Kehidupan sastra dan seni Vietnam dinilai tengah menghadapi peluang inovasi sekaligus tantangan baru seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. Isu standar profesional dan tanggung jawab kreatif menjadi perhatian utama dalam seminar bertajuk “Menjaga Integritas dalam Seni Pertunjukan dan Tanggung Jawab Pencipta di Era Digital” yang digelar pada 28 Mei di Hanoi.
Seminar tersebut diselenggarakan oleh Persatuan Asosiasi Sastra dan Seni Vietnam bekerja sama dengan Asosiasi Musisi Vietnam serta Asosiasi Seniman Teater Vietnam, di bawah arahan Departemen Propaganda dan Mobilisasi Massa Pusat.
Dalam sambutannya, Profesor Madya dan Doktor Musik Do Hong Quan—Wakil Ketua Komite Pusat Front Persatuan Nasional Vietnam sekaligus Presiden Persatuan Asosiasi Sastra dan Seni Vietnam—menyatakan forum ini ditujukan untuk menghimpun pandangan para ahli musik dan teater, penyelenggara serta produser program seni, lembaga pengelola seni pertunjukan, hingga masukan dari lembaga pengarah budaya dan seni.
Penulis drama Nguyen Dang Chuong, yang juga Wakil Presiden Asosiasi Seniman Teater Vietnam, menekankan bahwa sastra dan seni merupakan komponen penting pembentuk identitas budaya nasional dan memiliki peran khusus dalam kehidupan spiritual masyarakat. Namun, ia menilai belakangan muncul berbagai penyimpangan dari norma yang memicu kekhawatiran publik.
Menurut Chuong, salah satu masalah yang menonjol adalah kurangnya kejujuran dalam pertunjukan—termasuk praktik lip-sync—serta sikap ceroboh dan tidak bertanggung jawab dalam proses kreatif, terutama ketika penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin meningkat. Ia menyebut seminar ini digelar untuk menelaah situasi, menganalisis penyebab, dan mencari solusi guna melindungi nilai seni yang “sejati, baik, dan indah” dalam konteks baru.
Praktik lip-sync menjadi salah satu isu yang memantik banyak tanggapan. Seniman Rakyat Vuong Duy Bien—Wakil Presiden Persatuan Asosiasi Sastra dan Seni Vietnam dan Presiden Asosiasi Pengembangan Industri Budaya Vietnam—menilai lip-sync telah menjadi “penyakit” yang cukup umum di berbagai program seni, mulai dari teater anak-anak hingga acara berskala besar.
Ia berpendapat, sejumlah penyelenggara lebih mengutamakan faktor keamanan ketimbang nilai artistik, sehingga memilih memutar rekaman alih-alih menampilkan artis secara langsung karena khawatir dimintai pertanggungjawaban jika terjadi insiden. Vuong Duy Bien menilai penonton dapat mengenali lip-sync, misalnya ketika suasana hujan dan berangin tetapi suara terdengar “sesempurna studio rekaman”. Ia menyebut praktik tersebut sebagai “seni palsu” yang mengurangi nilai pertunjukan panggung.
Pandangan serupa disampaikan Seniman Rakyat Tran Quoc Chiem—Wakil Presiden Persatuan Asosiasi Sastra dan Seni Vietnam dan Presiden Persatuan Asosiasi Sastra dan Seni Hanoi. Ia mengatakan kejujuran dalam seni tidak hanya menyangkut apakah seseorang bernyanyi langsung atau lip-sync, tetapi juga terkait kostum, properti, dan bahasa pertunjukan secara keseluruhan.
Menurutnya, sejumlah program menampilkan kostum, desain panggung, dan lirik yang dianggap tidak pantas serta tidak selaras dengan budaya dan tradisi nasional. Ia menekankan pentingnya peran sensor dan pendidikan etika profesional bagi seniman muda. Tran Quoc Chiem juga menilai kostum atau efek panggung tidak dapat menutupi kecerobohan penampilan, karena emosi tulus dari suara nyanyian yang menjadi daya tarik utama bagi penonton.
Dari sisi kreativitas di era digital, penggunaan AI dalam musik turut menjadi topik perdebatan. Komposer Giáng Son, yang berpengalaman sebagai penulis lagu dan juri kompetisi musik, menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak AI bagi profesi. Ia menceritakan pengalaman saat menjadi juri dalam sebuah kompetisi, ketika seorang peserta mengirim 24 lagu yang dibuat menggunakan AI, yang mengejutkan dirinya dan panel juri.
Giáng Son menilai persoalan bukan semata pada teknologi, melainkan juga menyangkut “harga diri” seniman. Ia mendorong adanya regulasi dan sanksi yang jelas untuk membatasi penyalahgunaan AI dalam karya kreatif sekaligus melindungi etika profesional.
Sementara itu, Seniman Rakyat Tan Minh—Direktur Teater Musik dan Tari Thang Long—menawarkan pandangan yang lebih berimbang. Menurutnya, AI merupakan tren perkembangan global yang tidak dapat diabaikan dunia seni. Namun, ia menekankan teknologi seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti peran kreatif manusia.
Terkait lip-sync, Tan Minh mengakui adanya tekanan pendanaan, tuntutan teknis, dan karakter khusus tiap program. Ia menyebut tempat pertunjukan formal berbayar hampir selalu memprioritaskan pertunjukan langsung. Adapun pada program hiburan atau kegiatan berintensitas tinggi, demi alasan kesehatan, para artis kerap menggunakan musik latar untuk mendukung penampilan meski tidak sepenuhnya lip-sync. Ia menilai target pertunjukan 100% langsung perlu, namun membutuhkan peta jalan, strategi, dan perubahan yang tersinkronisasi dari penyelenggara, tim produksi, hingga para artis.
Dalam seminar tersebut, Wakil Kepala Departemen Propaganda dan Mobilisasi Massa Pusat, Tran Thanh Lam, menegaskan sastra dan seni merupakan bidang budaya yang sensitif. Ia menyatakan bahwa jika budaya adalah fondasi spiritual masyarakat, maka seni adalah “jiwa” yang paling hakiki dari fondasi itu.
Tran Thanh Lam menekankan teknologi hanya bermakna bila berkontribusi pada peningkatan kualitas kreativitas dan mengangkat emosi artistik, serta tidak dapat menggantikan kerja serius maupun ketulusan seorang seniman. Ia juga mengingatkan bahwa bentuk seni yang dibangun di atas rasa puas diri dan menukar kepercayaan publik dengan taktik penipuan pada akhirnya akan tersisih.
Ia mendorong asosiasi sastra dan seni memperkuat perannya sebagai “rumah bersama” melalui pelatihan profesional yang disertai perilaku etis. Ia juga meminta lembaga manajemen terus menyempurnakan mekanisme dan kebijakan yang sesuai dengan lingkungan digital, serta mengingatkan penyelenggara pertunjukan dan media agar menjadi “penjaga gerbang” yang tidak mempromosikan tren mudah, sembarangan, atau dangkal demi keuntungan atau interaksi.
Kepada seniman muda, Tran Thanh Lam berpesan agar terus belajar, mengasah keterampilan profesional, dan menjaga citra publik yang positif. Ia berharap setiap karya menjadi kontribusi bagi standar masyarakat Vietnam di era baru, yang mencakup patriotisme, kejujuran, tanggung jawab, dan kreativitas.