BERITA TERKINI
Riset Psikologi: Mayoritas Orang Mampu Tumbuh Setelah Trauma, Sejalan dengan Gagasan ‘Kemerdekaan Batin’

Riset Psikologi: Mayoritas Orang Mampu Tumbuh Setelah Trauma, Sejalan dengan Gagasan ‘Kemerdekaan Batin’

Berbagai orang mungkin tidak pernah mengalami situasi ekstrem seperti penjara, kamp konsentrasi, genosida, atau pengasingan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, banyak individu tetap menghadapi momen ketika keadaan seolah merampas hal yang berharga—mulai dari kesehatan, hubungan, karier, hingga impian.

Dalam kondisi semacam itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah kebahagiaan dan rasa merdeka akan sepenuhnya ditentukan oleh situasi eksternal, atau masih ada ruang bagi seseorang untuk memilih responsnya—tetap mencari makna, mempertahankan belas kasih, dan menebar kebaikan meski sedang menderita.

Sejumlah temuan penelitian psikologi positif yang dirangkum dalam esai ini menyatakan bahwa kemampuan untuk bertahan dan bahkan berkembang setelah mengalami peristiwa berat bukanlah hal langka. Data yang dikutip menunjukkan sekitar 58–83% penyintas dari berbagai trauma melaporkan pertumbuhan pasca-trauma—bukan sekadar pulih, melainkan mengalami perkembangan melampaui kondisi awal.

Ringkasan penelitian yang disertakan juga menekankan tiga hal utama. Pertama, pengendalian diri disebut dapat dipelajari dan diperkuat, sehingga dipandang sebagai keterampilan, bukan semata bakat bawaan. Kedua, pengampunan dipaparkan sebagai pilihan yang dapat membawa manfaat terukur bagi kesehatan mental dan kebahagiaan. Ketiga, pencarian makna dalam penderitaan dinilai membuka jalan bagi pertumbuhan yang mendalam.

Dalam salah satu rangkuman riset (2024), pengendalian diri dilaporkan memiliki hubungan kuat dan konsisten dengan berbagai parameter kebahagiaan seperti kepuasan hidup, perasaan positif, dan pengalaman makna hidup. Temuan ini menempatkan penguasaan diri sebagai faktor penting dalam kesejahteraan jangka panjang.

Riset lain mengenai pengampunan spiritual dan pengampunan diri (2024) yang melibatkan total 880 partisipan (dua studi terpisah) menyebut pengampunan spiritual berkorelasi positif dengan pengampunan diri, dengan pengendalian diri berperan sebagai mediator. Dalam ringkasan itu juga dicatat bahwa pengalaman masa kecil yang penuh ketidakpastian berkorelasi negatif dengan pengampunan diri.

Adapun rangkuman studi tentang pengampunan dan kebahagiaan subjektif (2023–2024) pada kelompok partisipan muda (studi terpisah pada 306 dan 330 partisipan) melaporkan hubungan positif antara pengampunan dan kebahagiaan. Mekanisme yang disampaikan adalah: meningkatnya pengampunan diikuti penurunan reaktivitas emosional, yang kemudian berkaitan dengan meningkatnya kebahagiaan. Pengampunan juga disebut menurunkan keinginan untuk balas dendam.

Selain itu, ringkasan riset mengenai pertumbuhan pasca-trauma menjelaskan bahwa proses pertumbuhan dapat bermula ketika struktur kognitif seseorang “runtuh” akibat tekanan, lalu dibangun kembali dengan dukungan sumber daya psikologis positif. Dalam paparan tersebut, tekanan dan dukungan dipandang sama-sama berkontribusi terhadap pertumbuhan.

Di sisi lain, esai ini mengaitkan temuan sains modern dengan gagasan “kemerdekaan batin” yang sering muncul dalam refleksi tokoh-tokoh lintas zaman. Dikutip sejumlah pernyataan, antara lain dari Anicius Manlius Severinus Boethius yang menekankan kebahagiaan sejati pada kebajikan yang tidak dapat dirampas, serta Viktor Frankl yang menyatakan bahwa selalu ada kebebasan untuk memilih sikap dalam keadaan apa pun.

Esai juga menyebut tokoh-tokoh lain—termasuk Hamka dan Immaculée Ilibagiza—sebagai contoh narasi tentang menemukan makna, kreativitas, atau pengampunan dalam situasi sulit. Dalam kerangka tulisan tersebut, kisah-kisah itu diposisikan bukan sebagai anomali, melainkan sebagai representasi potensi manusia yang lebih luas, sejalan dengan data pertumbuhan pasca-trauma yang dilaporkan dalam riset.

Kesimpulan utama yang ditegaskan adalah bahwa “kemerdekaan sejati” bukan berarti tanpa masalah, melainkan tidak dikuasai oleh masalah. Dalam pandangan ini, kebahagiaan juga tidak dimaknai sebagai ketiadaan kesedihan, melainkan kemampuan menemukan cahaya di tengah kegelapan—melalui pengendalian diri, pengampunan, dan pencarian makna.

Ringkasan penelitian yang disertakan menutup dengan catatan metodologis bahwa studi-studi tersebut dipublikasikan di jurnal psikologi terkemuka dengan proses peer-review, menggunakan metodologi yang dinyatakan valid, serta melibatkan sampel yang cukup besar untuk mendukung generalisasi. Di akhir, esai menekankan bahwa pilihan untuk bersikap—memilih merdeka, memilih bahagia, dan memilih tetap manusiawi—dipandang selalu tersedia, bahkan ketika keadaan terasa paling membatasi.