BERITA TERKINI
Quoc Thinh Masuk 5 Besar Mai Vang, Tetap Gugup Jelang Malam Penghargaan 29 Januari

Quoc Thinh Masuk 5 Besar Mai Vang, Tetap Gugup Jelang Malam Penghargaan 29 Januari

Menjelang penutupan pemungutan suara Penghargaan Mai Vang yang tinggal empat hari lagi dan upacara penghargaan pada 29 Januari di Teater Kota Ho Chi Minh, para seniman disebut masih belum yakin siapa yang akan resmi dinobatkan sebagai penerima penghargaan. Seniman Quoc Thinh pun mengaku merasa gugup.

Tahun ini, nama-nama pilihan publik dinilai belum benar-benar bisa ditebak. Karena itu, posisi sementara tidak sekadar angka, melainkan menjadi gambaran ketatnya persaingan dan perjalanan panjang para pelaku seni yang terus berkarya. Bagi Quoc Thinh, saat mengetahui dirinya masuk 5 besar, respons pertamanya bukan euforia, melainkan kebanggaan profesional.

“Ini membuat saya merasa bahwa kegiatan artistik saya diperhatikan oleh pers dan para profesional. Saya bangga berada di 5 besar dalam penghargaan bergengsi yang telah ada selama 31 tahun, Penghargaan Mai Vang,” kata Quoc Thinh.

Seniman Rakyat Viet Anh turut memberi penilaian atas sosok Quoc Thinh. Ia menyebut Quoc Thinh menawan, kreatif, dan mampu mengendalikan situasi di panggung. Dengan pengalaman di berbagai panggung serta pemahaman atas banyak gaya dan tren penulisan lagu maupun penyutradaraan, Quoc Thinh dinilai tahu cara menyampaikan humor pada waktu yang tepat. Pengetahuan penulisan naskah juga dianggap menjadi keunggulan karena membantunya menggunakan bahasa komedi yang pas tanpa berlebihan, sehingga penonton menikmati penampilannya dan mengingatnya.

Salah satu penampilan Quoc Thinh yang belakangan paling berkesan bagi penonton adalah perannya sebagai Ba Ta Lon, karakter yang humoris sekaligus realistis dalam drama Everyone Keeps Their Own Soul di Teater IDECAF. Ia mengungkapkan bahwa karakter itu tidak lahir dari meja tulis atau ruang latihan, melainkan dari pengalaman sehari-hari.

Quoc Thinh bercerita, saat ia sedang minum kopi di Pasar Cay Queo, seorang lelaki tua berambut putih dengan alis panjang mendatanginya untuk menawarkan tiket lotre. Lelaki itu berbicara Mandarin terbata-bata dan sambil berjualan, ia bercerita tentang berbagai hal, mulai dari perebutan tempat berjualan, kecemburuan, hingga kabar baru saja menjual rumah. Dari suara dan pesona alami itulah, Quoc Thinh menangkap citra yang kemudian membentuk Ba Ta Lon—dengan rambut abu-abu disanggul, alis panjang, serta suara beraksen—sebuah karakter yang terasa dekat dengan kehidupan pasar dan keseharian orang biasa.

Di luar urusan penghargaan, Quoc Thinh juga menyebut tahun 2026 diperkirakan akan menjadi periode yang padat. Ia berencana terus berlatih dan mementaskan drama-drama baru untuk berbagai teater. Setelah pementasan Lost yang ia sutradarai bersama di Teater Panggung Kecil Kota Ho Chi Minh (5B Vo Van Tan), ia akan menyutradarai pementasan kelulusan untuk kelas akting yang dia ajar di Sekolah Tinggi Kebudayaan dan Seni Kota Ho Chi Minh. “Menyelesaikan semua itu mungkin akan memakan waktu setahun penuh,” ujarnya.

Pengalaman lain yang disebut meninggalkan kesan mendalam adalah tur awal 2025 ke Korea Selatan melalui drama Comrade, di mana ia tampil sebagai aktor sekaligus menjadi sutradara bersama Seniman Rakyat Tran Ngoc Giau. Diundang ke Festival Teater Busan disebutnya sebagai kebanggaan. Quoc Thinh menilai ada kesamaan tradisi teater kedua negara, terutama dalam merayakan identitas budaya, keberadaan aktor-aktor berbakat, dan karakter yang meyakinkan. Ia juga menekankan nilai pembelajaran timbal balik untuk menutup kekurangan dan membuka peluang kolaborasi artistik di masa depan.

Pada libur Tet kali ini, Quoc Thinh tetap aktif tampil di panggung melalui sejumlah produksi di Teater IDECAF, antara lain Desa Pencuri, Everyone Keeps Their Own Soul, dan Jenderal Le Van Duyet. Ia juga terlibat dalam pertunjukan drama Tet di Teater Drama Kota Ho Chi Minh serta berbagai perayaan seni musim semi bagi masyarakat di sejumlah wilayah kota.

Di tengah jadwal yang padat, ia memandang kesempatan tampil pada awal tahun sebagai kegembiraan tersendiri bagi seniman—ruang untuk bertemu penonton ketika kebutuhan akan seni, tawa, dan kebersamaan terasa menghangat.

Berbicara tentang Penghargaan Mai Vang yang telah berjalan 31 tahun, Quoc Thinh menyampaikan harapan agar ajang ini terus menghadirkan kejutan dan daya tarik bagi pemirsa. Ia juga berharap penghargaan tersebut menjadi pendorong untuk menjaga semangat berkarya para seniman, sehingga mereka terus menciptakan peran-peran baru untuk melayani masyarakat.

Dengan waktu yang tersisa empat hari hingga penutupan pemungutan suara, pertanyaan mengenai apakah Quoc Thinh akan dinobatkan sebagai pemenang pada malam 29 Januari masih terbuka. Namun di luar hasil akhir, sorotan utama tetap pada kepercayaan penonton dan pengakuan atas perjalanan panjang seorang seniman yang terus menabur tawa dari kehidupan serta tak berhenti mencari cara baru bercerita di atas panggung.