Tadarus Sastra yang diinisiasi Yayasan Serayu Penawara bersama Sanggar Seni Samudra menyedot antusiasme masyarakat dengan menghadirkan konsep yang lebih inklusif. Dalam gelaran kali ini, karya sastra tidak hanya dibacakan, tetapi juga disampaikan dengan bahasa isyarat agar dapat dinikmati penyandang disabilitas, khususnya penonton tuli.
Acara berlangsung di Cafe Bahenol, Karangklesem, Purwokerto Selatan, Banyumas, pada Jumat malam, 13 Maret 2026. Perpaduan pembacaan karya dan penggunaan bahasa isyarat disebut menjadi terobosan untuk memastikan kawan-kawan tuna rungu tetap dapat meresapi nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam bait-bait sastra.
Pertunjukan dikemas dengan penampilan yang disebut mengagumkan. Di tengah bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Tadarus Sastra malam itu tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan turut menghadirkan percikan nilai spiritualitas. Setelah sebelumnya Sanggar Seni Samudra menggelar “Sastra Sulap Puitik” oleh Yoga Bagus Wicaksana, acara kali ini melangkah lebih jauh dengan menekankan aksesibilitas melalui bahasa isyarat.
Salah satu momen emosional hadir ketika Tejo, seniman asal Susukan, Banjarnegara, membawakan puisi “Razan” karya Helvy Tiana Rosa. Puisi tersebut memotret penderitaan dan keberanian relawan medis di Gaza, Palestina. Salah satu petikan bait yang dibacakan berbunyi, “Razan, kilau keberanian dan ketulusan... dua puluh satu tahun di jubah putihmu telah memperpanjang napas cinta dunia yang kian sekarat.”
Tejo menilai pembacaan puisi semacam ini merupakan langkah awal yang baik. Namun, ia menekankan pentingnya penguatan pada karya tulisan bagi para pegiat seni ke depan. “Akting bagi pegiat seni memang penting, namun kekuatan tulisan juga tidak boleh diabaikan,” ujarnya, menekankan pentingnya literasi produktif.
Suasana kemudian menghangat lewat penampilan Joni Jonte yang membawakan puisi berbalut tembang dan iringan musik. Ia mengajak penonton bernostalgia pada masa kecil, ketika pujian-pujian kerap menggema dari surau dan masjid desa. Dengan gaya jenaka namun sesekali satir, Joni menyentil fenomena modernitas masjid yang semakin megah, tetapi dinilai kadang kehilangan keriuhan pujian tradisional. Ia juga menyampaikan pesan tentang kedisiplinan salat lima waktu.
Selain menarik minat generasi muda, termasuk siswa SMA dan mahasiswa, acara tersebut juga dihadiri para tokoh dan maestro seni. Kehadiran lintas generasi itu menegaskan Tadarus Sastra sebagai ruang pertemuan sekaligus perayaan kesenian yang berupaya lebih ramah bagi semua kalangan.

