BERITA TERKINI
Plt Kadisbud Bali Ajak Warga Kembali Memaknai Sastra Bali Lewat Budaya Membaca

Plt Kadisbud Bali Ajak Warga Kembali Memaknai Sastra Bali Lewat Budaya Membaca

DENPASAR – Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia, mengajak masyarakat Bali kembali menumbuhkan kecintaan terhadap sastra Bali sebagai warisan luhur yang memuat filosofi, nilai moral, dan tuntunan hidup.

Menurut Wesnawa Punia, sastra Bali tidak hanya hadir melalui pertunjukan seni, tetapi juga perlu digiatkan lewat budaya membaca karya sastra tradisional. Dengan cara itu, pesan-pesan kehidupan di dalamnya dapat lebih dipahami dan dihayati, terutama oleh generasi muda.

Pernyataan tersebut disampaikan usai ia menyaksikan sasolahan “Japatuan ka Suargan” yang dibawakan Sanggar Seni KOKAR Bali SMKN 3 Sukawati dalam Pembukaan Bulan Bahasa Bali VIII di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Minggu (1/2/2026).

Festival bahasa, aksara, dan sastra Bali itu dibuka secara resmi oleh Gubernur Bali I Wayan Koster. Pembukaan ditandai dengan simbol kepompong menjadi kupu-kupu, kemudian dilanjutkan pementasan sasolahan kolosal yang tidak hanya menonjolkan aspek artistik, tetapi juga memuat pesan moral.

Garapan seni yang melibatkan sekitar 90 seniman muda dari unsur tari, karawitan, dan pedalangan tersebut dinilai memukau. Melalui alur cerita Japatuan, pesan-pesan kehidupan disampaikan secara halus dan kreatif, menyatu dalam pertunjukan tanpa terasa menggurui. Salah satu pesan yang ditekankan adalah larangan memaksakan kehendak untuk mengakhiri hidup, yang disebut menjadi refleksi atas maraknya kasus bunuh diri di kalangan generasi muda belakangan ini.

“Di sana ada fragmentasi kehidupan nyata yang dikolaborasikan dengan lakon dan peran. Harapannya, pesan itu dapat terimplementasi dan memotivasi krama Bali bahwa begitulah pola kehidupan yang sesungguhnya,” ujar Wesnawa Punia.

Ia menegaskan makna kehidupan tercermin jelas dalam adat, tradisi, dan budaya Bali. Melalui Bulan Bahasa Bali, masyarakat diajak kembali mencermati filosofi hidup yang berakar pada seni dan budaya. “Itulah kata kunci dari Bulan Bahasa Bali yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Bali,” katanya.

Terkait isu sosial seperti meningkatnya kasus bunuh diri, Wesnawa Punia yang juga menjabat Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Provinsi Bali menyampaikan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif. Salah satunya dengan memaksimalkan peran Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali di Bangli yang memiliki tenaga konseling profesional.

“Isu bunuh diri, khususnya di kalangan remaja dan pelajar, bisa dikolaborasikan dengan tenaga konseling yang ada. Dari hasil penelusuran, sebagian besar kasus dipicu oleh tekanan sosial, perubahan gaya hidup, dan faktor ekonomi,” jelasnya.

Wesnawa Punia berharap momentum Bulan Bahasa Bali dapat menjadi pintu masuk untuk mengetuk kesadaran masyarakat agar kembali ke sastra Bali. Melalui berbagai fragmentasi seni sepanjang Februari, pesan-pesan kehidupan diharapkan menjadi cerminan dan sesuluh agar kehidupan masyarakat Bali dapat ditata lebih baik. Ia menegaskan, selama adat dan budaya yang bernilai agung tetap dijaga, Bali akan tetap kokoh.