Harga nikel dunia diperkirakan berpeluang menembus US$20.000 per ton dalam waktu dekat, seiring kepastian pemerintah Indonesia memangkas target produksi bijih nikel tahun ini menjadi sekitar 250–260 juta ton. Target tersebut turun dari realisasi produksi tahun lalu yang mencapai 379 juta ton.
Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo, Wahyu Laksono, menilai peluang kenaikan harga didukung oleh dua faktor utama: kepastian pemangkasan produksi bijih nikel dan belum terbitnya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Ia mengatakan, apabila persetujuan RKAB 2026 tidak kunjung keluar dalam waktu dekat, harga nikel dunia berpotensi melonjak dari kisaran US$18.000 per ton.
“Secara teknikal dan fundamental, estimasi angka yang bisa dicapai US$20.000/ton. Tergantung seberapa lama RKAB ‘nyangkut’,” kata Wahyu kepada Bloomberg Technoz, dikutip Senin (19/1/2026).
Wahyu juga menyebut, sepanjang 2026 harga nikel berpeluang bergerak hingga US$25.000 per ton seiring keputusan Indonesia menurunkan target produksi bijih nikel. Namun, ia menilai ruang kenaikan lebih lanjut akan terbatas karena persediaan nikel di London Metal Exchange (LME) masih tergolong tinggi.
“Dengan kuota yang dipangkas harga akan stabil di level tinggi namun cenderung melandai karena stok LME masih cukup tinggi,” ujarnya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya memastikan target produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 akan dipangkas menjadi sekitar 250–260 juta ton, dari RKAB tahun lalu yang tercatat 364 juta ton. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan penetapan target tersebut akan disesuaikan dengan kapasitas produksi smelter nikel di Indonesia.
“Nikel kita sesuaikan dengan kapasitas produksi dari smelter. Kemungkinan sekitar 250, 260 [juta ton]. Tahun ini kemungkinan sekitar segitu 250, 260 [juta ton] lah,” kata Tri saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Rabu (14/1/2026).
Dalam kesempatan terpisah, Tri mengakui persetujuan RKAB 2026 belum diterbitkan pada awal Januari karena masih ada pembahasan penyesuaian produksi sejumlah komoditas pertambangan dengan tujuan menjaga harga tahun ini. Ia mengatakan pembahasan tersebut diklaim akan tuntas dalam waktu dekat.
“Enggak, sampai saat ini untuk yang RKAB tahunan 2026 belum memang. Ada beberapa penyesuaian karena terkait dengan produksi. Itu saja. Akan tetapi, sedikit lagi sudah [tuntas pembahasannya],” kata Tri saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin (5/1/2026).
Tri menegaskan perubahan itu merupakan penyesuaian. “Bukan pemangkasan [produksi], penyesuaian lah. Penyesuaian. Ya dikit lah [dipengaruhi rencana pemangkasan produksi],” ujarnya.
Sambil menunggu terbitnya persetujuan RKAB 2026, Kementerian ESDM memberikan relaksasi agar perusahaan tambang tetap dapat beroperasi selama tiga bulan ke depan. Dalam relaksasi tersebut, produksi dibatasi sebesar 25% dari RKAB 2026 versi tiga tahunan. Tri menyebut angka itu ditetapkan secara proporsional karena merepresentasikan produksi selama tiga bulan.
Di pasar, harga nikel pada pagi ini tercatat US$17.578 per ton di LME, turun 5,34% dibanding penutupan hari sebelumnya. Nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000 per ton pada Maret 2022 akibat short squeeze, namun sejak itu harganya menurun tajam.
Sepanjang 2024, harga nikel sempat menyentuh level terendah dalam empat tahun terakhir. Saat itu, lengan riset Fitch Solutions Company, BMI, mencatat proyeksi harga yang sebelumnya diperkirakan mencapai US$18.000 per ton diturunkan dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000 per ton.

