatera Selatan, dan menuturkan ketertarikannya pada seni rupa tumbuh sejak sekolah dasar melalui pelajaran seni budaya. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi sarana ekspresi diri yang lebih mendalam sejak masa sekolah menengah.
Menurut Khoiril, pengalaman emosional manusia kerap bersifat praverbal atau sulit diungkapkan secara langsung. Karena itu, seni rupa dapat menjadi alternatif medium untuk menyampaikan gagasan, perasaan, sekaligus kritik sosial secara visual. Ia menekankan bahwa seni rupa bukan untuk menggantikan bahasa verbal, melainkan melengkapi cara manusia berkomunikasi.
Dalam proses berkarya, Khoiril kerap mengangkat isu keseharian dan lingkungan sekitar, termasuk persoalan di dunia kampus. Salah satu karyanya terinspirasi dari isu kenaikan uang kuliah tunggal (UKT), yang ia visualkan melalui simbol otak dan tangan sebagai representasi tekanan yang dialami mahasiswa.
Ia juga menilai penafsiran terhadap karya seni sepenuhnya menjadi ruang bagi penikmatnya. Keberagaman tafsir, menurutnya, merupakan bagian dari dialog antara karya dan audiens, sekaligus memperkaya makna seni di ruang publik.
Selain melukis di kanvas, Khoiril pernah mengerjakan mural berukuran besar serta mengikuti berbagai pameran dan perlombaan seni. Ia mendorong generasi muda untuk berani berkarya, menjalani proses, dan menjadikan seni sebagai ruang pertumbuhan diri.

