Padang — Peserta lokakarya komposisi musik yang digelar UPTD Taman Budaya Sumatera Barat diingatkan agar berhati-hati dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) saat membuat karya.
Sekretaris Dinas Kebudayaan Sumatera Barat Fadhli Junaidi mengatakan AI kini sudah digunakan di berbagai bidang, termasuk seni musik. Namun, menurutnya, teknologi tersebut membawa dampak positif sekaligus negatif.
“Bagi saya pandangan pribadi AI ini mempunyai sisi positif dan negatif, yakni sisi positifnya bisa mempercepat produksi, sisi negatifnya terutama bagi para pencipta lagu dapat menghilangkan keorisinilan sebuah lagu, ini harus jadi perhatian bagi kita semua,” kata Fadhli saat membuka lokakarya di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat, Padang, Selasa.
Fadhli menilai para peserta lokakarya pada dasarnya telah memahami penggunaan AI dalam berkarya. Meski demikian, ia mengingatkan agar pemanfaatannya tetap dilakukan secara hati-hati, terutama terkait persoalan hak cipta.
Ia mencontohkan, penggunaan karya musik musisi Minang untuk membuat karya berbasis AI perlu disertai izin dari pemilik karya. “Saya rasa, bagi seorang pencipta kalau lagunya digunakan untuk hal positif rasanya tidak akan mempersulit atau menghambat,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang Indra Ariffin yang menjadi narasumber lokakarya menyampaikan pandangan bahwa AI tidak akan menggantikan “rasa” dalam penciptaan musik. Menurutnya, musik yang dihasilkan AI tidak dapat sepenuhnya mewakili emosi yang terkandung dalam karya.
“Menurut saya, hal paling prinsip bagi saya, musik dari AI tidak bisa mewakili emosi yang ada dalam musik itu, tetapi memang AI suatu waktu dapat membantu untuk mencari inspirasi,” kata Indra.
Indra juga mencontohkan adanya aplikasi pembuat lagu yang mengakumulasikan ide dari berbagai orang lalu menggabungkannya menjadi sebuah lagu. Hasilnya, kata dia, dapat terasa sebagai karya yang tidak diciptakan manusia.
Karena itu, Indra mengingatkan peserta untuk memanfaatkan AI secara bijak. Ia menekankan, sebagai musisi, peserta seharusnya mampu menciptakan lagu atau musik sendiri, bukan sepenuhnya dibuatkan oleh aplikasi.