Depresi dan kecemasan disebut meningkat secara global sejak pandemi Covid-19 melanda. Wabah yang bermula dari Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019 itu dilaporkan telah menginfeksi lebih dari 36 juta orang, merenggut lebih dari 1 juta nyawa, serta memicu perlambatan ekonomi yang berdampak pada ratusan juta orang kehilangan pekerjaan.
Di Amerika Serikat, Washington Post pada edisi akhir Mei merilis data Biro Sensus AS yang menyebut sekitar sepertiga warga menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau depresi klinis. Angka tersebut dinilai meningkat drastis dibandingkan kondisi sebelum pandemi dan menjadi salah satu indikator dampak psikologis yang mengkhawatirkan.
Di tengah situasi itu, penelitian dari University of South Australia yang dirilis pada Agustus lalu menawarkan temuan yang dinilai memberi harapan. Studi tersebut menyimpulkan bahwa menggerakkan otot-otot wajah hingga membentuk ekspresi senyum dapat memengaruhi pikiran sehingga seseorang cenderung merasa lebih positif. Dalam siaran persnya, universitas itu menyebut temuan tersebut relevan dengan meningkatnya kecemasan dan depresi selama krisis Covid-19.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Experimental Psychology volume 67 itu menyebut tersenyum—termasuk senyum yang dibuat-buat—dapat berdampak positif pada suasana hati. Salah satu peneliti, Fernando Marmolejo-Ramos, menjelaskan bahwa ketika otot wajah “mengirim sinyal” seolah seseorang bahagia, orang tersebut lebih mungkin memandang sekelilingnya secara lebih positif.
Dalam studi itu, peneliti melibatkan 120 peserta yang terdiri dari 55 laki-laki dan 65 perempuan. Para peserta diminta menggigit pena di antara gigi, sehingga otot wajah dipaksa meniru gerakan senyum. Tim peneliti menyimpulkan bahwa aktivitas otot wajah tersebut tidak hanya mengubah ekspresi, tetapi juga memunculkan emosi yang lebih positif.
Marmolejo-Ramos mengatakan gerakan otot saat tersenyum dapat merangsang amigdala—bagian otak yang berperan dalam pemrosesan emosi—untuk melepaskan neurotransmitter yang mendorong keadaan emosional positif. Neurotransmitter merupakan senyawa kimia dalam tubuh yang menyampaikan pesan antar sel saraf. Menurut dia, bila otak dapat “dikelabui” untuk menganggap rangsangan sebagai kebahagiaan, mekanisme ini berpotensi dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan kesehatan mental.
Margaretha, pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, menilai studi tersebut berkaitan dengan upaya mengubah proses di otak. Ia menjelaskan, selama ini perubahan dapat dilakukan melalui tiga jalur: fisiologis, perilaku, dan cara berpikir.
Perubahan fisiologis, kata Margaretha, dapat terjadi melalui penambahan hormon tertentu untuk menurunkan stres. Ia menyebut kadar serotonin yang rendah dapat berkaitan dengan depresi, sehingga pada kondisi tertentu diperlukan suplemen hormon untuk membantu kestabilan emosi.
Sementara perubahan perilaku dapat dilakukan melalui perilaku yang tampak maupun tidak tampak. Keduanya dapat mengubah stimulus yang masuk ke otak, lalu diproses untuk memunculkan respons neurologis. Dalam konteks penelitian University of South Australia, ia menilai pendekatan yang digunakan termasuk perilaku yang tidak tampak, yakni memaksa otot wajah bergerak seperti sedang tersenyum melalui cara menggigit pena.
Margaretha juga mencontohkan riset lain yang mendorong perubahan otak melalui perilaku yang tampak, misalnya pada peningkatan kepercayaan diri. Menurut dia, orang yang kurang percaya diri cenderung menampilkan postur mengecil dan kontak mata rendah. Dengan meminta seseorang membusungkan dada dan membuat kontak mata lebih langsung, perubahan itu dapat memengaruhi informasi yang masuk ke otak dan, seiring waktu, memunculkan rasa percaya diri.
Dalam pengalamannya menangani depresi ringan, Margaretha mengatakan orang sering terfokus pada persoalan hidup dan mudah masuk ke “spiral” kesedihan. Ia menggunakan pendekatan perilaku kognitif dengan memberi tugas untuk menyapa dan tersenyum kepada setidaknya lima orang per hari. Menurut dia, cara itu memaksa individu keluar dari kecenderungan menutup diri, sekaligus menghadirkan umpan balik sosial karena orang lain cenderung membalas senyum. Ia menilai situasi tersebut lebih alami dibanding metode menggigit pena.
Jalur ketiga untuk memengaruhi proses di otak, lanjut Margaretha, adalah perubahan cara berpikir. Ia menjelaskan bahwa pengulangan kata-kata tertentu hingga diyakini dapat mengubah pikiran, yang kemudian memengaruhi cara pandang dan pada akhirnya berpengaruh pada cara otak bekerja.
Margaretha menekankan otak menjadi sasaran perubahan karena fungsinya mengatur seluruh tubuh. Menurutnya, ketika otak lebih rileks, tubuh cenderung memproduksi hormon dengan tingkat stres lebih rendah. Sebaliknya, bila otak mempersepsikan stres tinggi, tubuh akan memproduksi hormon untuk menghadapi stres, yang dapat berdampak pada berbagai organ jika berlebihan.
Meski menganggap temuan University of South Australia menarik, Margaretha mengingatkan agar berhati-hati menyebutnya sebagai terobosan kesehatan mental. Mengutip Badan Kesehatan Dunia (WHO), ia menyebut komponen kesehatan mental mencakup empat kemampuan: produktif, menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari, aktualisasi bakat dan potensi diri, serta produktif untuk komunitas. Ia menekankan kesehatan mental tidak semata soal ada atau tidaknya gangguan mental, apalagi sekadar bahagia atau tidak bahagia.
Terkait pemanfaatan temuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, Margaretha menyarankan untuk melihat terlebih dulu akar penyebab stres. Jika pemicunya merupakan masalah yang perlu diselesaikan, strategi penyelesaian harus dicari. Namun bila persoalannya lebih pada pengelolaan emosi, ia menyebut beberapa cara dapat dicoba, misalnya mendengarkan lagu yang riang atau bernada cepat, termasuk membuat senyum dengan menggigit pensil seperti dalam penelitian.
Menurut Margaretha, pendekatan semacam itu mungkin membantu pada depresi ringan. Namun untuk depresi berat, ia menilai masalahnya cenderung lebih mengakar dan tidak cukup ditangani dengan cara-cara sederhana, melainkan membutuhkan intervensi obat-obatan psikoterapi.

