- Pengantar untuk Buku Menulis Ingatan: Opini, Romantika, dan Peristiwa tentang Indonesia dan Bolaang Mongondow Raya
Oleh Denny JA
Pada 14 September 1959, menjelang Kotamobagu jatuh ke tangan TNI, seorang anak berdiri di antara rumah-rumah yang terbakar. Ia mungkin belum mengerti Permesta, republik, atau perebutan kekuasaan.
Ia hanya tahu rumahnya hilang. Orang dewasa berlari. Mortir meledak. Malam berubah merah oleh api yang dinyalakan pasukan Permesta yang mundur. Sejarah nasional sedang berlangsung, tetapi baginya sejarah adalah kehilangan.
Puluhan tahun kemudian, tragedi semacam itu mudah mengecil menjadi beberapa baris dalam buku pelajaran. Tetapi bagi sebuah daerah, luka mempunyai ingatan sendiri.
Di situlah kita menemukan alasan mengapa sejarah lokal perlu ditulis. Indonesia bukan hanya kisah para pemimpin di Jakarta. Indonesia juga hidup dalam ingatan daerah.
-000-
Buku Menulis Ingatan: Opini, Romantika, dan Peristiwa tentang Indonesia dan Bolaang Mongondow Raya karya Murdiono Prasetio A. Mokoginta lahir dari kegelisahan itu.
Judulnya sederhana, tetapi ambisinya besar. Penulis ingin menyelamatkan pengalaman sebuah masyarakat sebelum waktu mengubah ingatan menjadi kabut, lalu menghapusnya sama sekali.
Buku ini bergerak di antara dua ruang. Ada Indonesia sebagai rumah besar. Ada Bolaang Mongondow Raya sebagai salah satu kamar tempat Indonesia mengalami sejarahnya.
Topiknya sangat beragam. One Piece bertemu historiografi. Ambalat bertemu geopolitik. Sumpah Pemuda bertemu seorang perempuan Mongondow bernama Magdalena atau Lena Mokoginta.
Kemudian pembaca dibawa semakin dalam. Kita menjumpai kolonialisme, Pemilu 1955, Permesta, pendidikan, kerajaan, kuliner, kabela, sagu, pahlawan, bahkan angin selatan bernama tolatan.
Sekilas, tulisan-tulisan itu seperti kepingan yang berdiri sendiri. Tetapi setelah dibaca sebagai keseluruhan, tampak satu benang merah yang mengikat semuanya.
Benang merah itu adalah ingatan. Lebih tepat lagi, perjuangan melawan lupa. Murdiono seperti berkata bahwa sejarah besar menjadi pincang ketika sejarah kecil diabaikan.
-000-
Dua tulisan memperlihatkan kekuatan buku ini dengan sangat jelas. Yang pertama adalah Menulis Kembali Sejarah Indonesia, antara Dogma dan Ruang Gerak Sejarah.
Tulisan itu mengajukan pertanyaan mendasar. Apakah sejarah pernah selesai? Murdiono menjawab tidak. Masa lalu tetap sama, tetapi pemahaman manusia terhadapnya terus berubah.
Ia memakai perdebatan historiografi untuk menolak sejarah sebagai kitab kebenaran tunggal. Setiap generasi dapat menemukan arsip baru, kesaksian baru, dan perspektif baru.
Di sinilah gagasan E.H. Carr dalam What Is History? menjadi relevan. Carr mengubah pertanyaan tentang sejarah dari apa yang terjadi menjadi pertanyaan yang lebih sulit: bagaimana kita mengetahui apa yang terjadi.
Fakta tidak berbicara sendirian. Sejarawan memilih, menghubungkan, dan memberi makna. Sejarah adalah dialog terus-menerus antara masa kini dan masa lalu, bukan gudang tanggal beku.
Cara berpikir seperti itu membantu membaca Murdiono. Ketika arsip lokal menghadirkan pengalaman berbeda dari narasi nasional, tugas kita bukan membungkamnya, melainkan mengujinya dengan disiplin.
Kebebasan menafsirkan bukan izin mengarang. Semakin berani sebuah tesis, semakin berat pula kewajiban pembuktiannya.
Tulisan kedua adalah September Kelabu di Kotamobagu, Catatan Penumpasan Permesta 1959. Di sini Murdiono paling kuat ketika sejarah berubah menjadi pengalaman manusia.
Kita melihat desa kosong. Penduduk bersembunyi di hutan. Rumah bambu tidak mampu menahan peluru. Manusia bahkan takut menjawab pertanyaan sederhana tentang keberpihakannya.
Ada adegan kecil yang sulit dilupakan. Tentara Siliwangi melihat anak-anak bermain di sekitar barak. Mereka menangis karena teringat keluarga di tanah Sunda.
Anak-anak itu tidak sedang memikirkan ideologi. Mereka hanya merindukan sesuatu yang jauh lebih tua daripada negara dan jauh lebih penting daripada kemenangan: kedamaian.
Di titik itulah buku ini menemukan jantungnya. Sejarah berhenti menjadi urutan tahun. Sejarah memperoleh wajah, suara, rasa takut, rumah, makanan, dan air mata.
-000-
Pertama: Indonesia Terlalu Besar untuk Diceritakan Hanya dari Pusat
Gagasan paling inspiratif buku ini sederhana tetapi mempunyai konsekuensi intelektual besar: sejarah Indonesia harus terus dibaca kembali dari daerah, bukan hanya dari pusat.
Selama puluhan tahun, kita terbiasa membayangkan sejarah nasional seperti cahaya lampu sorot. Jakarta berada di tengah panggung. Daerah-daerah menerima sisa cahayanya.
Padahal Indonesia lahir dengan cara berbeda. Republik ini justru dibentuk oleh ribuan pengalaman lokal yang perlahan menemukan bahasa politik bersama bernama Indonesia.
Cara pandang inilah yang ditegaskan Taufik Abdullah dan para penulis dalam Sejarah Lokal di Indonesia. Daerah bukan miniatur pasif dari peristiwa yang terjadi di pusat. Setiap lokalitas mempunyai struktur sosial, elite, konflik, tradisi, ekonomi, dan pengalaman perubahan sendiri.
Peristiwa nasional memperoleh bentuk berbeda ketika menyentuh masyarakat berbeda. Ketika pengalaman lokal dikumpulkan, dibandingkan, dan diuji, kita mendapatkan Indonesia yang lebih majemuk. Sejarah nasional menjadi mosaik, bukan monolog dari pusat kekuasaan.
Murdiono memberikan contoh menarik melalui Lena Mokoginta. Seorang perempuan dari Bolaang Mongondow ternyata hadir dalam salah satu peristiwa paling menentukan pembentukan bangsa Indonesia.
Dalam Kongres Pemuda II tahun 1928, Magdalena Mokoginta hadir sebagai utusan Jong Celebes. Ia menjadi bagian dari generasi yang mengikrarkan satu tanah air, bangsa, dan bahasa.
Fakta kecil itu mengubah cara kita melihat peristiwa besar. Sumpah Pemuda bukan hanya kisah pemuda Jakarta, Jawa, atau elite organisasi nasional.
Ia juga kisah seorang perempuan Mongondow. Dengan demikian, sejarah daerah bukan lawan sejarah nasional. Sejarah daerah justru membuat sejarah nasional menjadi lebih lengkap.
Hal serupa muncul ketika Murdiono mempertanyakan ungkapan Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Ia menunjukkan pengalaman Bolaang Mongondow jauh lebih kompleks.
Menurut rekonstruksi yang diajukannya, Bolaang Mongondow baru masuk secara langsung dalam struktur Hindia Belanda sekitar 1901. Ia menghitung periode hingga pendudukan Jepang sekitar 41 tahun.
Tentu tesis seperti ini harus terus diuji. Sejarah memerlukan pembandingan arsip, definisi kolonialisme, hubungan kontraktual, kekuasaan efektif, dan perspektif sejarawan lain.
Namun justru keberanian bertanya itulah yang penting. Sejarah nasional tidak boleh takut terhadap data lokal hanya karena data itu mengganggu kenyamanan narasi yang sudah mapan.
Indonesia bukan sebuah cerita tunggal. Indonesia adalah jutaan cerita yang pada suatu titik memutuskan hidup bersama dalam sebuah rumah politik bernama republik.
-000-
Kedua: Ingatan Kecil Dapat Menyimpan Sejarah Besar
Ada kecenderungan lama dalam memahami sejarah. Kita mencari perang besar, presiden, raja, revolusi, perjanjian, pemberontakan, dan perubahan rezim.
Murdiono menawarkan jalan lain. Ia masuk melalui pintu yang lebih kecil. Ia membaca masyarakat melalui makanan, kerajinan, bahasa, legenda, keluarga, dan alam.
Salah satu tulisan paling lembut dalam buku ini dimulai dari dapur. Ibunya membuat dinangoi, olahan sagu dan gula aren. Secangkir kopi menemaninya.
Dari makanan sederhana itu, pikirannya berjalan mundur berabad-abad. Sagu berubah dari makanan menjadi pintu menuju ekonomi, perdagangan, politik, dan ketahanan hidup masyarakat Mongondow.
Ini mengingatkan kita bahwa peradaban tidak hanya tersimpan dalam istana. Kadang sebuah bangsa bersembunyi di dalam resep yang diwariskan seorang ibu.
Kabela juga diperlakukan demikian. Ia bukan hanya benda kerajinan. Di dalam warna, bentuk, ritual, dan penggunaannya tersimpan estetika, spiritualitas, keramahan, dan hubungan sosial.
Bagi masyarakat Bolaang Mongondow, kabela bahkan menjadi manifestasi hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Benda kecil berubah menjadi arsip kebudayaan yang hidup.
Begitu pula tolatan. Angin selatan hadir dalam lagu dan romantika, tetapi juga membawa memori tentang rumah rusak, perpindahan permukiman, ketakutan, dan bencana.
Maka sejarah memperoleh dimensi lain. Ia tidak hanya mempunyai tanggal. Ia mempunyai rasa. Ia mempunyai bau. Ia bahkan mempunyai arah datangnya angin.
Inilah pelajaran besar buku ini. Identitas kolektif tidak hidup terutama di monumen. Ia bertahan melalui kebiasaan kecil yang diwariskan tanpa upacara.
Ketika generasi baru tidak lagi mengenal makanan, bahasa, cerita, simbol, dan pengalaman leluhurnya, yang hilang bukan sekadar tradisi. Sebagian dirinya ikut menghilang.
Karena itu, menulis sejarah lokal sesungguhnya bukan tindakan nostalgia. Ia merupakan pekerjaan kebudayaan untuk memastikan sebuah masyarakat masih mengenali wajahnya sendiri.
Kekuatan tulisan Murdiono justru tampak saat ia membedah lagu lokal dan angin tolatan; arsip lisan itu diujinya secara kritis melalui kesaksian warga guna membuktikan bahwa ingatan rakyat bukanlah dongeng rekaan.
-000-
Ketiga: Sebuah Daerah Membutuhkan Kompas Moral
Salah satu bagian paling menyentuh muncul ketika Murdiono menulis sebagai guru. Ia membayangkan murid bertanya siapa pahlawan nasional dari Bolaang Mongondow.
Ia tidak mempunyai nama yang dapat segera diberikan. Dari kegelisahan sederhana itu lahir pertanyaan yang lebih besar tentang hubungan sejarah dengan pembentukan harga diri.
Murdiono menulis bahwa pahlawan adalah kompas. Tanpa pahlawan, masyarakat dapat merasa seperti tamu di negerinya sendiri, hadir tetapi tidak terlihat dalam panggung nasional.
Saya memahami kegelisahan itu. Manusia memang membutuhkan teladan. Bangsa pun demikian. Kita belajar keberanian lebih mudah melalui kehidupan seseorang daripada melalui definisi abstrak.
Tetapi di sini kita juga perlu berhati-hati. Sejarah tidak boleh berubah menjadi pabrik pahlawan. Masa lalu selalu lebih rumit daripada patung yang kita dirikan.
Tokoh besar mempunyai konteks. Mereka dapat melakukan tindakan luhur sekaligus membuat kekeliruan. Menghormati sejarah tidak berarti menghapus kompleksitas manusia di dalamnya.
Justru pahlawan yang manusiawi lebih berguna. Generasi muda perlu mengetahui bukan hanya kemenangan mereka, tetapi keraguan, kegagalan, dilema, dan harga yang mereka bayar.
Buku ini memperkenalkan banyak nama yang pantas diteliti lebih jauh. Loloda Mokoagow, A.P. Mokoginta, Lena Mokoginta, dan Ahmad Yunus Mokoginta muncul berulang kali.
A.Y. Mokoginta, misalnya, ditempatkan dalam lintasan sejarah nasional melalui kiprahnya di Divisi Siliwangi pada masa Revolusi di Jawa Barat, dan kemudian sebagai putra Bolaang Mongondow yang meniti karier panjang di panggung militer nasional hingga menjadi Letnan Jenderal.
Nama-nama lokal semacam itu penting bukan karena setiap daerah harus berlomba menghasilkan pahlawan nasional. Mereka penting karena manusia membutuhkan jembatan menuju masa lalunya.
Pahlawan terbaik bukan manusia tanpa cacat. Pahlawan terbaik adalah kehidupan yang membuat generasi sesudahnya bertanya: nilai apa yang pantas saya lanjutkan?
-000-
Ada kontra argumen yang layak didengar. Jika setiap daerah menulis sejarah dari perspektifnya sendiri, bukankah Indonesia justru terancam pecah menjadi sejarah kesukuan?
Kekhawatiran itu sah. Sejarah lokal dapat tergelincir menjadi romantisme. Kebanggaan daerah dapat berubah menjadi klaim superioritas. Pahlawan sendiri dibesarkan, pihak lain dikecilkan.
Tetapi jawabannya bukan mengurangi sejarah lokal. Jawabannya justru memperkuat metodologinya. Arsip harus diuji. Kesaksian harus dibandingkan. Perspektif yang berlawanan harus diberikan tempat.
Kita membutuhkan lebih banyak sejarah lokal yang kritis, bukan lebih sedikit. Sebab nasionalisme yang matang tidak membutuhkan daerah kehilangan ingatannya agar negara tetap bersatu.
Indonesia justru menjadi menarik karena Minangkabau tidak harus menjadi Jawa. Bali tidak harus menjadi Aceh. Bolaang Mongondow tidak perlu kehilangan dirinya untuk menjadi Indonesia.
Persatuan yang sehat bukan keseragaman ingatan. Persatuan adalah kemampuan berbagai ingatan hidup bersama, saling mengoreksi, lalu menemukan cerita bersama yang lebih besar.
-000-
Membaca buku ini juga membawa saya kepada pengalaman pribadi. Saya telah lama tertarik pada hubungan antara gagasan besar dan pengalaman manusia yang konkret.
Dalam dunia survei, saya belajar bahwa Indonesia sering berubah ketika kita meninggalkan angka nasional. Persentase yang sama dapat menyembunyikan pengalaman daerah yang sangat berbeda.
Dalam dunia sastra, saya menemukan hal serupa. Cerita yang paling universal sering justru lahir dari pengalaman yang sangat lokal dan sangat personal.
Semakin spesifik sebuah pengalaman ditulis dengan jujur, semakin besar peluang orang yang jauh merasa dekat. Lokalitas yang dalam sering menjadi pintu menuju universalitas.
Saya membaca Murdiono dengan kesadaran itu. Saya tidak berasal dari Bolaang Mongondow. Namun saya dapat memahami seorang anak yang takut perang dan kehilangan rumah.
Saya dapat memahami seorang guru yang ingin muridnya mempunyai teladan. Saya memahami pula seorang anak yang menikmati makanan ibunya, lalu menemukan sejarah di dalamnya.
Di situlah sastra, sejarah, dan ingatan bertemu. Kita tidak perlu berasal dari tempat yang sama untuk mengenali rasa kehilangan yang sama.
Namun pengalaman saya juga mengajarkan sesuatu. Cinta kepada sebuah gagasan harus selalu ditemani keberanian mengujinya. Tanpa pengujian, cinta mudah berubah menjadi pembenaran.
Karena itu, kekuatan emosional buku Murdiono sebaiknya pada masa depan disertai disiplin historiografi yang semakin ketat. Keduanya tidak perlu saling meniadakan.
Cinta memberi energi untuk mencari. Metodologi memastikan apa yang ditemukan dapat dipertanggungjawabkan. Ketika keduanya bertemu, sejarah lokal dapat naik menjadi pengetahuan universal.
-000-
Menulis Ingatan bukan kata terakhir tentang Bolaang Mongondow. Ia justru membuka pintu agar generasi berikutnya berani mencari, menguji, dan menulis kembali masa lalunya.
Sebab Indonesia bukan hanya sejarah yang ditulis dari pusat. Indonesia juga hidup dalam perang, sepiring sagu, nama leluhur, dan ingatan daerah.
Jika ingatan itu hilang, Indonesia kehilangan sebagian dirinya.
Sebab sebuah bangsa mati dua kali: ketika masa lalunya berlalu, dan ketika tak seorang pun lagi bersedia mengingat serta menuliskannya.
Jakarta, 10 September 2026
-000-
REFERENSI
Carr, E.H. What Is History? Cambridge: Cambridge University Press, 1961.
Abdullah, Taufik, ed. Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1985.