Rencana Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menggelar pacuan kuda tradisional untuk memeriahkan HUT Kuta Takengon ke-449 menuai sorotan di tengah kondisi warga yang masih berjuang setelah bencana banjir bandang dan longsor. Sejumlah warga dan tokoh muda menilai kegiatan tersebut tidak sejalan dengan kebutuhan mendesak masyarakat yang terdampak.
Kepala Dinas Pariwisata Aceh Tengah, Erwin Pratama, menyatakan event pacuan kuda dijadwalkan digelar sebelum Idul Adha. Menurutnya, persiapan sudah berjalan melalui rapat koordinasi, dan saat ini menunggu proses administrasi teknis serta tender.
Erwin menyebut total anggaran kegiatan mencapai Rp480 juta dan akan dikelola pihak ketiga setelah proses lelang rampung. Ia menegaskan pacuan kuda dimaksudkan sebagai ruang “trauma healing” bagi masyarakat, sekaligus mendorong perputaran ekonomi lokal. Selain itu, pelaksanaan sebelum Idul Adha disebut sebagai upaya menghindari benturan dengan agenda nasional seperti peringatan 17 Agustus.
Namun di sisi lain, sebagian warga terdampak menyatakan kesulitan untuk memikirkan hiburan ketika kebutuhan dasar dan rasa aman belum pulih. Khairuddin Aman Alfi, warga Dedamar, Bintang, Aceh Tengah, mengatakan masyarakat masih bertahan dalam kondisi serba sulit. “Bagaimana kami mau menonton pacuan kuda. Untuk makan saja susah. Kami bertahan hidup dalam bayang-bayang maut,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Haikal, petani kopi yang mengaku harus menempuh jalur berlumpur dan sulit akibat akses jalan yang terputus. Ia menyebut warga terpaksa memanggul hasil kebun melewati medan berat, termasuk melintasi kayu gelondongan di antara serakan lumpur.
Aman Nisa, warga yang berkebun di kawasan Kemenyen Bintang, juga menceritakan risiko yang dihadapi untuk mendapatkan kopi. Ia menyebut warga harus melintasi sungai berarus deras, bahkan sepeda motor sempat terseret arus. Menurutnya, kondisi itu terpaksa dijalani agar tidak kelaparan.
Sejumlah petani menilai anggaran pacuan kuda akan lebih bermakna bila dialihkan untuk membantu pemulihan pascabencana, seperti membuka akses jalan dan membersihkan lumpur. Aman Nawar, petani yang kerap bergotong royong membersihkan dampak bencana, mengatakan alat berat akan sangat membantu kerja warga. Ia menyebut upaya gotong royong kerap kembali sia-sia ketika banjir susulan datang.
Kritik juga datang dari tokoh muda Gayo, Edi Syahputra Linge. Ia menilai rencana pacuan kuda dengan anggaran Rp480 juta tidak mencerminkan kepekaan kemanusiaan di tengah situasi bencana. Edi mempertanyakan klaim “trauma healing” yang disampaikan Dinas Pariwisata dan menilai alasan tersebut tidak masuk akal.
Menurut Edi, penggunaan anggaran tersebut dinilai tidak tepat sasaran dan seharusnya dialihkan untuk langkah darurat serta antisipasi bencana, mengingat curah hujan masih tinggi. Ia menyoroti kondisi belasan ruas jalan yang masih tertimbun longsor, akses warga yang terputus, serta genangan air yang masih merendam permukiman.
Edi juga menyinggung kondisi pengungsian yang disebut memprihatinkan, termasuk hunian sementara yang belum rampung dan bantuan yang belum merata. Ia meminta Bupati Aceh Tengah bertindak tegas dan mendesak agar kegiatan pacuan kuda dibatalkan.
Hingga berita ini diturunkan, kritik dan kecaman terhadap rencana pacuan kuda tersebut dilaporkan terus mengalir, termasuk di ruang-ruang percakapan dunia maya.