Sastrawan Indramayu, Supali Kasim, meluncurkan buku antologi puisi berbahasa Jawa Dermayu berjudul Desa Mawa Lelara, Nagri Mawa Memedi. Peluncuran buku yang merangkum lebih dari 115 halaman puisi itu digelar di Halaman Gedung Kesenian Mama Soegra, Indramayu, pada Minggu malam, 1 Maret 2026.
Supali menyampaikan, antologi tersebut lahir dari teks yang dibangun dengan latar konteks yang majemuk, mulai dari sosial, budaya, hingga politik. Menurutnya, pada masa kini banyak hal yang perlu disuarakan, dan puisi menjadi salah satu medium untuk mengekspresikan gagasan, melakukan kontemplasi, sekaligus menyampaikan aspirasi.
Ia juga menautkan perspektif dalam puisinya dengan religiusitas. “Konsep itu akhirnya lahir, dengan menafsirkan puisi-puisi sebagai religiusitas dan perlawanan kultural,” ujarnya.
Selain dibaca sebagai karya sastra, Supali menilai puisi-puisi dalam antologi itu dapat diinterpretasikan melalui cabang seni lain, seperti seni pembacaan, musik (piano), tari kontemporer, maupun seni rupa berupa lukisan.
Peluncuran buku melibatkan sejumlah unsur yang dinilai memiliki frekuensi serupa dalam ekspresi kultural, di antaranya komunitas DKI (Dewan Kesenian Indramayu), LBSD (Lembaga Basa lan Sastra Dermayu), LKI (Lembaga Kebudayaan Indramayu), serta kelompok-kelompok sanggar. Supali juga menyebut kehadiran seorang seniornya yang pernah menjabat Ketua FSI (Forum Sastra Indramayu) dan kini menjadi Sekretaris Umum MUI Kabupaten Indramayu.
Acara turut dihadiri budayawan, sastrawan, serta pecinta sastra dari sejumlah daerah, seperti Cirebon dan Majalengka. Mereka menyambut kehadiran buku tersebut dan berharap dapat memicu tumbuhnya minat baca dan menulis sastra Jawa.
Rangkaian peluncuran diisi pembacaan puisi Jawa Dermayu karya Supali Kasim oleh Sapta Guna, Uca M Sarna, Koernadi Calzoum, Candhra R. Pangeran, Ray Mengku Sutentra Boedi Purnomo, dan Adeeva A.M Firoos. Suasana kemudian dihidupkan melalui persembahan “puisi swara” dengan iringan piano oleh Hadi Santoso dan Indira Prajnaparamita.
Pertunjukan juga menghadirkan puisi tari kontemporer bertema kebangsaan oleh maestro tari Wangi Indria, dilanjutkan puisi tari oleh Iing Sayuti. Sementara itu, Saitor Hidayat menampilkan “puisi rupa” dengan menghadirkan gagasan lukisan di atas kanvas sebagai bagian dari panggung pertunjukan bertajuk Wates.
Usai rangkaian performance art, acara dilanjutkan dengan diskusi dan bedah buku. Narasumber yang hadir antara lain Adlan Da’ie—mantan Ketua Forum Sastra Indramayu (FSI) sekaligus Sekretaris MUI Kabupaten Indramayu—serta Sapta Guna, yang pada awal acara juga menyampaikan kultum bertajuk “Mbedar Puisi”. Diskusi tersebut menghadirkan Supali dan Aurelie, dengan Faris Al Faisal sebagai moderator.
Dalam pemaparannya berjudul “Deres Puisi, Laku Batin, Memendan Luka Peradaban,” Adlan Da’ie memberikan catatan mengenai dunia kepenyairan. Ia menekankan bahwa puisi merupakan “laku batin” yang tidak mungkin diringkas dalam satu definisi. Menurutnya, memahami puisi semata-mata dari sudut pandang dan standar literasi ilmiah berisiko menjadi simplifikasi yang hanya menyentuh “kulit luar” puisi.
Apresiasi juga disampaikan Edi, penikmat seni budaya yang menjabat Sekretaris Dewan Kesenian Indramayu (DKI), yang berharap peluncuran antologi ini memberi dampak positif bagi geliat sastra dan kebudayaan di Indramayu.

