Komunitas Rumah Pena BerAksi di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, bersiap merilis buku antologi berjudul Suara dari Tenggara. Buku ini menghimpun tulisan bertema pikiran, manusia, dan catatan zaman.
Editor buku, Puja Mandela, mengatakan pihaknya baru saja mengumumkan 44 nama penulis yang karyanya masuk dalam antologi tersebut. Ia berharap Suara dari Tenggara dapat menjadi referensi mengenai literasi daerah sekaligus bahan ajar penulisan opini-esai bagi guru bahasa Indonesia.
Antologi ini memuat 47 karya esai dan opini dari beragam latar, mulai dari pelajar, guru, dosen, jurnalis, pegiat literasi, sastrawan, budayawan, hingga pekerja kreatif di Kalimantan Selatan. Untuk memperluas sudut pandang, penyelenggara juga melibatkan tujuh penulis tamu dari Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar.
Menurut Puja, buku ini disusun sebagai ruang bersama untuk merekam kegelisahan sosial, perubahan budaya, pendidikan, serta dinamika kehidupan masyarakat modern di tengah perkembangan teknologi digital. Selain membahas pendidikan dan budaya membaca, antologi ini juga memuat refleksi mengenai perubahan manusia di era modern, seperti kebisingan media sosial, budaya instan, kecerdasan buatan (AI), krisis komunikasi, dunia jurnalistik, hingga kegelisahan masyarakat menghadapi perubahan zaman.
Penulis Gol A Gong turut menyampaikan apresiasi atas penulisan buku tersebut. “Selamat merayakan buku,” ucapnya.
Berikut daftar karya dan penulis dalam antologi Suara dari Tenggara:
1. Akar Pondasi Goyah, Pohon Literasi Tumbang — Irma Wulandary.
2. Alarm Kondisi Literasi dan Numerasi di Sekolah — Muhammad Aliansyah.
3. Berpikir untuk Mendengar — Toto Fachrudin.
4. Berpikir, Merasa, dan Memahami Dunia — Kaekaha.
5. Budaya Copas — Man Hidayat.
6. Buku adalah Jendela Dunia? — Oldra Karlinda.
7. Bunyi-bunyian yang Tumbuh Perlahan — Richy Petroza.
8. Cepat Berbagi, Lambat Memahami — Sri Purwanti.
9. Dangdut Caramel Macchiato Plus Cuka — Sainul Hermawan.
10. Dewan Kesenian Bukan Kursi Megah Raja — Novyandi Saputra.
11. Ekosistemnya Dulu — Kahar Acink.
12. Generasi MBG vs Generasi Literat — Sandi Firly.
13. Generasi Pembaca Tidak Lahir dari Orang Tua yang Sempurna — Gyoti Nusu.
14. Hijau Bukan Sekadar Warna — Halimatus Sadiah.
15. Investasi Leher ke Atas — Agus Heriyandi.
16. Jika Literasi Tak Sampai ke Pinggiran — Anang Azmi.
17. Jurnalis: Mabuk dan Menangis — Zalyan Shodiqin Abdi.
18. Ketika Literasi Kalah oleh Notifikasi — Kailla Sanabil Hazrina.
19. Ketika Membaca Dianggap Berbahaya — Lalu A. Maulana.
20. Ketika Nama-nama itu Disebut Lagi — Eche Subki.
21. Kontrak dan Kritik — Zulqarnain.
22. Kontraktor Literasi dan Sastra yang Tak Menghidupi — Puja Mandela.
23. Krisis Membaca di Ruang Guru — Indah Dwi Rohmah.
24. Lipstik Delapan Huruf — Puja Mandela.
25. Literasi Bukan Hanya Diksi — Ilham Bahari.
26. Membaca Dunia, Merajut Imajinasi — Pasha Ali Rasyid.
27. Membangun Budaya Membaca dari Rumah — Dadik Historia.
28. Membiasakan, Bukan Memaksakan — Aditya Irfiandi.
29. Mending Jurnalisme Kepiting Ketimbang Jurnalisme Siput — Muhammad Syarafudin.
30. Mengurai Kebisingan Publik — Muh. Sulfihidayatullah.
31. Memanjangkan Napas, Merawat Eksistensi — Ahmad Maulana.
32. Mereka Bilang Itu Membosankan — Annisa Rania.
33. Menyentuh Hati, Menggerakkan Harapan — Asniyati.
34. Modern Tapi Kesepian — Syahriadi.
35. Obat, Dosis dan Informasi — Sujud Mariono.
36. Penulis Jangan Lahir Dulu — Rafii Syihab.
37. Rak Kosong Perpustakaan — Zulqarnain.
38. Remedialisme — Ayu Sita.
39. Ruang Pulang di Tanah Rantau — Andi Utari Putri.
40. Secarik Kertas dari Belakang — Muhammad Bulkini
41. Smart Teen in AI Era — R. Kayla.
42. Satu Kata Paling Bermakna — Hasni Maulida.
43. Sudut Jendela: Antara AI dan Kita yang Miskin Kata — Ismail.
44. Untuk Siapa Literasi Itu? — Arif Rachman.
45. Wartawan Seremonial — Puja Mandela.
46. Wartawan, LSM, dan Kaburnya Batas — Andrianto Mokodompit.
47. Kami Diberi Dunia di Genggaman, Tapi Tanah Kami Masih Sunyi Pemahaman — Rouselline Renata Ramadhanti.