BERITA TERKINI
Sony Music Minta Penghapusan 135.000 Lagu Deepfake AI dari Platform Streaming

Sony Music Minta Penghapusan 135.000 Lagu Deepfake AI dari Platform Streaming

Industri musik global menghadapi tantangan baru seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Sony Music Entertainment meminta penghapusan sekitar 135.000 lagu hasil kreasi AI generatif yang diunggah oleh pihak tak bertanggung jawab ke berbagai platform musik digital.

Menurut Sony Music, lagu-lagu tersebut dibuat menggunakan teknologi deepfake untuk meniru suara musisi papan atas dunia, di antaranya Beyoncé, Queen, Bad Bunny, Miley Cyrus, dan Harry Styles. Konten ini kerap menyamar sebagai karya asli sehingga berpotensi mengecoh pendengar di layanan streaming.

Sony Music menilai menjamurnya lagu tiruan tersebut menimbulkan kerugian komersial langsung bagi musisi, terutama saat mereka sedang mempromosikan album atau single terbaru. Presiden Bisnis Digital Global Sony, Dennis Kooker, menyatakan bahwa dalam skenario terburuk, konten deepfake dapat mengganggu kampanye perilisan lagu hingga mencoreng reputasi artis.

“Masalah utama dari deepfake adalah mereka memanfaatkan momentum. Mereka mengambil keuntungan saat seorang artis sedang gencar mempromosikan musiknya,” ujar Kooker, dikutip dari BBC pada Kamis, 19 Maret 2026.

Kooker menambahkan, konten palsu tersebut sengaja dibuat untuk menyerap permintaan pasar yang telah dibangun oleh artis asli. Dampaknya, capaian yang semestinya diraih musisi dapat berkurang. “Di situlah deepfake berada pada titik terburuknya, membangun dan mengambil keuntungan dari permintaan yang diciptakan artis, dan akhirnya mengurangi apa yang ingin dicapai oleh artis tersebut,” lanjutnya.

Situasi ini memicu desakan dari industri musik dunia agar platform streaming besar seperti Spotify, YouTube, dan Apple Music menerapkan regulasi yang lebih ketat, termasuk peningkatan deteksi terhadap konten palsu.

Data Federasi Internasional Industri Fonograf (IFPI) memperkirakan sekitar 10% konten di platform streaming saat ini merupakan konten ilegal atau hasil manipulasi. CEO IFPI, Victoria Oakley, menekankan pentingnya penggunaan alat identifikasi otomatis untuk melabeli musik buatan AI sejak proses unggah.

Oakley juga mengapresiasi platform asal Prancis, Deezer, yang dinilai sudah selangkah lebih maju karena memiliki perangkat lunak pendeteksi AI. “Tantangan untuk mengidentifikasi dan melabeli materi AI adalah tantangan kritis berikutnya bagi industri ini,” kata Oakley.