BERITA TERKINI
Runner’s High: Mengapa Lari Bisa Memicu Rasa Bahagia dan Puas

Runner’s High: Mengapa Lari Bisa Memicu Rasa Bahagia dan Puas

Udara pagi yang masih dingin tidak menyurutkan langkah para pelari yang memadati kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, pada Sabtu (13/12/2025). Di saat matahari baru muncul tipis, orang-orang tetap berlari di jalanan sekitar kompleks olahraga maupun mengitari stadion. Pemandangan itu memunculkan pertanyaan yang kerap muncul bagi banyak orang: mengapa ada yang rela “bersusah payah” berlari, padahal bisa memilih beristirahat?

Selain alasan kesehatan, sebagian pelari menggambarkan adanya momen ketika lari terasa seperti “hadiah” untuk diri sendiri. Napas memang terengah dan otot bekerja keras, tetapi kepala justru terasa lebih ringan. Sensasi menyenangkan—bahkan euforia—yang muncul saat atau setelah berlari ini dikenal sebagai runner’s high.

Sejumlah riset dan pendapat pakar menunjukkan bahwa pengalaman tersebut bukan semata sugesti. Saat berlari, tubuh dapat memicu rangkaian mekanisme biologis yang melibatkan otak, hormon stres, sistem saraf, hingga senyawa alami yang berperan meredakan nyeri dan membantu menenangkan respons stres. Dari sinilah muncul rasa lega, nyaman, dan bahagia yang dilaporkan sebagian pelari.

Runner’s high dan kemungkinan asal-usulnya

Runner’s high sering digambarkan sebagai fase ketika tubuh tetap bergerak, rasa lelah seolah berkurang, dan suasana hati meningkat. Peneliti dari Jerman pernah mempelajari respons otak saat seseorang berlari dan menyimpulkan bahwa sensasi “high” ini mungkin sudah “tertanam” dalam tubuh manusia. Ada dugaan, mekanisme tersebut berkaitan dengan masa ketika manusia harus mengejar makanan untuk bertahan hidup.

Profesor biologi dari University of Southern California, David A. Raichlen, menjelaskan bahwa dorongan bertahan hidup membuat manusia pada masa lalu perlu berlari cepat dan jauh. Dalam kondisi demikian, tubuh melepaskan senyawa kimia yang membuat perasaan lebih baik sehingga membantu mereka menempuh jarak dan kecepatan yang dibutuhkan. Mekanisme serupa diduga masih dapat muncul saat ini dalam bentuk runner’s high.

Raichlen juga menyebut runner’s high berperan sebagai pereda nyeri alami, membantu “menutupi” sinyal tubuh seperti kaki lelah atau lecet. Dengan kata lain, tubuh memiliki sistem internal yang membantu seseorang tetap bergerak ketika berada dalam kondisi menantang.

Peran endorfin: ada bukti biologis yang terukur

Salah satu penjelasan yang lama dikenal adalah endorfin, senyawa yang sering disebut sebagai “opiata buatan tubuh” karena cara kerjanya mirip morfin—menekan rasa sakit dan menimbulkan rasa nyaman. Bukti yang lebih jelas muncul ketika peneliti Jerman pada 2008 menggunakan pemindaian otak untuk melacak endorfin.

Dalam temuan tersebut, ketika seseorang berlari sekitar dua jam, area otak seperti prefrontal dan limbic region—yang juga aktif saat emosi kuat—melepaskan endorfin. Semakin besar lonjakan endorfin di area tersebut, semakin tinggi euforia yang dilaporkan pelari. Temuan ini memperkuat bahwa sensasi “melayang” saat lari berkaitan dengan reaksi biologis yang dapat diukur.

Bagaimana memicu endorfin saat lari: menantang, tetapi tetap terkendali

Meski endorfin dilepaskan sebagai respons atas ketidaknyamanan fisik, para pakar menekankan adanya batas. Matthew Hill, profesor di University of Calgary’s Hotchkiss Brain Institute, menjelaskan endorfin diproduksi sebagai respons atas ketidaknyamanan, namun bukan berarti lari harus terasa menyiksa. Yang dibutuhkan adalah intensitas yang pas: mulai menantang, tetapi masih terkendali.

Dalam riset Jerman, peserta merupakan pelari berpengalaman. Lari dua jam pada pace tertentu bukan hal mudah, tetapi juga bukan upaya “habis-habisan”. Karena itu, sejumlah pakar menyarankan latihan seperti tempo run sebagai salah satu cara memicu kemunculan runner’s high.

Cindra S. Kamphoff, Direktur Center for Sport and Performance Psychology di Minnesota State University, menyebut banyak pelari merasakan endorfin saat mendorong kemampuan tubuh, tetapi biasanya bukan pada usaha maksimal.

John Vasudevan, dokter sekaligus associate professor di University of Pennsylvania, memberikan indikator praktis: pada intensitas setidaknya moderat—masih bisa berbicara, tetapi tidak bisa bernyanyi dengan lancar saat berlari—seseorang lebih mungkin mengalami lonjakan endorfin. Sementara itu, intensitas tinggi ketika berbicara pun sulit dapat menjadi kontraproduktif karena stres mekanik mulai mengalahkan manfaat endorfin.

Selain intensitas, ada dua hal lain yang disebut dapat membantu memicu endorfin. Studi Oxford University menemukan atlet yang berolahraga bersama menghasilkan endorfin lebih tinggi dibanding latihan sendirian. Sejumlah riset juga menunjukkan musik dapat memicu lonjakan endorfin.

Endocannabinoid: kandidat kuat pemicu runner’s high

Dalam perkembangan riset, endorfin bukan satu-satunya penjelasan. Penelitian terbaru menyoroti peran endocannabinoid system (ECS), sistem yang tersebar di otak dan tubuh serta membantu mengatur memori, pembelajaran, tidur, perilaku sosial, stres, hingga rasa sakit.

Profesor psikiatri Yale sekaligus Direktur Yale Center for the Science of Cannabis and Cannabinoids, Deepak Cyril D’Souza, menyebut ECS sebagai sistem komunikasi alami di otak dan tubuh yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan (homeostasis).

ECS ditemukan pada 1990-an ketika ilmuwan meneliti efek ganja pada otak. Dari situ diketahui tubuh manusia memiliki reseptor cannabinoid dan memproduksi “cannabinoid versi tubuh” sendiri yang disebut endocannabinoid. Dua endocannabinoid utama adalah anandamide dan 2-AG. Anandamide kerap dikaitkan dengan rasa tenang dan nyaman, sehingga sering disebut sebagai kandidat utama pemicu runner’s high.

Berbeda dengan endorfin yang hanya diproduksi neuron khusus, endocannabinoid dapat dibuat oleh lebih banyak sel di tubuh, sehingga pengaruhnya terhadap otak dan suasana hati dinilai bisa lebih luas. Daniele Piomelli, profesor di UC Irvine Medical Center, menjelaskan endocannabinoid tidak disimpan seperti hormon biasa, melainkan tersimpan di membran lemak dan dilepas sesuai kebutuhan.

Ketika dilepas, endocannabinoid menempel pada reseptor seperti CB1 (banyak di sistem saraf pusat/otak) dan CB2 (lebih banyak di sistem imun). Salah satu tujuannya adalah menstabilkan tubuh agar respons stres tidak berlebihan. Sachin Patel, profesor di Northwestern University Feinberg School of Medicine, menyebut sistem endocannabinoid menekan respons fight-or-flight ketika seseorang tidak sedang berada dalam bahaya, sehingga membantu menjaga kondisi tetap seimbang.

Mengapa endocannabinoid dinilai lebih menentukan?

Sejumlah temuan membuat sebagian ilmuwan mulai menggeser fokus dari endorfin. Salah satunya, endorfin dinilai terlalu besar untuk menembus blood-brain barrier (penghalang darah-otak). Hal ini memunculkan pertanyaan tentang seberapa besar perannya dalam menimbulkan euforia.

Temuan lain menguatkan dugaan dominasi endocannabinoid. Studi pada tikus menunjukkan bahwa ketika reseptor cannabinoid dimatikan, tikus menjadi lebih malas berlari. Lalu pada 2021, tim dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf, Jerman, melaporkan bahwa meski reseptor opioid—tempat endorfin menempel—“dimatikan”, pelari tetap dapat mengalami sensasi runner’s high. Ini memperkuat hipotesis bahwa cannabinoid lebih berperan dalam sensasi tersebut.

Dalam kerangka ini, endorfin dipandang membantu mengurangi nyeri, sementara endocannabinoid diduga lebih kuat dalam menciptakan rasa lega, tenang, dan bahagia yang khas.

Lari sebagai “percakapan kimia” tubuh dan otak

Rangkaian penjelasan ilmiah itu menggambarkan bahwa lari bukan sekadar aktivitas fisik. Ia juga merupakan “percakapan kimia” antara tubuh dan otak yang dapat berujung pada hadiah emosional: rasa tenang, bahagia, dan puas.

Pada akhirnya, tubuh memiliki mekanisme yang membuat pengalaman berlari tidak selalu terasa berat. Melalui endorfin dan terutama endocannabinoid, tubuh membantu meredakan nyeri, menenangkan respons stres, sekaligus memunculkan rasa bahagia.

Bagi yang ingin mengejar runner’s high, sejumlah pakar menekankan bahwa kuncinya bukan harus menjadi pelari tercepat atau terkuat, melainkan berlari pada intensitas yang cukup menantang namun tetap terkendali, serta dilakukan secara konsisten.