BERITA TERKINI
Riset: Musik Bertempo Tinggi seperti Rock dan EDM Bisa Memicu Agresivitas Pengendara

Riset: Musik Bertempo Tinggi seperti Rock dan EDM Bisa Memicu Agresivitas Pengendara

Mendengarkan musik saat berkendara jarak jauh kini menjadi kebiasaan banyak pengendara roda dua. Dukungan perangkat komunikasi helm atau intercom membuat pengendara lebih mudah memutar lagu untuk mengusir bosan selama perjalanan.

Namun, musik yang diputar di dalam helm tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Pilihan genre dan tempo dapat memengaruhi kondisi psikologis dan cara seseorang berkendara. Sejumlah temuan riset menunjukkan, tempo tertentu dapat mendorong perilaku lebih agresif, sementara tempo lain justru membantu menjaga ketenangan dan stabilitas tubuh.

Musik bertempo tinggi dikaitkan dengan perilaku lebih agresif

Sejumlah pengendara kerap memilih musik berenergi tinggi seperti Rock, Metal, atau Electronic Dance Music (EDM) untuk melawan kantuk. Namun, riset psikologi transportasi dari South China University of Technology menyebutkan bahwa musik dengan tempo di atas 120 Beats Per Minute (BPM) dapat memengaruhi alam bawah sadar sehingga pengendara cenderung lebih agresif.

Dalam riset tersebut, ketukan cepat disebut dapat merangsang pelepasan adrenalin secara berlebihan. Dampaknya, pengendara berpotensi lebih mudah melampaui batas kecepatan dan melakukan manuver berisiko tanpa disadari. Kondisi ini juga dikaitkan dengan meningkatnya stres emosional serta ketegangan otot.

Tempo lambat dinilai membantu menjaga stabilitas

Sebaliknya, untuk menjaga kondisi lebih stabil saat perjalanan harian maupun touring, musik dengan tempo lebih pelan disebut lebih ideal. Rujukannya adalah ketukan yang konsisten dan mendekati detak jantung normal saat beristirahat, yakni sekitar 60 hingga 80 BPM.

Genre seperti Lofi Hip-Hop dan Synthwave bertempo lambat disebut dapat membantu meredam stres. Alunan yang repetitif dan menenangkan dinilai mendukung kestabilan tekanan darah serta mengurangi risiko kelelahan mental dini. Efeknya, pengendara dapat lebih tenang ketika menghadapi kemacetan atau situasi jalan yang memicu emosi.

Ritme berkendara lebih konstan dan hemat energi

Menjaga detak jantung tetap stabil melalui musik bertempo 60–80 BPM juga dikaitkan dengan ritme berkendara yang lebih halus. Musik bertempo lambat dinilai dapat membantu pengendara membuka gas secara lebih terukur, melakukan pengereman lebih lembut, dan menjaga kecepatan lebih konstan.

Ritme yang stabil ini berpotensi mengurangi ketegangan otot, terutama pada bahu, punggung, dan pergelangan tangan, karena tubuh tidak dipaksa menegang terus-menerus. Dalam uraian tersebut, tubuh yang lebih rileks juga dikaitkan dengan minimnya produksi hormon kortisol atau hormon stres, yang disebut berperan dalam penuaan dini dan penurunan daya tahan tubuh.

Dengan demikian, pemilihan tempo dan genre musik saat berkendara bukan sekadar soal selera, tetapi juga dapat berpengaruh pada kenyamanan serta perilaku di jalan.