Sejumlah riset mencoba menjelaskan mengapa sebagian orang cenderung menolong sesama dan gemar bersedekah. Salah satunya studi peneliti International School for Advanced Studies di Trieste dan University of Udine, Italia, yang menelusuri asal-usul altruisme di otak manusia. Altruisme dipahami sebagai perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa mengutamakan diri sendiri. Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Neuropsychologia edisi Februari 2017.
Dalam temuan itu, individu yang dinilai altruistik disebut memiliki insula anterior kanan yang lebih besar dibandingkan orang non-altruistik. Bagian otak ini berperan dalam pengolahan emosi sosial dan membantu kesadaran terhadap rangsangan tubuh, termasuk kemampuan menghitung detak jantung sendiri. Insula anterior kanan juga terkait dengan kontrol tekanan darah, khususnya selama dan setelah aktivitas fisik.
Peneliti utama Giorgia Silani menyatakan bahwa kasih sayang ikut memotivasi perilaku menolong dan otak memainkan peran yang kompleks dalam proses tersebut.
Selain studi tersebut, berbagai penelitian lain turut menggambarkan kemungkinan alasan orang terdorong membantu orang lain dan bersedekah. Berikut 10 poin yang kerap disebut dalam riset-riset terkait.
1. Memunculkan rasa bahagia. Studi pencitraan otak oleh National Institute of Health menunjukkan pusat kesenangan di otak dapat aktif ketika seseorang melihat orang lain bersedekah.
2. Lebih membahagiakan dibanding membeli sesuatu untuk diri sendiri. Eksperimen Michael Norton yang dipublikasikan di jurnal Science menyimpulkan orang cenderung lebih bahagia saat bersedekah dibanding membeli sesuatu untuk dirinya. Elizabeth Dunn juga melaporkan temuan serupa pada anak usia dua tahun.
3. Dipandang lebih atraktif. Dalam studi mengenai preferensi kencan, baik perempuan maupun laki-laki menilai sikap baik hati sebagai salah satu kunci utama.
4. Membuat orang lain merasa penting. Jonathan Haidt dari University of Virginia menemukan bahwa memberi perhatian kepada orang di sekitar dapat membuat mereka merasa penting dan dibutuhkan.
5. Kebaikan dapat menular. James Fowler dari UC San Diego dan Nicolas Christakis dari Harvard mendemonstrasikan bahwa kemurahan hati bisa menyebar kepada orang lain.
6. Berkaitan dengan kesehatan yang lebih baik. Sejumlah studi menunjukkan orang yang membantu sesama dan memiliki relasi sosial yang baik cenderung lebih sehat dibanding mereka yang menyendiri.
7. Membantu keluar dari rasa cemas. Menolong orang lain saat seseorang merasa cemas disebut dapat membantu mengurangi kecemasan tersebut.
8. Welas asih disebut sebagai sifat alamiah. Studi Michael Tomasello menyimpulkan welas asih merupakan sifat alamiah manusia. Temuan Dale Miller dan Stanford Business School menyatakan kecenderungan ini juga terlihat pada orang dewasa.
9. Memberi sensasi memiliki lebih banyak waktu. Zoe Chance menemukan bahwa orang yang meluangkan waktu untuk menjadi sukarelawan kerap merasa memiliki lebih banyak waktu luang dan uang.
10. Berdampak baik bagi lingkungan. Menjadi orang baik disebut tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga orang lain, lingkungan, dan dunia.
Rangkaian temuan ini menunjukkan perilaku menolong dan bersedekah dapat terkait dengan faktor biologis di otak, dorongan emosional, serta dampak sosial yang meluas. Meski begitu, riset-riset tersebut menekankan bahwa peran otak dan kasih sayang dalam perilaku menolong bersifat kompleks.

