Petani ikan nila yang tergabung dalam Kelompok Tani Kapuas Makmur Sejahtera di Pontianak Timur masih menghadapi sejumlah tantangan dalam budidaya ikan nila menggunakan sistem keramba di tepian Sungai Kapuas. Ketua kelompok tani, Hanafi, mengatakan faktor utama yang kerap memengaruhi hasil budidaya adalah kualitas air yang dapat berdampak langsung pada tingkat kematian ikan.
Menurut Hanafi, kondisi air menjadi penentu keberhasilan panen. Ia menjelaskan, ketika kualitas air baik, hasil budidaya dapat meningkat. Namun saat kualitas air menurun, risiko kematian ikan juga bertambah.
Saat ini, kelompok tani tersebut memelihara sekitar 40 ribu ekor ikan nila yang ditempatkan dalam 27 kotak keramba. Hanafi menyebut, idealnya panen dilakukan secara bertahap setiap satu bulan untuk tiap kotak keramba, sementara masa pemeliharaan minimal tiga bulan sudah memungkinkan ikan dipanen.
Dari sisi harga, Hanafi menyampaikan ikan nila di tingkat produsen dijual sekitar Rp35 ribu per kilogram. Adapun di pasaran, harganya dapat berada pada kisaran Rp37 ribu hingga Rp39 ribu per kilogram.
Ia menambahkan, petani perlu menjaga kualitas hasil panen dengan memperhatikan ukuran dan bobot ikan. Selain itu, kualitas pakan juga berperan penting. Menurutnya, pakan dengan kandungan protein tinggi dapat membantu meningkatkan bobot ikan.
Hanafi juga menjelaskan adanya standar harga berdasarkan kualitas. Ikan dengan ukuran dan bobot yang lebih baik umumnya memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan ikan dengan kualitas biasa. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah, terutama terkait pengelolaan kualitas air serta dukungan sarana budidaya, agar tingkat kematian ikan dapat ditekan dan produktivitas petani meningkat.

