Produksi aluminium China mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada 2025, bahkan melampaui batas kapasitas nasional, sementara produksi baja justru turun ke posisi terendah dalam tujuh tahun. Perbedaan arah ini menegaskan prospek yang kontras bagi dua logam yang paling banyak digunakan tersebut.
Berdasarkan data biro statistik yang dirilis pada Senin, produksi aluminium China pada 2025 naik 2,4% menjadi 45,02 juta ton. Kenaikan ini melanjutkan tren peningkatan tahunan yang terjadi sepanjang dekade ini. Untuk periode Desember 2025, produksi aluminium tercatat mencapai rekor bulanan 3,87 juta ton.
Di sisi lain, produksi baja tahunan China pada 2025 turun 4,4% menjadi 961 juta ton. Angka ini membuat produksi baja berada di bawah 1 miliar ton untuk pertama kalinya sejak 2019. Produksi pada Desember tercatat 68,2 juta ton, yang disebut sebagai level terendah dalam dua tahun.
Perbedaan kinerja kedua komoditas tersebut dikaitkan dengan arah kebutuhan industri. Transisi energi yang dipimpin China dinilai sangat bergantung pada aluminium, karena logam ringan ini banyak digunakan untuk energi terbarukan, saluran listrik, serta rangka kendaraan listrik. Sementara itu, baja merupakan material utama konstruksi, sektor yang terdampak krisis properti berkepanjangan di negara tersebut.

