Puisi pilihan pekan ini menampilkan dua karya Mohamad Baihaqi Alkawy berjudul “Garis Tangan Cabang Tiga” dan “Kecubung”. Keduanya tidak hanya bertumpu pada pengalaman personal, melainkan juga membuka pembacaan tentang sejarah yang terbelah.
Melalui dua puisi tersebut, tema yang disinggung mencakup jejak kekerasan politik, kolonialisme, serta penghapusan narasi rakyat dalam historiografi resmi. Alih-alih menyatakannya secara gamblang, penyair menyusun lapisan makna lewat rangkaian metafora.
Metafora tanah, akar, logam, dan tubuh menjadi perangkat utama yang mengikat pengalaman individual dengan ingatan kolektif. Dengan cara itu, sejarah dihadirkan bukan sebagai catatan yang jauh, melainkan sebagai sesuatu yang terasa dekat—biologis sekaligus geologis—seakan melekat pada tubuh dan lanskap tempat manusia berpijak.

