Dewan Kesenian Jakarta menggelar kuliah umum awal tahun dengan tema bencana, menempatkan sastra sebagai medium untuk memahami dampak tragedi di luar data dan statistik. Dalam forum tersebut, sastra dipandang dapat menjadi pembawa suara para penyintas sekaligus pengingat bahwa bencana bukan sekadar angka.
Dalam rangkaian pembahasan itu, Tempo mewawancarai sastrawan di balik sejumlah buku yang berangkat dari pengalaman dan rekaman peristiwa bencana di Sumatera, yakni Tanda Cinta bagi Korban Bencana Sumatera, Air Mata Sumatera, dan Te O Toriatte (Genggam Cinta).
Situasi kebencanaan di Sumatera disebut belum sepenuhnya berlalu. Banjir dan tanah longsor masih mengintai wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sejumlah dampak fisik pun masih terasa, mulai dari jalan yang terputus, jembatan yang runtuh, hingga rumah-rumah yang tertimbun dan belum seluruhnya pulih.
Di tengah proses pemulihan itu, perhatian juga diarahkan pada sisi yang kerap luput: cerita para penyintas. Banyak kisah, pengalaman, dan ingatan warga yang terdampak disebut ikut “terkubur” bersama kerusakan yang ditinggalkan bencana. Melalui sastra, pengalaman tersebut diupayakan hadir kembali sebagai bagian dari ingatan kolektif.

