Kegiatan belajar mengajar di berbagai satuan pendidikan di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi D.I Aceh, kembali berlangsung setelah sempat terhenti selama dua bulan akibat banjir bandang pada akhir November.
Namun, proses pembelajaran belum berjalan sepenuhnya. Sejumlah sekolah masih menghadapi keterbatasan karena sarana dan prasarana di ruang kelas hanyut terbawa banjir dan tidak dapat digunakan kembali.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu`ti mengatakan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran terkait pembelajaran darurat, dengan mengutamakan trauma healing serta dukungan psikososial bagi peserta didik.
Mu`ti menyampaikan jam belajar tidak harus penuh karena kondisi sekolah belum memungkinkan. Di SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, baru tiga kelas yang dapat menggunakan meja dan kursi, sementara sebagian siswa lainnya belajar di lantai. Pernyataan itu disampaikan usai ia memimpin upacara hari pertama masuk sekolah semester genap di sekolah tersebut pada Senin (5/1).
Terkait kursi dan meja yang rusak, Mu`ti menyebut pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah akan melakukan perbaikan secara bertahap menggunakan anggaran dari pusat. Ia berharap pemulihan dapat berlangsung dalam waktu tidak terlalu lama, dan menargetkan penggantian meja serta kursi dilakukan setelah proses pembersihan terhadap peralatan yang masih layak.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi D.I Aceh Darussalam, Murthalamuddin, mengatakan hampir 90 persen satuan pendidikan dapat menyelenggarakan pembelajaran secara serentak pada 5 Januari. Meski demikian, beberapa daerah di Aceh Timur dilaporkan batal memulai kegiatan belajar karena debit air kembali meningkat.
Menurut Murthalamuddin, kenaikan air membuat siswa dan guru kembali khawatir. Ia menambahkan bahwa pelaksanaan pembelajaran di sejumlah lokasi memang belum maksimal, dan pihaknya juga telah menerbitkan edaran bahwa siswa tidak wajib mengenakan seragam pada hari pertama masuk sekolah.
Dalam banjir pada akhir November, ketinggian air di SMAN 4 Kejuruan Muda disebut mencapai tujuh meter. Akibatnya, 21 ruang kelas terdampak dan berbagai fasilitas sekolah, termasuk buku serta peralatan laboratorium, tidak dapat digunakan kembali.