Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan saat pasar domestik belum kembali beraktivitas penuh karena libur panjang. Pada perdagangan Jumat, rupiah melemah 0,62% ke level 17.606 per dolar AS pada pukul 12.58 WIB, mendekati posisi terlemah harian sekaligus rekor terendah di 17.613.
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring menguatnya dolar AS yang ditopang data ekonomi Amerika Serikat. Inflasi konsumen (CPI) April tercatat naik 0,6% secara bulanan dan 3,8% secara tahunan. Sementara itu, inflasi inti meningkat 0,4% bulanan, lebih tinggi dari konsensus 0,3%.
Dari sisi produsen, indeks harga produsen (PPI) melonjak 1,4% bulanan dan 6,0% tahunan, jauh di atas perkiraan. Penjualan ritel juga masih bertumbuh 0,5%, sedangkan penjualan ritel non-otomotif naik 0,7%. Rangkaian data tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve belum perlu terburu-buru memangkas suku bunga, sehingga menopang penguatan dolar AS.
Sejumlah analis internasional masih melihat tekanan naik pada pasangan USD/IDR. Reuters mencatat posisi bearish terhadap rupiah memburuk ke level terdalam sejak Oktober 2022, dipicu lonjakan harga minyak, risiko perang terkait Iran, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Secara teknikal, posisi USD/IDR yang berada di atas 17.600 menandakan tekanan masih dominan. Area 17.500—yang berdekatan dengan level tertinggi USD/IDR pada 12 Mei—kini dipandang sebagai batas psikologis penting. Selama kurs bertahan di atas area tersebut, ruang pemulihan rupiah dinilai cenderung sempit.
Dari sisi global, ketegangan geopolitik turut menjaga harga minyak tetap tinggi. Meski gencatan senjata AS-Iran masih disebut berlaku, situasi belum sepenuhnya mereda. Presiden AS Donald Trump kembali menekan Iran dengan menyatakan kesabarannya “tidak akan lama lagi” dan mendesak Teheran segera mencapai kesepakatan dengan Washington.
Isu yang mengemuka mencakup uranium Iran, blokade, serta posisi militer AS di kawasan Teluk. Terdapat sinyal positif setelah Iran mulai mengizinkan sebagian kapal Tiongkok melintas di Selat Hormuz, namun jalur energi utama tersebut belum sepenuhnya normal.
Mengacu data Bloomberg, harga minyak bertahan di atas US$100 per barel. WTI Crude Oil kontrak Juni 2026 naik 2,31% menjadi US$103,51 per barel, sementara Brent Crude kontrak Juli 2026 menguat 1,88% ke US$107,71 per barel.
Kombinasi pelemahan rupiah dan harga minyak yang tinggi berpotensi memperbesar tekanan terhadap perekonomian domestik. Kondisi ini dapat membuat biaya impor energi, bahan baku industri, pangan tertentu, serta pembayaran utang valuta asing menjadi lebih mahal. Dampaknya berisiko merembet ke inflasi impor, beban subsidi energi, margin korporasi, dan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, hari pertama KTT Trump-Xi di Beijing memberi sinyal stabilisasi, namun belum cukup kuat untuk membalikkan sentimen pasar terhadap rupiah. Kehadiran tokoh korporasi besar AS serta kesepakatan pembelian sekitar 200 pesawat Boeing menunjukkan kedua negara masih berupaya menjaga jalur bisnis tetap terbuka.
Dukungan Xi Jinping terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz juga dipandang sebagai sinyal positif bagi pasar energi. Namun, isu Taiwan dinilai tetap membatasi optimisme, sehingga pasar cenderung membaca pertemuan tersebut lebih sebagai upaya menekan volatilitas jangka pendek ketimbang perubahan besar dalam hubungan AS-Tiongkok.
Bagi rupiah, dampak KTT ini masih terbatas. Nada stabil dapat sedikit meredakan tekanan eksternal, terutama jika risiko energi menurun. Namun selama dolar AS tetap kuat, harga minyak bertahan tinggi, dan investor masih defensif terhadap aset Asia, ruang pemulihan rupiah diperkirakan tetap terbatas.