Nuansa hangat dan syahdu menyelimuti Temindung Creative Hub, Samarinda, Rabu (11/2/2026) malam, saat Petala Borneo Indonesia menghadirkan pertunjukan bertajuk “Malam Pelipur Lara”. Konser ini menampilkan musik tradisi yang dipadukan dengan sentuhan modern, membuat penonton larut dalam alunan yang dibawakan.
Pertunjukan tersebut digagas Founder Petala Borneo Indonesia, Ahmad Fauzi atau Ozi. Nama “Pelipur Lara” diambil dari salah satu lagu Petala yang memuat pesan tentang kehidupan. Melalui karya itu, Ozi menyampaikan ajakan agar pendengar memandang hidup dengan lebih ringan dan penuh keikhlasan.
“Pesannya sederhana, hidup tidak perlu terlalu dibebani. Ada hal-hal yang memang harus kita jalani dengan ikhlas,” ujar Ozi, Kamis (12/2/2026).
Menurut Ozi, konser ini lahir dari keinginan lama Petala untuk memiliki ruang ekspresi yang lebih bebas. Selama ini, mereka lebih banyak tampil di panggung undangan dan festival, yang dinilai belum sepenuhnya memberi ruang untuk menyampaikan identitas serta gagasan musikal Petala.
Selain menjadi pertunjukan, “Malam Pelipur Lara” juga dimaknai sebagai ruang silaturahmi sekaligus edukasi. Ozi menilai musik tradisi masih memiliki peluang besar untuk bertahan dan berkembang, termasuk menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
Ia menyebut tantangan utama bukan terletak pada minimnya potensi, melainkan pada kurangnya keberanian untuk mengeksekusi ide. Ozi menekankan Kalimantan Timur memiliki kekayaan musikal yang beragam, mulai dari nuansa kemelayuan, budaya Dayak, hingga tradisi Kesultanan.
“Kita punya identitas sendiri. Tinggal bagaimana mengolahnya dengan pendekatan masa kini,” katanya.
Upaya tersebut, menurut Ozi, perlahan mulai menunjukkan hasil. Sejumlah karya Petala disebut telah dikenal di luar Kalimantan dan dinyanyikan kembali oleh musisi di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Petala juga memperkenalkan materi menuju album kedua mereka. Dari sepuluh lagu yang dibawakan, sebagian telah dirilis di platform digital, sementara sisanya masih dalam proses produksi.
Bagi Ozi, karya menjadi jembatan yang memperkenalkan seniman kepada publik. Ia berharap “Malam Pelipur Lara” dapat menjadi pengingat bahwa musik tradisi bukan sekadar warisan, melainkan kekuatan yang terus hidup selama ada generasi yang bergerak dan berkarya.

