BERITA TERKINI
Rupiah Masih Tertekan di Kisaran Rp17.400 per Dolar AS, Lonjakan Minyak dan Risiko AS-Iran Menahan Pemulihan

Rupiah Masih Tertekan di Kisaran Rp17.400 per Dolar AS, Lonjakan Minyak dan Risiko AS-Iran Menahan Pemulihan

Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS pada perdagangan terbaru. Berdasarkan data real-time sekitar pukul 11.36 WIB, rupiah melemah 72,6 poin atau 0,42% ke Rp17.413 per dolar AS, setelah bergerak dalam rentang harian Rp17.355 hingga Rp17.417. Pergerakan tersebut menempatkan rupiah dekat area terlemah hariannya dan tidak jauh dari puncak USD/IDR di Rp17.447,5.

Posisi rupiah yang bertahan di atas Rp17.400 mencerminkan tekanan yang belum mereda. Area Rp17.447,5 dipandang sebagai batas penting karena merupakan puncak USD/IDR pada 5 Mei sekaligus menandai level terlemah rupiah dalam satu tahun terakhir. Sementara itu, penurunan kembali di bawah Rp17.355—batas bawah pergerakan harian—dapat menjadi sinyal awal bahwa rupiah mulai memangkas sebagian pelemahannya.

Tekanan juga tercermin pada kurs transaksi Bank Indonesia. Kurs jual BI tercatat di Rp17.461,88 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di Rp17.288,13. Rentang tersebut menunjukkan tekanan valas tidak hanya terjadi di pasar spot, tetapi juga terlihat pada acuan transaksi resmi. Kurs jual yang berada di atas Rp17.460 mengindikasikan biaya memperoleh dolar AS masih tinggi, terutama untuk kebutuhan impor, pembayaran utang valas, dan lindung nilai korporasi.

Dari sisi domestik, sejumlah indikator terbaru memberi sinyal perbaikan konsumsi dan mobilitas ekonomi, meski dampaknya ke rupiah dinilai masih terbatas. Penjualan mobil pada April tercatat melonjak 55,0% secara tahunan (YoY), berbalik dari kontraksi 13,8% pada periode sebelumnya. Penjualan sepeda motor juga pulih dengan kenaikan 28,1% YoY, setelah sebelumnya turun 17,1%.

Indeks Keyakinan Konsumen April naik tipis ke 123,0 dari 122,9, yang menunjukkan optimisme rumah tangga masih bertahan di zona ekspansif. Namun, dukungan dari data domestik tersebut belum cukup mengimbangi tekanan eksternal yang lebih dominan, termasuk pergerakan harga minyak, arah kebijakan The Fed, serta kebutuhan dan permintaan valas di dalam negeri.

Dari Amerika Serikat, data ekonomi terbaru menunjukkan sinyal campuran. Nonfarm Payrolls April bertambah 115 ribu, lebih tinggi dari konsensus 62 ribu, tetapi lebih rendah dibanding 185 ribu pada bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran bertahan di 4,3%, sementara tingkat partisipasi angkatan kerja turun tipis ke 61,8%.

Tekanan upah mulai mereda, terlihat dari pendapatan rata-rata per jam yang melambat menjadi 0,2% secara bulanan (MoM) dan 3,6% secara tahunan (YoY), di bawah prakiraan. Sentimen konsumen Michigan pada awal Mei juga melemah ke 48,2 dari 49,8, meski ekspektasi inflasi turun menjadi 4,5% untuk horizon 1 tahun dan 3,4% untuk 5 tahun. Bagi rupiah, data ini belum cukup menghapus tekanan eksternal karena pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat, walaupun perlambatan upah memberi ruang bagi ekspektasi bahwa The Fed tidak perlu kembali lebih agresif.

Tekanan eksternal menguat seiring memburuknya kondisi perang AS-Iran yang kembali mendorong harga minyak menembus US$100 per barel. Presiden Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal damai AS dan menyebutnya tidak dapat diterima. Situasi ini membuat prospek gencatan senjata kembali kabur, sementara Selat Hormuz tetap menjadi titik risiko utama karena arus energi belum sepenuhnya normal.

Mengacu data Bloomberg, kontrak WTI Crude Oil Juni 2026 naik 4,98% atau US$4,75 menjadi US$100,17 per barel, sedangkan Brent Crude Oil Juli 2026 menguat 4,45% atau US$4,51 menjadi US$105,80 per barel. Kenaikan tersebut menegaskan premi risiko energi masih tinggi di tengah ketegangan geopolitik dan belum pulihnya pasokan melalui Selat Hormuz.

Bagi rupiah, lonjakan harga minyak menjadi faktor negatif karena dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi, memperbesar risiko inflasi impor, serta menambah beban fiskal terkait subsidi dan kompensasi energi. Selama harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, ruang pemulihan rupiah dinilai cenderung terbatas.

Di luar faktor jangka pendek, pasar juga mencermati perkembangan kerja sama perdagangan Indonesia-Kanada setelah Kanada menyelesaikan persetujuan implementasi Canada-Indonesia CEPA pada 6 Mei 2026. Kesepakatan ini dinilai membuka peluang perluasan ekspor Indonesia ke Kanada dan mendukung diversifikasi perdagangan dalam jangka menengah. Meski demikian, dampaknya terhadap rupiah pada perdagangan hari ini disebut masih terbatas karena perhatian pasar masih tertuju pada faktor yang langsung memengaruhi permintaan valas, terutama harga minyak, dinamika AS-Iran, arah suku bunga The Fed, dan kebutuhan dolar AS di dalam negeri.

Secara keseluruhan, rupiah masih bergerak dalam fase rentan. Data domestik yang membaik memberi bantalan psikologis, tetapi belum cukup kuat mengubah arah pasar selama tekanan eksternal tetap dominan. Jika kurs bertahan di atas Rp17.400, pasar cenderung menilai ruang pemulihan rupiah masih terbatas. Sebaliknya, penurunan kembali ke bawah Rp17.355 dapat menjadi sinyal awal meredanya tekanan, meski konfirmasi lebih kuat tetap bergantung pada pergerakan harga minyak, perkembangan konflik AS-Iran, dan ekspektasi kebijakan The Fed.

Dalam perbandingan harian terhadap sejumlah mata uang utama, dolar AS tercatat menjadi yang terkuat terhadap rupiah Indonesia.