BERITA TERKINI
Riset Psikologi: Rasa “Cukup” dan Penerimaan Diri Disebut Jadi Sumber Kebahagiaan yang Lebih Stabil

Riset Psikologi: Rasa “Cukup” dan Penerimaan Diri Disebut Jadi Sumber Kebahagiaan yang Lebih Stabil

Di tengah kehidupan modern yang kerap diwarnai dorongan untuk mengejar materi, status, dan penampilan, pertanyaan tentang makna “cukup” kembali mengemuka. Seorang saintis populer di media sosial, Riza Arief Putranto, mengajak publik menengok temuan psikologi yang menyoroti bahwa rasa “cukup” atau contentment—yang juga berkaitan dengan penerimaan diri (self-acceptance)—dapat menjadi sumber kesejahteraan yang lebih mendalam dibanding sekadar memiliki lebih banyak hal.

Melalui unggahan di akun Instagram @rizaputranto pada Sabtu (29/11/2025), Riza merujuk pada artikel ilmiah berjudul “Contentment and Self-acceptance: Wellbeing Beyond Happiness” yang terbit pada 2024 di Journal of Happiness Studies. Dalam publikasi tersebut, peneliti menjelaskan bahwa contentment merupakan emosi positif yang berbeda dari kebahagiaan pada umumnya. Rasa ini digambarkan lebih tenang, dengan tingkat gairah emosi yang rendah, dan muncul ketika seseorang menerima keadaan saat ini sebagai “cukup seperti ini”.

Riza menilai temuan tersebut relevan dengan situasi sekarang, ketika banyak orang tetap merasa “kurang” meski secara materi sudah memiliki banyak. Ia menekankan bahwa rasa cukup bukan berarti pasif atau menyerah, melainkan bentuk penerimaan bahwa seseorang dapat merasa utuh dengan apa yang dimiliki saat ini.

Menurutnya, kebahagiaan tidak selalu bertumpu pada akumulasi materi, penampilan fisik, atau kondisi eksternal. Sebaliknya, kesejahteraan batin—seperti penerimaan diri, rasa damai, dan kemampuan menghargai hidup saat ini—disebut berperan besar dalam membentuk kebahagiaan yang lebih stabil.

Riza juga menyoroti kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain sebagai salah satu hal yang dapat menjauhkan seseorang dari contentment. Ia menilai standar yang terus meningkat, terutama ketika dipicu oleh perbandingan sosial, dapat membuat seseorang sulit merasa cukup. Di sisi lain, menghargai apa yang ada dinilai dapat membantu menghadirkan kebahagiaan yang lebih konsisten.

Dalam konteks masyarakat yang lekat dengan media sosial, Riza mengingatkan adanya tantangan berupa kebiasaan “mengintip” pencapaian orang lain. Aktivitas menggulir media sosial tanpa henti, menurutnya, kerap berujung pada perasaan tidak bahagia dan munculnya penilaian negatif terhadap diri sendiri.

Refleksi atas riset tersebut, sebagaimana disampaikan Riza, dinilai relevan bagi berbagai kalangan—mulai dari pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, hingga mahasiswa. Sejumlah implikasi yang disorot antara lain mengurangi tekanan sosial untuk “selalu lebih” seperti lebih kaya, lebih sukses, atau lebih sempurna; mendorong rasa syukur atas apa yang sudah dimiliki; serta membantu membangun kesehatan mental yang tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan materi maupun kondisi eksternal.

Penelitian yang terbit pada 2024 di Journal of Happiness Studies itu, menurut paparan Riza, memberikan dukungan empiris bahwa contentment—penerimaan dan rasa cukup—merupakan elemen penting dalam kesejahteraan manusia. Ia menyimpulkan, kebahagiaan terbesar terkadang muncul ketika seseorang mampu mengatakan, “cukup.”