BERITA TERKINI
Sains Menjelaskan Mengapa Kenangan Buruk Lebih Sulit Dilupakan daripada Momen Bahagia

Sains Menjelaskan Mengapa Kenangan Buruk Lebih Sulit Dilupakan daripada Momen Bahagia

Kenangan pahit kerap terasa lebih membekas dibandingkan momen bahagia. Pengalaman seperti penolakan sosial, kegagalan, atau kecelakaan bisa terus muncul dalam ingatan, sementara peristiwa menyenangkan seperti perayaan ulang tahun sering kali lebih cepat memudar. Menurut penjelasan sains, hal ini berkaitan dengan cara kerja otak dalam menyimpan memori dan mengolah emosi.

Salah satu faktor penting adalah kebiasaan mengingat kembali pengalaman pahit. Semakin sering seseorang memutar ulang peristiwa menyakitkan di pikirannya, semakin kuat jalur saraf yang menyimpan memori tersebut. Dampaknya, kenangan buruk terasa terus “hidup” dan mudah muncul kembali, sehingga anggapan bahwa waktu akan otomatis menyembuhkan luka emosional tidak selalu berlaku.

Dari sudut pandang psikologi evolusioner dan neurosains, otak manusia juga cenderung mengunci pengalaman negatif lebih kuat. Mekanisme ini bersifat adaptif dan berkaitan dengan kelangsungan hidup. Sejumlah temuan neurosains menunjukkan memori yang melibatkan emosi negatif memicu aktivitas otak yang lebih kuat dibandingkan memori netral atau menyenangkan.

Proses penyimpanan memori negatif melibatkan beberapa area penting di otak. Amigdala, yang berperan dalam mengolah rasa takut dan ancaman, bekerja bersama hipokampus yang mengatur penyimpanan memori, serta korteks prefrontal yang membantu menafsirkan konteks suatu peristiwa. Saat seseorang mengalami kejadian traumatis, ketiga area ini dapat aktif secara intens sehingga pengalaman tersebut tersimpan kuat dan lebih mudah dipanggil kembali.

Selain struktur otak, faktor genetik turut disebut memengaruhi cara seseorang menyimpan dan mengingat trauma. Perbedaan ini dapat menjelaskan mengapa sebagian orang lebih rentan mengalami gangguan seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Dalam konteks ini, ingatan buruk tidak tersimpan pada satu titik, melainkan tersebar dalam jaringan saraf yang sensitif terhadap emosi.

Secara evolusioner, kecenderungan mengingat pengalaman negatif dipandang sebagai strategi bertahan hidup. Bagi manusia purba, mengingat makanan beracun atau lokasi berbahaya dinilai lebih penting daripada mengingat pengalaman menyenangkan. Dari sini muncul bias negativitas, yakni kecenderungan otak untuk lebih peka terhadap hal-hal buruk karena dianggap memiliki urgensi lebih tinggi bagi keselamatan.

Sejumlah studi juga menunjukkan manusia lebih mudah mengingat informasi yang berkaitan dengan ancaman. Bias ini dipandang bukan sebagai kelemahan, melainkan sistem perlindungan alami agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang berpotensi fatal.

Namun, di era modern mekanisme tersebut tidak selalu menguntungkan. Ancaman yang dihadapi manusia kini kerap bersifat psikologis, bukan fisik. Dalam kondisi tertentu, sistem perlindungan ini dapat berkontribusi pada gangguan kesehatan mental.

PTSD menjadi salah satu contoh ketika memori traumatis tetap aktif meski ancaman telah berlalu. Penderitanya dapat mengalami kilas balik yang mengganggu aktivitas sehari-hari karena otak seolah gagal mematikan sinyal bahaya.

Kecenderungan mengingat pengalaman tidak menyenangkan juga disebut dapat terbentuk sejak usia sangat dini. Penelitian pada hewan menunjukkan ingatan terhadap pengalaman tidak menyenangkan dapat muncul sebelum sistem memori berkembang sepenuhnya. Temuan ini memperkuat gagasan bahwa sejak awal kehidupan, manusia diprogram untuk lebih waspada terhadap rasa sakit sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup.