Grand Atrium Pakuwon Mall Surabaya dipenuhi suasana perayaan pada Sabtu, 21 Februari 2026. Ornamen Imlek tampak berdampingan dengan pernik-pernik Ramadan, sementara pengunjung berkumpul di antara stan kuliner, pohon angpau, dan hiasan Kuda Api.
Perhatian kerumunan tertuju ke panggung, tempat sekelompok pemain musik tampil. Pesertanya beragam, mulai anak-anak hingga orang dewasa, termasuk yang berusia sekitar 70 tahun. Mereka memainkan alat musik tradisional Tiongkok, seperti guzheng, erhu, pipa, dan hulusi.
Olivia Meliana, pemilik Rumah Kecapi Surabaya, mengatakan konser tersebut melibatkan total 86 peserta. Menurutnya, konser Chinese New Year seperti ini rutin digelar sejak 2015 atau 2016 dan menjadi agenda tahunan Rumah Kecapi. “Chinese New Year ini konser rutin kami di luar momen spesial 17 Agustus atau akhir tahun,” ujarnya.
Selaras dengan tema perayaan, para musisi mengenakan busana tradisional Tiongkok. Sebagian besar alat musik yang dimainkan merupakan instrumen berdawai, yang dimainkan dengan cara dipetik atau digesek.
Meski mengusung tema Chinese New Year, komposisi yang dibawakan tidak seluruhnya bernuansa Mandarin. Sejumlah lagu non-Mandarin turut ditampilkan, termasuk lagu anime dan pop modern.
Calvin Putra Tjipto, guru erhu Rumah Kecapi Surabaya, mengatakan pemilihan repertoar tersebut dilakukan untuk memperluas pandangan masyarakat terhadap alat musik tradisional Tiongkok. “Kami berusaha mengubah stigma bahwa alat musik tradisional ini cuman bisa main lagu-lagu klasik atau Mandarin kuno,” katanya.
Calvin menambahkan, selain mengajarkan teknik bermain erhu kepada murid-muridnya, tantangan lain adalah menjaga semangat mereka. Ia menyebut ada sebagian anak yang datang belajar bukan karena keinginan sendiri, melainkan dorongan orang tua.

