BERITA TERKINI
Standard Chartered: Produksi dan Ekspor Tiongkok Kuat, Permintaan Domestik Masih Lemah

Standard Chartered: Produksi dan Ekspor Tiongkok Kuat, Permintaan Domestik Masih Lemah

Tiongkok dilaporkan mencapai target pertumbuhan ekonomi 5% pada 2025, dengan kinerja pada kuartal IV yang sebagian besar sejalan dengan ekspektasi pasar. Ekspor yang tangguh dan produksi yang kuat menjadi penopang utama, sementara sektor jasa tetap berperan sebagai faktor penstabil. Namun, permintaan domestik dinilai masih lemah, terutama akibat penurunan investasi, sehingga berpotensi memerlukan dukungan kebijakan tambahan, menurut ekonom Standard Chartered.

Dalam catatan mereka, Standard Chartered menyebut PDB Tiongkok tumbuh 4,5% secara tahunan (y/y) pada kuartal IV. Produksi industri disebut terdorong oleh ekspor yang kuat, dengan ekspor naik 5,5% sepanjang tahun dan mendorong surplus perdagangan barang mencapai rekor sekitar 6% dari PDB. Ekspor bersih diperkirakan menyumbang 1,6 poin persentase terhadap pertumbuhan utama.

Sektor jasa juga dinilai terus menopang pertumbuhan, antara lain didukung oleh pasar keuangan yang kuat. Di sisi lain, investasi melemah dan tidak hanya terbatas pada sektor perumahan. Konsumsi turut melemah pada kuartal IV seiring menurunnya efektivitas program tukar barang, meski data resmi masih menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang kuat.

Standard Chartered mencatat deflasi mereda menjelang akhir tahun, tetapi tekanan diperkirakan tetap ada mengingat ketidakseimbangan penawaran dan permintaan yang berkelanjutan. Kondisi tersebut dinilai dapat menekan keuntungan industri dan menghambat investasi. Mereka juga menyoroti penurunan tajam pinjaman baru dalam mata uang yuan (CNY) untuk rumah tangga dan bisnis.

Di sektor properti, penurunan investasi aset tetap (FAI) perumahan disebut semakin dalam dan membebani total FAI. Penurunan harga rumah juga dinilai memperlemah sentimen konsumen.

Untuk 2026, Standard Chartered memproyeksikan pertumbuhan 4,6%, dengan target resmi diperkirakan akan direvisi ke kisaran 4,5–5,0%. Pemerintah dinilai tengah memfokuskan kembali kebijakan pada transformasi ekonomi jangka panjang guna mencapai pertumbuhan yang lebih berkelanjutan, dengan dukungan kebijakan diprioritaskan untuk menjaga momentum. Stimulus diperkirakan lebih diarahkan ke pengembangan industri teknologi tinggi dan ramah lingkungan, serta mendorong konsumsi di sektor jasa.