Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulawesi Tenggara, Jaelani, membuka kegiatan Pendidikan Kader Loyalis yang diselenggarakan Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Kolaka Utara pada Minggu (8/2/2026).
Dalam arahannya, Jaelani menegaskan pendidikan kader tersebut tidak dimaksudkan sebagai rutinitas organisasi semata, melainkan langkah strategis untuk memperkuat basis partai di Sulawesi Tenggara. Ia juga menginstruksikan agar seluruh mesin partai bergerak dalam satu visi yang solid.
“Kaderisasi ini bukan rutinitas organisasi. Ini adalah kerja serius untuk membangun kekuatan partai yang terstruktur, masif, dan berpijak pada kebutuhan masyarakat,” kata Jaelani dalam keterangan tertulis.
Di hadapan para kader, Jaelani menekankan tiga poin yang diminta menjadi pedoman bagi simpatisan dan pengurus PKB. Pertama, konsolidasi struktur tanpa celah. Ia menilai seluruh struktur partai harus terkonsolidasi secara total, mulai dari tingkat DPW, DPC, hingga ranting di desa atau kelurahan. Menurutnya, kekuatan PKB bertumpu pada soliditas koordinasi di setiap tingkatan.
“Strategi sehebat apa pun akan rapuh jika tidak sistematis, tidak masif, dan tidak menyentuh basis rakyat. PKB harus dibangun dari bawah, bukan hanya mengandalkan momentum elektoral,” ujarnya.
Poin kedua adalah manifestasi “politik kehadiran”. Jaelani meminta kader tidak hanya muncul pada saat momentum elektoral, melainkan hadir secara konsisten di tengah masyarakat. Ia mendorong agar politik kehadiran menjadi identitas gerakan sosial-politik PKB.
Menurut Jaelani, politik kehadiran harus diwujudkan dengan cara mendengarkan keluhan warga dan memberikan solusi nyata dalam kehidupan sehari-hari. “Artinya, kader harus selalu hadir di tengah masyarakat, mendengarkan keluhan, dan memberikan solusi nyata dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ia menegaskan politik kehadiran bukan sekadar slogan. Kader diminta berada di desa-desa dan rumah-rumah warga untuk mendengar langsung persoalan yang dihadapi masyarakat serta ikut mencarikan jalan keluar. “Kita harus membuka diri untuk terus memperjuangkan kepentingan masyarakat,” ucapnya.
Poin ketiga yang disampaikan Jaelani adalah intervensi kebijakan yang pro-rakyat. PKB, kata dia, berkomitmen memberi pengaruh terhadap kebijakan publik, baik di tingkat eksekutif maupun legislatif. Kader yang berada di pemerintahan diminta memastikan setiap kebijakan berpihak pada kemaslahatan umat.
Jaelani menutup arahannya dengan menegaskan pentingnya peran PKB agar dirasakan masyarakat setiap saat. “PKB harus menjadi partai yang dirasakan keberadaannya setiap saat. Politik kehadiran adalah kunci agar kita tetap mendapat kepercayaan dari rakyat Sultra,” ujarnya.

