Diskusi panel bertajuk “Ao Dai dan Lukisan” digelar dalam rangka pameran “Mimpi di Tengah Bunga Sore Hari”. Meski berlangsung dalam skala kecil, acara ini menarik banyak peserta yang berminat pada tema ao dai dan seni lukis.
Panel menghadirkan seniman Le Trang sebagai pemilik karya dalam pameran, Presiden Klub Warisan Ao Dai Vietnam Nguyen Thi Thanh Tam, seniman Chu Nhat Quang, serta MC sekaligus jurnalis Yen Khuong. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Klub Warisan Ao Dai Vietnam bekerja sama dengan Le Trang, sebagai bagian dari rangkaian program di berbagai daerah yang bertujuan menghormati, melestarikan, dan menyebarkan nilai budaya ao dai, sekaligus berkontribusi mendorong pengakuannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Umat Manusia.
Dalam diskusi, Nguyen Thi Thanh Tam menilai ao dai tidak hanya sebagai pakaian tradisional, melainkan juga “identitas merek” Vietnam di panggung internasional. Menurutnya, sekali melihat ao dai, orang dapat mengenali identitas Vietnam. Dalam konteks itu, ia memandang lukisan sebagai bentuk ekspresi yang baru, lebih mendalam, dan abadi untuk menceritakan warisan tersebut. Jika peragaan busana memperkenalkan ao dai lewat citra langsung, lukisan dinilai memiliki kemampuan melestarikan, menjaga, dan menyebarkan nilai spiritualnya yang bertahan lama.
Ia juga menyoroti karya-karya Le Trang yang dinilainya menghadirkan kesan lembut dan halus, namun tetap menggugah, serta menarik bagi kalangan muda.
Sementara itu, seniman Chu Nhat Quang menyampaikan pandangan bahwa ao dai merupakan simbol langka yang memadukan tradisi dengan kemampuan beradaptasi dalam kehidupan modern. Ia menekankan pentingnya menyaring esensi budaya dari tradisi, menampilkan aspek-aspek terindah yang telah dilestarikan, lalu menanamkannya dengan energi muda dan kreativitas generasi kini. Dengan cara itu, hubungan antara masa lalu dan masa kini dapat terjaga, sehingga keindahan ao dai terus berkembang lintas generasi.
Le Trang mengatakan, dalam pameran internasional, kurator dan kolektor melihat bahwa lukisannya tidak sekadar menggambarkan perempuan dalam ao dai, tetapi juga menceritakan budaya Vietnam, semangat, serta kekuatan batin masyarakat Vietnam.
Perancang ao dai Lan Huong turut berbagi pengalamannya saat bepergian ke luar negeri, ketika banyak orang menilai Ao Dai Vietnam—meski sangat sopan—tetap menampilkan keindahan sensual perempuan. Ia menilai, dalam lukisan Le Trang, sosok perempuan ber-ao dai tampak memiliki rasa kepuasan, dengan kesan mudah, anggun, dan lembut, sejalan dengan warna dan gaya yang dihadirkan sang seniman. Lan Huong juga berharap para perancang muda tetap menghormati identitas tradisional ao dai saat menciptakan karya.
Berbicara mengenai tafsir kreatif ao dai dalam lukisannya, Le Trang menegaskan bahwa baginya melukis ao dai bukanlah soal melukis pakaian, melainkan melukis orang yang mengenakannya. Ia berupaya membuat ao dai memantulkan perasaan batin, suasana hati, dan perilaku karakter. “Saya melukis ao dai dari jiwa karakter tersebut,” kata Le Trang.
Untuk menyampaikan keselarasan antara ao dai dan karakter, ia memilih menonjolkan suasana hati, perasaan batin, serta tingkah laku tokoh yang dilukis. Ia mengakui proses tersebut tidak mudah dan menuntut eksplorasi serta riset agar makna yang ingin disampaikan dapat terwujud dengan baik.
Dari sisi warna, Le Trang menyebut ia memilih ungu dan turquoise sebagai bagian dari upaya membangun gaya yang khas, dengan penggunaan beberapa lapisan warna yang ditumpuk satu sama lain.
Ia juga menggambarkan cat minyak sebagai “dunia tanpa batas” baginya untuk kembali, bercerita, atau melanjutkan perjalanan berkarya. Sejumlah karyanya membutuhkan waktu hingga dua tahun sebelum dipamerkan, sementara karya lain dapat selesai dalam beberapa minggu. Setiap karya, menurutnya, memiliki banyak lapisan warna, dan tiap lapisan menyimpan kisah: lapisan bawah mewakili hal-hal yang tidak terlihat oleh dunia, seperti kenangan atau kekuatan tersembunyi perempuan, sedangkan lapisan atas menghadirkan cahaya, warna, dan kelembutan. Karena itu, ia berharap penonton tidak hanya menikmati lukisan sekali, melainkan berulang kali melalui lapisan-lapisannya.
Melalui karya-karyanya, ao dai dalam lukisan Le Trang tampil bukan sekadar objek visual, melainkan juga medium bercerita yang ikut menyebarkan nilai warisan ao dai. Ia menghadirkan sentuhan yang perlahan, tetapi bertahan lama dan mendalam—sebagaimana keindahan ao dai itu sendiri.

