Perkembangan Kota Batu yang kian pesat mendorong pembangunan tumbuh cepat. Di satu sisi, hal ini memberi dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Namun di sisi lain, laju pembangunan juga dinilai memicu bencana ekologis.
Merespons situasi tersebut, para perupa yang tergabung dalam Pondok Seni Batu menggelar pameran bertajuk Garis Hijau di Galeri Raos, Kota Batu. Pameran ini berlangsung pada 10–31 Januari 2026 dan menghadirkan ajakan dialog kreatif mengenai masa depan lingkungan di tengah pembangunan Kota Batu yang masif.
Ketua Yayasan Pondok Seni Batu, Watoni, mengatakan pameran tahun ini diikuti 47 perupa yang seluruhnya merupakan anggota Pondok Seni Batu. Tema lingkungan dipilih sebagai wujud kepedulian seniman terhadap kondisi ekologis, khususnya di wilayah Kota Batu.
“Ini adalah agenda tahunan yang diinisiasi Pondok Seni Batu dengan menghadirkan karya seni dua dimensi dan tiga dimensi. Seluruh karya merefleksikan dinamika perubahan ruang serta tekanan pembangunan terhadap lingkungan hidup,” ujar Watoni.
Ia menjelaskan, Garis Hijau merupakan respons atas perubahan lingkungan yang semakin terasa akibat alih fungsi lahan dan pembangunan yang masif. Melalui karya-karya yang dipamerkan, para seniman ingin mendorong masyarakat agar lebih bijak dalam memperlakukan alam.
“Karya-karya seniman Pondok Seni Batu adalah bentuk respons mereka terhadap kondisi lingkungan, khususnya di Kota Batu. Setidaknya, pameran ini menjadi bagian dari kampanye tentang bagaimana kita memperlakukan alam agar tetap terjaga,” katanya.
Secara konseptual, pameran ini juga mengangkat narasi pergeseran identitas Kota Batu dari kota agraris menjadi kota wisata. Para seniman menilai transformasi tersebut membawa konsekuensi ekologis, seperti meningkatnya urbanisasi, menyusutnya ruang hijau, serta ketegangan antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan.
“Jadi puluhan karya dalam pameran ini tidak hanya merekam realitas tersebut. Tetapi juga menggugat dan mengajak publik untuk merefleksikannya,” ungkap Watoni.
Pameran ini turut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni. Ia menilai seni dapat menjadi medium efektif untuk menumbuhkan kesadaran ekologis di tengah masyarakat.
“Seni tidak selalu datang untuk menjawab. Ia hadir sebagai medium untuk mencatat, merasakan dan membuka percakapan. Atau mungkin, sekadar mengajak kita berhenti, melihat, dan bertanya bersama,” kata Dian.
DLH Kota Batu menyatakan dukungan terhadap Garis Hijau sebagai ruang refleksi tentang kota, ruang hidup, dan pilihan-pilihan yang sedang dijalani, sekaligus memaknai kembali hubungan manusia dengan alam. Menurutnya, isu lingkungan terlalu besar jika dikerjakan sendiri-sendiri.
“Jika kota ini milik kita semua, maka masa depannya pun layak dibicarakan bersama. Semoga kegiatan seperti ini dapat menjadi langkah bersama untuk terus menjaga semangat berekologis. Saya yakin selalu ada kisah-kisah inspiratif dalam setiap pilihan kita untuk hidup lebih ramah lingkungan,” pungkasnya.

