Sebuah studi terbaru yang didukung AlphaTheta menemukan bahwa bergerak dan menari mengikuti musik elektronik berkaitan dengan penurunan kecemasan serta peningkatan perasaan bahagia, keterhubungan sosial, dan pengalaman imersif. Temuan ini menyoroti bahwa musik elektronik tidak hanya berperan sebagai hiburan, tetapi juga dapat memunculkan respons fisiologis yang terukur pada tubuh.
Riset ini digagas oleh Emma Marshall, pendiri organisasi Music And Movement Is Medicine (MIM), dan dipimpin Profesor Paul Dolan dari fakultas Behavioural Science di London School of Economics. Eksperimen dilakukan di Drumsheds, klub malam besar di London yang dikenal sebagai salah satu venue musik elektronik terbesar di Inggris.
Sekitar 60 peserta mengikuti sesi yang disusun bertahap. Tahapan dimulai dari mendengarkan musik secara tenang disertai latihan pernapasan, lalu bergerak sambil duduk, berlanjut ke posisi berdiri, hingga menari bebas mengikuti musik elektronik yang dimainkan DJ. Selama kegiatan, peserta memakai perangkat pemantau detak jantung, dan penelitian ini merekam lebih dari 600 ribu denyut jantung.
Hasil pengukuran menunjukkan perubahan yang menonjol pada tahap latihan pernapasan dan gerakan sambil duduk. Variabilitas detak jantung peserta dilaporkan meningkat hingga 18,5 persen. Dalam ilmu fisiologi, peningkatan variabilitas detak jantung kerap dikaitkan dengan sistem saraf yang lebih rileks dan stabil.
Peneliti juga mencatat fenomena ketika DJ menurunkan tempo musik pada bagian breakdown. Meski BPM melambat, detak jantung peserta tetap berada pada level tinggi. Kondisi ini diinterpretasikan sebagai tanda tubuh peserta memasuki keadaan imersif yang berkelanjutan, yakni tenggelam dalam pengalaman audio dan gerak.
Selain data fisiologis, peserta diminta mengisi laporan subjektif mengenai kondisi emosional setelah sesi berakhir. Hasilnya menunjukkan skor kecemasan menurun, sementara rasa senang dan perasaan terhubung dengan orang lain meningkat secara signifikan.
General Manager AlphaTheta, Mark Grotefeld, mengatakan penelitian ini memberi perspektif baru tentang peran musik dalam kehidupan manusia. “Kami selalu tahu bahwa musik bisa menggerakkan manusia, tetapi penelitian ini memberi gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana dan mengapa hal itu terjadi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa temuan tersebut membuka percakapan mengenai bagaimana peralatan yang digunakan DJ sehari-hari dapat berdampak pada fisiologi tubuh.
Profesor Paul Dolan menilai riset ini memperlihatkan bahwa perubahan BPM dalam musik elektronik memiliki pengaruh langsung terhadap respons tubuh. “DJ ternyata melakukan sesuatu yang signifikan secara fisiologis. Mereka bukan hanya memutar musik, tetapi juga mengarahkan sistem saraf manusia,” katanya.
Emma Marshall menekankan bahwa efek yang terlihat bukan semata hasil sampingan dari aktivitas menari. Menurutnya, struktur pengalaman yang dirancang secara spesifik dapat membawa tubuh melewati siklus emosional tertentu, dari kondisi tenang, meningkat, mencapai puncak, hingga kembali pulih.
Sementara itu, Managing Director Broadwick Live sekaligus pengelola Drumsheds, Luke Huxham, berharap hasil studi ini dapat menjadi salah satu dasar untuk mempertahankan keberadaan ruang musik dan klub malam di tengah tekanan regulasi serta perubahan kebijakan publik.