BERITA TERKINI
Tari Kreatif Pakakas Sunda di SD Muhammadiyah Tasikmalaya, Upaya Pelestarian Budaya Lewat Gerak

Tari Kreatif Pakakas Sunda di SD Muhammadiyah Tasikmalaya, Upaya Pelestarian Budaya Lewat Gerak

Di tengah arus globalisasi dan dominasi budaya populer digital, upaya menjaga akar budaya lokal menjadi tantangan bagi dunia pendidikan. Di SD Muhammadiyah Tasikmalaya, pelestarian budaya dicoba melalui cara yang berbeda: bukan lewat ceramah atau hafalan, melainkan lewat gerak, irama, dan kreativitas siswa.

Melalui pembelajaran tari kreatif berbasis pakakas Sunda—peralatan rumah tangga tradisional seperti se’eng, aseupan, hihid, korang, dan koja—sebanyak 32 siswa kelas IV hingga VI diajak mengenali kembali warisan budaya leluhur. Program ini berlangsung selama 18 pekan dengan pendekatan BASTE (Body, Action, Space, Time, Energy) sebagai kerangka eksplorasi gerak.

Hasil program menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap pakakas Sunda dari 25 persen menjadi 85 persen. Apresiasi terhadap budaya lokal naik dari 15 persen menjadi 90 persen. Peningkatan juga tercatat pada eksplorasi gerak kreatif sebesar 70 persen, perkembangan karakter 58 persen, dan keterampilan motorik 52 persen. Secara rata-rata, capaian belajar meningkat 63 persen.

Dalam program ini, pakakas Sunda diposisikan bukan sekadar benda sehari-hari, melainkan sarana untuk memahami nilai. Se’eng (nyiru) dipahami sebagai simbol ketelitian dan kebersihan, aseupan menanamkan kesabaran dan proses, hihid (sapu tradisional) memuat makna kerja keras dan konsistensi, korang merepresentasikan rasa syukur atas panen, sementara koja mencerminkan kerapian dan keteraturan.

Nilai-nilai tersebut tidak disampaikan secara verbal semata, tetapi diterjemahkan menjadi bahasa tubuh. Melalui elemen Body, siswa mengeksplorasi bagian tubuh yang bergerak. Action mengarahkan pemahaman jenis gerak seperti memutar, mengayun, membuka, dan menutup. Space mengajak siswa mengenali ruang personal dan ruang umum. Time melatih kepekaan terhadap ritme dan tempo. Sementara Energy membangun kesadaran kualitas gerak—kuat, lembut, stabil, atau eksplosif.

Beberapa pakakas menjadi sumber inspirasi gerak yang spesifik. Se’eng memunculkan gerak membuka-menutup dan rotasi. Aseupan mendorong eksplorasi keseimbangan vertikal. Hihid mengarahkan gerak lokomotor menyerupai aktivitas menyapu dengan ritme teratur. Korang memunculkan dinamika putaran besar yang ekspresif. Koja melatih ketepatan dan kontrol detail. “Anak-anak tidak hanya menari. Mereka memahami makna di balik gerak,” ujar salah satu guru seni budaya yang terlibat dalam program tersebut.

Pembelajaran ini dinilai sejalan dengan paradigma Merdeka Belajar yang menekankan kontekstualisasi materi sesuai lingkungan sosial-budaya siswa. Pendekatan berbasis budaya lokal juga dipandang lebih efektif untuk menanamkan nilai karakter dibandingkan pendekatan abstrak.

Penilaian menggunakan rubrik menunjukkan 94 persen siswa berada pada kategori “Baik” dan “Sangat Baik” pada aspek kreativitas gerak, pemahaman budaya, keterampilan motorik, keterlibatan afektif, serta kolaborasi kelompok. Tidak ada siswa yang masuk kategori “Perlu Bimbingan”. Keterlibatan afektif—yang mencakup semangat, rasa bangga, dan partisipasi aktif—menjadi aspek dengan nilai tertinggi.

Di puncak program, lima koreografi tari kreatif dipentaskan di hadapan lebih dari 150 penonton yang terdiri atas guru, orang tua, dan masyarakat sekitar. Pertunjukan ini menjadi ruang diseminasi sekaligus menunjukkan bahwa budaya lokal dapat tampil relevan dan segar di tangan generasi muda.

Program di SD Muhammadiyah Tasikmalaya tersebut memberi gambaran bahwa pelestarian budaya tidak harus bersifat nostalgik atau defensif. Tradisi bisa dihidupkan sebagai ruang kreatif yang dialogis—ketika pakakas Sunda hadir lewat tubuh dan imajinasi anak-anak, warisan budaya tidak berhenti sebagai artefak masa lalu, melainkan menjadi bagian dari energi masa depan.