Seorang pianis asal Vietnam mengungkapkan keinginannya untuk terus berkontribusi bagi tanah air melalui seni, seiring rutinitasnya kembali tampil di Vietnam. Dalam kesempatan berbagi tersebut, ia menceritakan kecintaannya pada musik, tantangan yang dihadapi sepanjang perjalanan artistik, hingga harapannya menginspirasi generasi muda agar mencintai musik klasik.
Dalam penampilannya di Hanoi pada 8 Mei, ia membawakan 12 nomor dari “Transcendental Etudes” karya Franz Liszt—repertoar yang juga pernah ia bawakan pada 2022. Ia juga membawa rekaman CD dari keseluruhan karya yang sebelumnya dirilis oleh Ratte Records. Baginya, setiap kali kembali ke Vietnam untuk tampil selalu menghadirkan emosi yang berbeda.
Ia menyebut “Transcendental Etudes” sebagai tantangan besar bagi pianis mana pun, bahkan salah satu pencapaian paling luar biasa dalam sejarah piano. Menurutnya, tiap etude menghadirkan “dunia” tersendiri—mulai dari keindahan alam, legenda, kenangan, hingga kedalaman jiwa manusia. Pada penampilan kali ini, ia merasa sedang mengeksplorasi keindahan bunyi yang tajam dengan pemaknaan dan sisi artistik yang lebih dalam.
Meski telah memainkan karya tersebut berkali-kali di berbagai tempat, penampilan di Hanoi membuatnya sangat terharu. Ia menilai kedekatan dengan tanah air membuat pengalaman musikal itu terasa lebih dalam. Saat memainkan nada-nada terakhir, ia mengaku merenungkan pasang surut yang telah dilalui bangsanya, yang kemudian menguatkan semangatnya untuk berkontribusi melalui seni.
Ketika ditanya alasan ia meluangkan waktu untuk pulang dan tampil di Vietnam setiap tahun, ia menjawab berpegang pada prinsip “minum air dan mengingat sumbernya.” Kota kelahirannya, menurut dia, adalah tempat perjalanan artistiknya bermula. Ia juga menyebut Akademi Musik Nasional Vietnam sebagai tempat ia menerima pelatihan dasar, dibimbing para guru, dan membangun kecintaan mendalam pada musik.
Ia berharap bisa menghadirkan pertunjukan artistik yang berkualitas tinggi bagi publik di kota kelahirannya. Baginya, selama pendengar benar-benar tersentuh oleh musik yang ia mainkan, maka apa yang ia lakukan memiliki makna. Setiap kepulangan juga membuatnya merasakan kembali “kesakralan” kata Tanah Air, yang memberinya energi baru, kekuatan, empati, serta dorongan untuk terus berjuang meraih keberhasilan.
Mengenang awal perjalanannya, ia mengatakan lahir dari keluarga yang memiliki tradisi artistik. Sejak kecil, orang tuanya membimbingnya belajar piano dalam lingkungan yang cukup ketat namun penuh kasih. Ia menilai bakat tidak selalu tampak sejak usia dini; yang lebih menentukan adalah seberapa kuat kecintaan pada musik. Dalam pengalamannya, kecintaan itu tumbuh seiring waktu, hingga ia menyadari musik bukan sekadar profesi, melainkan cara hidup.
Ia juga mengakui perjalanan tersebut penuh tantangan—mulai dari kesepian, tekanan, hingga pengorbanan besar. Sebagian besar hidupnya, kata dia, didedikasikan untuk instrumennya, berlatih dalam berbagai keadaan emosi, termasuk saat kelelahan. Namun, ia merasa musik juga memberi kembali banyak hal berharga. Salah satu yang paling membahagiakan baginya adalah kekuatan musik untuk menghubungkan orang, ketika konser menjadi ruang pertemuan emosi antara artis dan penonton.
Terkait pengalamannya mengikuti dan memenangkan berbagai kompetisi internasional, ia menilai kompetisi penting pada masa muda untuk belajar tampil di panggung dan mengatasi tekanan. Namun seiring langkahnya semakin jauh, ia memandang kompetisi bukan soal menang dengan segala cara. Ia mengibaratkannya seperti stasiun kereta dalam perjalanan artistik—seberapa jauh seseorang melangkah bergantung pada aspirasi, disiplin, dan peningkatan diri. Ia menambahkan, juri tidak selalu hanya menilai hasil saat itu, tetapi juga potensi pertumbuhan seorang seniman. Karena itu, setiap kompetisi ia anggap sebagai “cermin” yang jujur untuk melihat posisinya dalam konteks dunia.
Pengalaman akademiknya, termasuk saat mengejar gelar PhD dengan beasiswa penuh di Selandia Baru, semakin menguatkan keyakinannya bahwa perjalanan artistik tidak memiliki batas. Ia mengatakan, mempelajari Liszt membuatnya memahami bahwa di balik kemegahan musik sang komponis terdapat kedalaman humanistik dan kepribadian yang besar, yang mendorongnya untuk terus menggali penelitian dan pertunjukan.
Ketika menilai perkembangan pendidikan musik klasik bagi generasi muda di Vietnam, ia melihat kekuatan pada aspek teknik dan fondasi. Menurutnya, banyak anak muda kini menerima pelatihan yang menyeluruh. Namun, untuk menjadi seniman sejati, pelajar juga perlu mengembangkan pemikiran independen dan suara personal. Seni, katanya, tidak cukup berhenti pada memainkan nada dengan tepat; yang penting adalah memahami apa yang ingin disampaikan melalui musik.
Ia menilai generasi muda saat ini memiliki banyak kesempatan untuk terhubung dengan dunia. Hal yang paling penting, menurutnya, adalah mempertahankan ketekunan, disiplin, dan kecintaan yang tulus terhadap seni. Ia pun berharap program-program yang ia buat saat kembali ke Vietnam dapat menginspirasi anak muda pecinta musik, sehingga mereka percaya bahwa orang Vietnam dapat melangkah ke dunia luar dengan bakat, keberanian, dan kerja keras.