BERITA TERKINI
Seni Tradisional Menemukan Ruang Baru di Kota Ho Chi Minh lewat Pertunjukan Ruang Publik

Seni Tradisional Menemukan Ruang Baru di Kota Ho Chi Minh lewat Pertunjukan Ruang Publik

Upaya mendekatkan seni tradisional kepada publik perkotaan terus dilakukan di Kota Ho Chi Minh melalui rangkaian program pertunjukan di ruang terbuka. Teater Musik dan Tari Rakyat Nasional Bong Sen menggelar program promosi seni rakyat tradisional dan kontemporer di berbagai ruang publik, menghadirkan lebih dari 30 pertunjukan yang menyasar masyarakat luas, terutama generasi muda dan wisatawan internasional.

Berbeda dari pementasan di auditorium tertutup, pertunjukan dalam program ini ditempatkan di lokasi yang akrab bagi warga kota, seperti jalan pejalan kaki Nguyen Hue, Museum Peninggalan Perang, dan Museum Kota Ho Chi Minh. Formatnya dirancang rapi dan terkendali agar sesuai untuk ruang terbuka, sehingga mudah diakses penonton tanpa menghilangkan kedalaman artistik. Durasi pertunjukan juga disesuaikan agar orang dapat berhenti sejenak, menyaksikan, lalu melanjutkan aktivitasnya.

Model tersebut dinilai membantu “membuka pintu” seni tradisional ke kehidupan urban modern. Selain memperluas jangkauan, pendekatan ini memberi peluang bagi bentuk seni yang sebelumnya dianggap khusus untuk menjangkau audiens baru—terutama kalangan muda yang dipandang akan berperan menentukan masa depan warisan budaya.

Dalam konteks serupa, Teater Opera Tradisional Kota Ho Chi Minh menjadwalkan pertunjukan perdana opera tradisional Vietnam (hat boi) pada 2026 di Kuil Raja Hung (Jalan Nguyen Binh Khiem No. 2, Distrik Saigon, Kota Ho Chi Minh). Pertunjukan yang direncanakan berlangsung pukul 09.00 pada 18 Januari itu merupakan bagian dari rangkaian program seni Tahun Baru untuk mempromosikan hat boi melalui karya baru berjudul “Hien Than” (Dewa yang Berbudi Luhur). Agenda ini disebut menarik perhatian cukup besar dari penonton muda.

Setelah sempat terhenti selama beberapa bulan karena Kuil Raja Hung menjalani renovasi dan pemugaran, kabar kembalinya pertunjukan hat boi cepat menyebar di media sosial. Nguyen Thanh Hoai Truc (20), mahasiswa Universitas Saigon di Kota Ho Chi Minh, mengatakan ia dan teman-temannya biasa menonton hat boi di lokasi tersebut setiap Minggu pagi. Ia menyebut informasi dimulainya kembali pertunjukan diketahui melalui fanpage Museum Sejarah Kota Ho Chi Minh, lalu dibagikan di antara teman-temannya untuk merencanakan kunjungan, termasuk rencana mengenakan ao dai saat Tahun Baru Imlek.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana ruang publik yang tampak biasa dapat menjadi tempat seni tradisional merebut kembali posisinya dalam kehidupan kota. Ketika disajikan dengan cara yang fleksibel dan mudah diakses, warisan budaya tidak hanya “disimpan” di museum atau teater, tetapi dapat hadir berdampingan dengan masyarakat—khususnya audiens muda.

Membawa seni tradisional ke ruang publik juga mencerminkan kebutuhan inovasi dalam cara penyebaran budaya di lingkungan urban. Di tengah ritme hidup yang semakin cepat, masyarakat—terutama anak muda dan wisatawan internasional—cenderung mengakses seni melalui pengalaman yang singkat, langsung, dan ramah. Karena itu, pertunjukan luar ruang menjadi “titik sentuh” alami antara seni dan publik, memungkinkan orang menikmati budaya tanpa ritual apresiasi yang rumit.

Perwakilan Teater Musik dan Tari Rakyat Nasional Bong Sen menyampaikan bahwa membawa seni tradisional keluar dari ruang pertunjukan khusus merupakan arah yang telah lama dipertimbangkan. Dalam dinamika kota, seni tradisional dinilai tidak cukup hanya menunggu penonton datang, melainkan perlu proaktif menjangkau publik melalui format yang lebih lentur dan mudah diakses, terutama bagi generasi muda dan wisatawan internasional.

Pemilihan museum sebagai lokasi pertunjukan juga dinilai memiliki makna tersendiri. Ruang yang sarat memori sejarah, artefak, dan dokumentasi itu diperkaya dengan pengalaman yang lebih dinamis melalui musik dan seni pertunjukan. Perpaduan tersebut menciptakan hubungan antara masa lalu dan masa kini, antara ingatan sejarah dan kehidupan kontemporer, sekaligus membuat museum terasa lebih dekat dan menarik bagi publik.

Bagi wisatawan internasional, pertunjukan di ruang-ruang seperti museum memberi kesempatan merasakan budaya Vietnam bukan hanya lewat artefak dan penjelasan, tetapi juga melalui bahasa musik, gerak tubuh, dan emosi dalam seni tradisional. Dengan demikian, budaya tidak sekadar “dilihat”, melainkan juga “didengar” dan “dirasakan”, sehingga pengalaman menjadi lebih utuh dan berkesan.

Dari sudut pandang pengelolaan dan pengembangan budaya, penggabungan seni pertunjukan dengan ruang museum di Kota Ho Chi Minh dipandang sejalan dengan tren modern. Museum tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pajang, tetapi mulai memperluas perannya untuk meningkatkan interaksi dan pengalaman pengunjung, terutama audiens muda.

Pergeseran ini juga mencerminkan perubahan cara pandang: dari sekadar menampilkan apa yang dimiliki, menuju upaya memahami dan menanggapi harapan publik saat mengunjungi ruang warisan budaya. Ketika museum menjadi titik temu pendidikan, seni, dan pengalaman, ia tidak hanya menjadi destinasi budaya, tetapi juga sumber daya penting bagi pariwisata perkotaan dalam menghubungkan dan mengembangkan produk yang berkelanjutan.