BERITA TERKINI
PP ‘Aisyiyah: Dakwah Seni Budaya Harus Berpijak pada Islam Wasathiyah dan Keagungan Akhlak

PP ‘Aisyiyah: Dakwah Seni Budaya Harus Berpijak pada Islam Wasathiyah dan Keagungan Akhlak

YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, menegaskan bahwa dakwah melalui seni dan budaya di lingkungan ‘Aisyiyah harus berfondasi pada Islam wasathiyah serta keagungan akhlak.

Penegasan itu disampaikan Noordjannah saat memberikan pengarahan dalam kegiatan Inspirasi ‘Aisyiyah yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) PP ‘Aisyiyah melalui Zoom Meeting, Sabtu (17/1/26).

Menurut Noordjannah, kepentingan dakwah seni budaya ‘Aisyiyah perlu diperluas dengan tetap mengedepankan sikap wasathiyah dan akhlak yang kuat. Ia menilai kreativitas manusia memiliki batas yang mesti dijaga, yakni akhlak.

“Boleh mengkritik lewat seni, namun yang harus dikuatkan adalah kebaikan. Karena ‘Aisyiyah itu mengedepankan praktik baik,” kata Noordjannah.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Lembaga Budaya Seni dan Olahraga (LBSO) PP ‘Aisyiyah yang baru-baru ini menyelenggarakan Festival Seni Budaya ‘Aisyiyah (FESIBA). Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan upaya menyiarkan dakwah seni budaya di tengah kemajuan teknologi.

Noordjannah mendorong ‘Aisyiyah untuk memanfaatkan teknologi sebagai ruang syiar kebaikan. Ia menilai, di era digital, hal yang ramai dibicarakan tidak selalu terkait kebaikan, melainkan sesuatu yang menarik perhatian, bahkan bisa berupa informasi keliru.

“Sehingga kita harus mengisi ruang teknologi dengan dakwah kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dikenal dengan prinsip sedikit bicara banyak bekerja, hal itu bukan berarti memilih diam. Menurutnya, yang ditekankan adalah menyampaikan hal-hal baik yang mendorong kemajuan dan pencerahan.

Menanggapi dakwah melalui seni dan budaya, Noordjannah menegaskan Muhammadiyah tidak anti seni dan budaya. Ia menyebut, dalam pandangan Tarjih terdapat dalil yang kuat, namun praktik seni budaya di sejumlah tempat dapat menjadi “dua mata pisau”: di satu sisi menunjukkan kreativitas, tetapi di sisi lain masih berpotensi bersinggungan dengan praktik Tahayul, Bid’ah, dan Churafat (TBC).

Ia merujuk pada Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) yang menyatakan seni budaya perlu selaras dengan nilai Islam berkemajuan. Karena itu, dalam konteks wasathiyah, ia meminta LBSO mendalami landasan tersebut agar seni budaya tidak lepas dari ajaran agama.

Noordjannah juga menyampaikan keprihatinan terhadap praktik membesar-besarkan anggaran atas nama merawat budaya, sementara persoalan kehidupan bermasyarakat—seperti kemiskinan dan kelompok rentan—dinilai lebih mendesak untuk diprioritaskan.

“Bahwa nilai tauhid harus jadi fondasi. Bagaimana kita bisa mengendalikan TBC dengan cara bil hikmah wal mauidhah hasanah,” ucapnya.

Ia turut menyoroti masih adanya praktik sunat perempuan yang menurutnya memerlukan biaya, padahal tidak disyariatkan dalam Islam. Noordjannah menilai, tekanan sosial kerap membuat praktik tersebut dianggap sebagai bagian dari identitas lingkungan, sehingga perlu kajian agar dapat direinterpretasi sesuai nilai Islam.

Melalui kegiatan Inspirasi ‘Aisyiyah, Noordjannah mengajak semua pihak untuk berdiskusi, termasuk bagi Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) yang memiliki kegelisahan terkait dakwah seni budaya. Ia menyarankan konsultasi dengan Majelis Tabligh dan Ketarjihan.

Ia menekankan pentingnya memperkuat kajian dengan mengamati perkembangan seni budaya sekaligus meneguhkan landasan nilai tauhid. Menurutnya, hal tersebut diperlukan agar dakwah seni budaya tetap berada dalam koridor nilai dan tidak memunculkan anggapan bahwa ‘Aisyiyah melampaui batas.

Di akhir pengarahan, Noordjannah berharap dakwah seni budaya ‘Aisyiyah dapat menjadi upaya mengasah budi pekerti, memperhalus budi, menumbuhkan toleransi, serta mendorong inklusivitas. Ia juga menyebut pentingnya berpijak pada nilai bayani, burhani, dan irfani.

“Tidak ada aktivitas Muhammadiyah dan Aisyiyah ini yang tidak bersumber dari nilai. Maka revitalisasi ini harus dikuatkan di banyak tempat. Sembari menggali seni budaya di daerah untuk kepentingan dakwah yang luas, maka wasathiyah dan akhlak yang kuat harus tetap menjadi perhatian,” pungkasnya.